Saturday, January 5, 2019

Tips Mencuci Piring Yang Baik

05 Januari 2019

Maaf sebelumnya, tapi mata Readers tidak salah membaca. Itu memang judul yang saya tulis untuk cerita kali ini, berdasarkan permintaan salah satu readers sekaligus guru menulis dan kakak senior serta teman baru yang baik.

Jangankan Readers, saya pun kaget mendengar sarannya. "Saran aneh, tapi lucu." pikir saya saat Kak Miyo menyarankannya, tapi baiklah saya akan memberikan tips mencuci piring yang baik kali ini.

Hmm ... bagaimana ya mulainya? Sebenarnya saya tipe orang yang santai, tidak begitu memikirkan hasil yang penting prosesnya tapi berhubung Ibu Suri (baca : Mama) di rumah seorang yang perfeksionis, maka saya pun akhirnya mengikuti titahnya dalam hal sekecil apapun termasuk mencuci piring.

Baiklah, sepertinya pembukaan cukup dengan tiga paragraf (padahal kebanyakan), jadi inilah tips mencuci piring yang baik menurut Ibu Suri dan saya juga pada akhirnya. Semoga bermanfaat, selamat mempraktekkan ya, Readers.

Tips Mencuci Piring yang Baik :

1. RAPIKAN PIRING-PIRING DAN GELAS KOTOR.

Maksudnya bukan memasukkan piring kotor dan kawan-kawannya ke rak piring, tapi pisahkan antara piring dengan piring, gelas dengan gelas juga, dan panci serta wajan disatukan dengan yang besar-besar juga.

2. KUMPULKAN SAMPAH SISA MAKANAN YANG MENGGENANG

Bukan untuk diolah menjadi makanan kembali, tapi masukkan ke dalam palstik lalu buang ke tempat sampah. Jangan lupa, plastik sampahnya diikat kencang supaya tidak berantakan. Kasihan petugas sampahnya, tidak perlu dijabarkan, cukup bayangkan saja bagaimana jika Readers jadi petugas sampah.

3. RACIK AIR SABUNNYA.

Tuangkan sedikit cairan pencuci piring ke dalam wadah berisi air secukupnya. Ingat, jangan dicicipi karena bukan untuk diminum  tapi untuk mencuci piring!

4. MULAILAH DENGAN BISMILLAH

Jika poin 1-3 sudah dilakukan, mulailah dengan membaca basmalah, dan lakukan mulai dari gelas, piring, kemudian baru peralatan yang besar-besar seperti wajan, panci dengan tutup-tutupnya, ulekan, dll.

5. SUSUN SEMUA DENGAN RAPI

Perlu diketahui, saya selama ini menyusun piring mulai dari yang paling besar di bawah hingga yang paling kecil di atas sebelum dicuci, maka setelah dicuci piring yang paling kecil akan berada di bawah agar setelah dibilas susunannya kembali seperti saat sebelum dicuci.

6. LANGSUNG RAPIKAN KEMBALI KE RAK PIRING.

Setelah semua selesai, jangan menunda waktu untuk merapikannya ke dalam rak piring. lap wastafel sampai kembali kering supaya tidak becek, dan akhiri dengan membaca hamdallah. Alhamdulillah, selesai sudah tugas Readers mencuci piring.

Semoga tips ini bermanfaat untuk Readers semua. Walau terkesan tips recehan, tapi ingatlah pepatah "jangan lihat dari sisi recehnya, tapi lihat dari manfaatnya," atau bahasa kerennya don't judge the book by its cover.

Siapa tahu tips ini dibaca oleh remaja yang belum bisa mencuci piring dan sering diomeli oleh Ibu Surinya juga. Aamiin.

Insyaa Allah besok saya akan memberitahukan tips mencuci pakaian yang baik, so don't miss it!

#tamat

Friday, January 4, 2019

Atap Langit

04 Januari 2019

Berhubung saya tidak mungkin cerita tentang pekerjaan rumah di blog tiap hari, jadi malam ini saya ingin bercerita tentang hobi menulis saya.

