Thursday, February 7, 2019

Cerpen SI DUNGU

SI DUNGU
Hari terakhir ujian, tempat Nadia sekolah seperti penjara yang terbuka lebar begitu terdengar bel. Semua berebut ingin keluar kelas lebih dulu, berlarian menyambut kebebasan.
“Nadia, tunggu gue!” Ines berlari berusaha mengejar langkah Nadia yang sudah jauh di depannya.
“Eh, elo Nes. Gue pikir loe belum selesai, gimana tadi sainsnya, loe bisa semua kan?” Nadia menoleh ke arah suara, dan melihat Ines sahabatnya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Nadia, Ines justru membicarakan hal lain yang membuat Nadia gemas lalu menjitaknya.
“O em ji Nad, lihat deh di depan kita ada Reza! Oh, Reza, i love you ....”
“Duh, Ines, gue tanya apa loe jawabnya apa! Kebiasaan banget sih loe, kalo gue ngomong ga pernah ditanggepin?”
“Aw, sakit Nad! Emangnya loe nggak ngefans ya sama dia? Aneh deh, saat semua cewek di sekolahan berebut perhatian cowok paling ganteng, paling tajir, plus paling jago di lapangan basket, loe malah sok cuek begini? Norak ih! Udah ah, gue jalan bareng dia aja.”
Setelah berkata begitu, Ines melarikan diri menuju sosok idamannya. Dia menyapa anak lelaki jangkung botak itu sambil menggandeng tangannya. Nadia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Ines, dan memilih untuk belok ke kantin daripada harus mengikuti sahabat kecilnya mengekor lelaki sok ganteng itu.
Nadia hapal betul watak Ines. Si mungil itu akan terus mengejar apa yang dia inginkan sampai dapat, termasuk Reza. Sahabat centil Nadia memang anak yang dimanjakan oleh kedua orangtuanya, apa yang dia minta pasti diberikan kecuali kebersamaan. Orangtua Ines merupakan pengusaha terkenal, jadi mereka tidak punya waktu untuknya. Nadia khawatir, Ines akan kembali jatuh ke lubang yang sama seperti waktu SMP dulu.
“Kenapa loe, Nad?” Adit khawatir melihat Nadia murung. Tidak biasanya dia mengabaikan semangkuk bakso dan es jeruk kesukaannya.
“Gue khawatir sama Ines. Gue takut, dia bakal ngulangin hal yang sama kayak waktu SMP.” Nadia mengutarakan kekhawatirannya pada Adit, sahabat sejak kecilnya seperti Ines. Mereka bertiga memang bersahabat sejak TK, karena rumah yang berdekatan satu sama lain.
Adit termenung mendengar kekhawatiran Nadia. Dia juga tahu persis apa yang sahabatnya maksud, dan kekahawatiran itu sangat wajar mengingat sepak terjang Ines di SMP.
“Soal Reza?” tanya Adit langsung pada inti permasalahan. Nadia hanya mengangguk sambil menyeruput es jeruknya.
“Terus, di mana dia sekarang?”
“Ya di mana lagi, kalo bukan di lapangan basket teriak-teriak caper sama cowok sok kaya itu?” jawab Nadia enggan. Entah kenapa, sejak pertama melihat Reza dan sikap Ines terhadap cowok hitam manis itu Nadia seperti melihat masa lalu Ines kembali terulang. Itulah sebabnya Nadia membencinya.
Kekhawatiran Nadia terjadi. Setelah acara kelulusan, Ines kembali mengatakan hal yang sama seperti waktu SMP pada Nadia dan Adit.

***

“Loe beneran ga punya otak ya, Nes? Gue udah sering bilang, kan kalau kejadian dulu jangan sampai terulang lagi, dasar dungu! Gue ga nyangka, Nes ... loe anggap kita berdua apa sih sebenernya, kenapa loe ga pernah mau denger omongan kita?”
Nadia benar-benar kecewa pada sahabatnya. Dia mulai merasa menyesal memiliki sahabat seperti Ines. Bagaimana mungkin ada orang yang benar-benar bodoh, mengulangi perbuatan menjijikan seperti itu.
Jangan sok bijak, Non! Ini hidup  gue, terserah dong mau ngelakuin apa? Emangnya loe siapa, berani ngatur-ngatur kehdupan gue?”
Ines berlari menuju rumahnya, setelah berteriak Nadia. Teriakan itu menjadi gunting bagi ikatan persahabatan mereka bertiga. Ines tidak pernah terlihat lagi di mana-mana. Bahkan orangtuanya pun tidak tahu di mana Ines berada.
Hari berganti minggu, bulan dan tahun. Waktu terus berputar tanpa peduli, apakah manusia keberatan atas kepergiannya atau tidak. Begitu pula masa-masa yang Adit dan Nadia lewati tanpa kehadiran Ines, setelah masa putih-abu berhasil mereka lalui.
Mereka berdua pun kini harus berpisah, menjalani hidupnya masing-masing. Adit mengambil kuliah di luar negeri, sementara Nadia pergi ke Bandung dengan jurusan yang mereka minati.