Awal menulis tahun 2014. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya masuk ke sebuah grup menulis di facebook. Mungkin ada yang memasukkan saya ke sana, karena melihat banyaknya catatan di akun sosmed yang pertama saya miliki itu.

Di grup bernama KBM itu, saya mencoba rajin menulis dengan serius. Sering mengikuti event-event yang diadakan, meski dengan hadiah seadanya dan tidak pernah berhasil. Sempat down loh saya! galau tidak mau menulis lagi, merasa putus asa karena berpendapat sendiri bahwa tulisan saya jelek jadi tidak pernah menang event dan akhirnya merasa tidak pantas menjadi penulis.

Singkat cerita, saya benar-benar berhenti menulis selama beberapa bulan, sampai akhirnya masuk ke grup menulis lain bernama Lovrinz and Friends. Alhamdulillah, di sana semangat kembali muncul, tulisan berangsur membaik dan bisa kembali mengikuti event-event berhadiah pulsa seperti di KBM walau tetap jarang menang.

Di Lovrinz saya mendapat banyak dorongan untuk membuat buku, dan Alhamdulillah ada tulisan saya yang terpilih untuk dimasukkan dalam buku antologi bersama teman-teman satu grup. Hal itu seperti keran yang terbuka bagi saya.

Tulisan yang lain pun bisa masuk ke dalam buku antologi lain, sayangnya saya lupa beberapa judulnya tapi ada satu yang saya berikan ke Mas Boim Lebon penulis sitkom OB. Waktu itu saya nekad mendekati Mas Boim Lebon dan berkata, "Mas, ini buku antologi pertama saya untuk Mas Boim ... siapa tahu Masnya tertarik dan bisa dijadikan film." Dan sampai sekarang belum ada jawaban.

Setelah itu buku antologi terus bermunculan, dan yang saya ingat salah satunya berjudul Dwilogi Matahari lalu kemudian Ledakan yang dibuat bersama teman-teman satu angkatan di kelas menulis offline bernama Forum Lingkar Pena atau FLP.

Sebelum Ledakan, saya nekad membukukan semua tulisan gagal event saya di penerbit SP atau Self Publishing Lovrinz and Friends dan diberi judul Hujan di Atas Kertas. Itupun setelah berpikir ratusan kali, dan mengingat salah satu nasihat Pak Isa Alamsyah yang paling kuat ....

" ... MINIMAL SATU BUKU SEBELUM MATI!" Sengaja saya buat besar semua, supaya readers yang ingin menjadi penulis juga menjadi semangat memiliki buku sendiri seperti saya.

Alhamdulillah, sampai detik ini saya sudah memiliki kurang lebih 10 buku dengan 2 buku sendiri dan beberapa buku antologi.

Yup, 2 buku. pertama Hujan di Atas Kertas, kedua berjudul Atap Langit yang baru saja terbit akhir tahun 2018 di penerbit indie Hazerain Publisher.

Atap Langit bercerita tentang seseorang yang memiliki kelebihan, namun tidak mendapat kepercayaan dari kedua orangtuanya hingga memutuskan untuk mencari jati diri hingga menemukan hal-hal yang mengubah hidupnya.

Penasaran? hubungi saja Penerbit Hazerain Publisher di 081311963510.

Oya, maaf ya kalau tulisan ini mengandung sedikit iklan? namanya manusia, kan boleh saja berusaha namun hasil akhir pasti Allah yang menentukan.

#tamat




Thursday, January 3, 2019

03 Januari 2019

Assalamualaikum Readers, apa kabar hari ini? semoga kalian selalu dilindungi Allah ... Aamiin.

Readers, hari ini masih belum ada yang istimewa dari kegiatan saya. Seperti biasa, saya hanya melakukan kegiatan yang sama seperti kemarin. Yang berbeda hanya pekerjaan utamanya, kalau kemarin mencuci baju maka hari ini menggosok. Sengaja saya lakukan bergantian, supaya tidak bosan dan kelelahan jika melakukan keduanya sekaligus.

Penting gak sih, saya cerita pekerjaan rumah begini? anggap saja penting, dan jangan ada yang protes! Lagi pula tadi saya tidak melakukan apapun. Hari ini rasa malas menerjang dengan kencang, hingga saya tidak bisa berkutik dan alhasil hanya bermalas-malasan di atas kasur.

"Masa bodoh dengan pekerjaan rumah!" ucap saya dalam hati, saat melirik tumpukan pakaian yang menunggu untuk diseterika. Alih-alih memegangnya, saya justru memegang gawai kesayangan lalu mengecek beberapa akun sosmed pribadi.

Eits, tunggu dulu! saya memegang gawai bukan hanya untuk menulis status unfaedah, atau selfie-selfie melainkan untuk berdagang.

Yups! saya selama ini mengatasi kebosanan melakukan hal yang itu-itu saja, dengan menulis dan berdagang. Menulis sebagai terapi jiwa, sedangkan berdagang sebagai hiburannya. Meski belum menjadi pedagang ahli, setidaknya dengan berdagang saya bisa mendapatkan rupiah walau sedikit. Prinsip saya, lebih baik menghasilkan sedikit tapi dari usaha sendiri, daripada banyak tapi dari belas kasihan orang lain.

Harapan saya dari menulis dan berdagang buku hanya satu tapi panjang, yaitu bermanfaat untuk semua orang dan menghasilkan uang. Wajar kan, pengangguran mana yang menolak uang?

Akhirnya, hari ini pun memberi saya satu pelajaran. Apapun pekerjaannya, jangan ditunda untuk dilakukan. kalau bisa dikerjakan sekarang, kenapa harus menunggu nanti? melakukan me time boleh-boleh saja, asal jangan sampai membuat pekerjaan jadi terbengkalai dan ingat satu hal ... lakukan me time mu dengan sesuatu yang bermanfaat, lebih bagus lagi kalau bermanfaat dan menghasilkan.

#tamat


Wednesday, January 2, 2019

Hari-hari Re 2

02 Januari 2019

Jujur, sebenarnya hari ini tidak ada yang spesial seperti kemarin. Semua dijalani sebagai rutinitas yang sama seperti sebelum-sebelumnya, mulai dari bangun pagi hingga pergi tidur di malam harinya.

hari ini kegiatan saya sama seperti ibu-ibu rumah tangga lain, meski bukan ibu-ibu. pagi hari diawali dengan ... o ya, maaf sebelum cerita dilanjutkan sepertinya perlu  diberitahu dulu bahwa  saya tidak akan menceritakan sisi kerohanian diri. Bukan sombong atau entah apa namanya, tapi biarlah hal itu jadi privasi saya dengan Allah saja, tidak perlu diumbar-umbar untuk menghindari riya dalam diri.Semoga readers mengerti.

Sampai mana tadi? ah, ya betul! Pagi hari saya diawali dengan kritikan dari Mama, karena saya memulai dengan mencuci piring, bukannya menanak nasi. Padahal maksud saya supaya tidak sempit dengan tumpukan piring kotor di wastafel jadi lebih leluasa mencuci beras. Tapi menurut Mama harusnya mendahulukan menanak nasi baru mencuci piring agar bisa cepat sarapan.

Tapi ya sudahlah, toh cuma beda di waktu saja. Hanya masalah lebih dulu yang mana untuk dilakukan, its no big deal.

Setelah selesai dua hal itu (mencuci piring dan menanak nasi) saya menyapu lantai lalu mengepel, kemudian lanjut mencuci baju. Sesimpel itu hidup saya tiap harinya, namun semua harus disyukuri supaya lebih ikhlas menjalani.

Renungan saya lakukan sambil mengetik ini. Jalani hidup dengan ikhlas, penuh syukur, just focus on Allah supaya kuat menghadapi hidup. Kalau tidak kuat juga, lambaikan tangan ... oh, bukan! maksudnya, kalau dirasa-rasa sudah mengalami kebosanan menjalani hidup segera cari kesibukan lain yang sesuai dengan hobi.

Berhubung saya sudah cool alias jarang bicara sejak lahir, maka saya memilih menulis/mengetik sebagai penghilang rasa bosan. menulis/mengetik menjadi hobi yang bermanfaat, bukan hanya pelipur lara tapi juga terapi bagi jiwa yang kerontang ini #halah.

Dan karena mata sudah lima watt, maka renungan selesai saja sampai di sini. Semoga readers selalu diberi kebaikan dunia akhirat oleh Allah, Aamiin!

#tamat




Hari-hari Re 1

01 Januari 2019

Hari pertama di tahun 2019, diawali dengan ucap syukur dalam hati atas apa yang akan Allah berikan.

Dan ternyata Allah memberikan sebuah pertemuan yang sangat berarti dengan seorang teman. Namanya Enah, sederhana seperti orangnya.

Kami pertama kali bertemu di kelas menulis yang saya ikuti. Saya panggil dia Teteh, atau Teh Enah. Dulu juga pernah jalan bareng, ke mall di Bekasi untuk nonton sama seperti yang kita lakukan kemarin tapi gagal.

Anehnya, kemarin juga gagal nonton. Kita hanya bisa makan di tempat yang mengusung tema 'all you can eat' sesuai dengan manusia jenis pemakan segala seperti kita berdua.

Di restoran itu (saya lupa namanya) saya dan Teh Enah mengambil semua makanan yang disediakan, mulai dari nasi goreng, mie goreng, soto, mie ayam, dan terakhir siomay. Alhamdulillah kenyang, tapi tolong jangan dibahas, ya?

Selesai makan kami berdua langsung naik ke lantai tiga mall, utuk melihat film-film yang tayang hari itu, sayangnya semua judul sudah tidak ada yang menarik bagi Teh Enah. dia sudah menonton semuanya, kecuali Marry Popkins tapi film itu tayangnya malam. Karena saya gadis pingitan yang tidak boleh berada di luar rumah hingga malam, terpaksa kita berdua memutuskan untuk pindah ke mall di Kranji.

Lagi-lagi gagal. grab yang dipesan lama tidak muncul, jadilah kita menyeberang menuju mall yang letaknya di depan mall tempat kita makan.

"Lalu apa yang terjadi di mall kedua itu?" begitu, kan pertanyaan dalam hati readers Just Re semua? tidak? ah, ya sudahlah. Saya akan tetap bercerita meski kalian tidak bertanya seperti itu.

Yang terjadi adalah ... kami hanya duduk di depan stand minuman segar lama sekali. Teh Enah tertarik dengan promo 60% cashback yang ditawarkan, jadi dia ingin mencoba mengikuti persyaratan supaya bisa dapat cashback itu.

Dan itu juga gagal. HP pintar Teh Enah tidak bisa membantunya mengikuti persyaratan cashback itu, sedangkan Teh Enah sudah ditunggu oleh temannya yang lain.

Akhirnya kami pun berjalan keluar mall, berpisah di tempat parkir khusus motor. Saya pulang diantar Abang grab, sedangkan Teh Enah melanjutkan perjalanan menuju rumah temannya.

Sesampainya di rumah saya merenung, kenapa (hampir) semuanya bisa gagal terjadi, apa hikmah yang bisa saya dapat dari semua kegagalan itu?

Jawabannya adalah, kita manusia hanya bisa berencana sedangkan Allah lah yang menentukan semua. Apapun yang terjadi, jika Allah berkehendak pasti akan terjadi. Kun fayakuun, kata Allah.

Akhirnya saya bersyukur lagi, "Alhamdulillah masih bisa makan gratis sampai kekenyangan, naik grab pun tidak bayar karena Teh Enah masih mau beramal pada gadis pingitan penyuka gratisan ini."

Setelah berhasil menyimpulkan hasil merenung selama kurang lebih 30 menit, saya pun tertidur dengan pose andalan, miring kanan sambil memeluk boneka kesayangan. Alhamdulillah, terima kasih atas semua yang Engkau berikan kemarin Ya Allah.

Terima kasih juga atas oleh-oleh dari Arab sana dan terakhir, terima kasih juga atas gratisan makan serta ongkos pulangnya ya, Teh Enah? semoga rejekimu makin bertambah, dan selalu diberi kesehatan serta kebahagiaan oleh Allah SWT. Aamiin.

#tamat