***

Azan ashar sudah berkumandang sejak 30 menit yang lalu. Mama Nadia dan asisten rumah tangganya sudah mulai memasak menu untuk berbuka puasa.
“Papa mau ke mana?” Nadia melihat papanya sedang bersiap-siap. Dia sedang menonton TV bersama kedua sahabatnya.
“Papa mau antar parcel ke rumah teman-teman Papa. Kenapa memangnya, kalian mau ikut?” Pak Handoko yang tahu betul sifat putrinya balik bertanya, dan dijawab dengan anggukan antusias oleh Nadia, Adit, dan Ines.
Tanpa menunggu perintah selanjutnya dari papanya Nadia, mereka bertiga langsung melesat menuju garasi dan memasuki mobil Nadia.
“Eh, Nes, loe kan belum cerita tentang kelanjutan pesta semalam?” Nadia membuka percakapan selama dalam perjalanan. Tapi yang ditanya hanya senyum-senyum, lalu membisiki sesuatu pada Nadia. Adit pura-pura cuek melihat sikap mereka berdua.
“Oh, ya udah deh. Janji ya, nanti cerita kalau sudah sampai?” Nadia menjawab bisikan Ines, dan Adit lega mendengar Nadia berkata begitu karena berarti dia masih bisa tahu cerita Ines.
Adit tidak perlu menunggu lama, karena ternyata Ines benar-benar menepati janjinya. Dia mulai bercerita antusias begitu Pak Handoko sudah mengambil parcel dan menutup bagasi mobil.
“Gila, seru banget semalem! Kalian sih norak pakai pulang segala, padahal justru serunya pas tengah malem.”
“Terus-terus, loe ngapain aja emangnya pas tengah malem?” Nadia mulai tertarik mendengar cerita Ines. Matanya terbelalak lebar ketika bertanya.
“Hmm ... gue ... Nad, Dit, gue percaya banget sama kalian, jadi janji ya untuk nggak ngebocorin rahasia gue?”
Adit dan Nadia saling menatap keheranan, namun akhirnya mereka mau juga berjanji untuk menyimpan rahasia Ines apapun itu.
“Gue ngelakuin ...” Ines berbisik saat menyebut dua huruf yang masih terlarang untuk anak SMP sepertinya.
Adit mematung, mulutnya terbuka lebar karena terkejut. Dia tidak menyangka Ines berani melakukan hal itu.
“Loe udah ga waras, Nes? Loe kan masih SMP!” Nadia berteriak panik mendengar pengakuan Ines.
“Sssttt, jangan berisik! Cuma secelup kok, langsung dicabut lagi sama Kak Andre.” Ines membekap mulut Nadia, sambil masih terus bercerita.
Adit, udah mangapnya!” bentak Ines. Dia kecewa melihat kedua sahabatnya tidak menyukai yang dia lakukan. Padahal menurut Ines itu hal yang seru, menegangkan, dan menyenangkan. Bahkan dia berencana akan sering melakukannya dengan Andre, pacar pertamanya.
“Loe ga takut hamil, Nes?” Adit akhirnya bersuara. Baru saja Ines hendak menjawab, papa Nadia datang dan mereka langsung terdiam tenggelam dalam pikiran polosnya masing-masing.
Pertanyaan Adit terjawab saat libur kenaikan kelas. Mereka bertiga sudah merencanakan akan berkemah, namun tiba-tiba Ines membatalkan rencananya. Dia dibawa ke luar negeri oleh kedua orangtuanya dengan alasan mengunjungi sanak keluarga di negeri tulip, tapi ternyata Ines dibawa pergi ke sana untuk menggugurkan kandungannya yang sudah tiga bulan.
Hal itu mereka ketahui, ketika akhirnya Ines kembali sehari sebelum mereka harus kembali sekolah. Ines bercerita pada kedua sahabatnya, di rumah Adit.

***

Nadia masih tepekur di samping gundukan tanah merah. Adit memeluk bahunya yang berguncang pelan. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengannya seperti ini. Ternyata selama ini dia ada di Belanda, di tempat sepupunya dan orangtuanya kembali menyembunyikan itu.
Kenapa Ines mengulanginya lagi? Nadia bertanya dalam hati. Dia memukuli makam Ines sambil berteriak histeris, menangisi kepergian sahabatnya untuk selama-lamanya.
“Dasar dungu, kenapa loe mau dibegoin sama Andre sampai harus ngegugurin janin padahal masih SMP? Kenapa loe ulangin lagi sama Reza, padahal udah tahu itu buruk buat loe? Kenapa harus loe yang kena penyakitnya dan bukannya si reza? Kenapa Ines, jawab gue!”
Adit menenangkan Nadia. Dia juga sedih atas kepergian sahabat centilnya, Ines. Adit merasa Ines seperti lalat yang melihat keindahan semu dari balik kaca, dan menabrakkan dirinya berulang kali ke kaca karena tidak tahu jalan yang harus ditempuh untuk mencapai apa yang dia lihat hingga akhirnya lemas, jatuh, lalu mati.
Kini Nadia dan Adit hanya bisa berdoa, semoga sahabatnya diterima di sisi-Nya dan diampuni segala perbuatannya. Seburuk apapun sikap Ines, mereka tetap mengenangnya sebagai sahabat terbaik yang pernah mereka miliki.
Adit mengajak Ines beranjak dari makam, senja sudah mengintip ingin tahu apa yang terjadi pada dua anak manusia di bawah.

#cerpenre
Bekasi, 08 Februari 2019















cerpen TOMBOL MATI

TOMBOL MATI
‘Sudah, cukup! Hentikan!’
Teriakan kami bersahutan, demi menghentikan perbuatan keji itu. Tapi dia terus saja mencabik, merobek, dan menusuk tubuhnya. Dia sama sekali tidak mendengar teriakan kami.
Darah memercik ke mana-mana, usus terburai mengenai tubuhnya, namun dia menikmati itu dan tersenyum karena telah berhasil membunuh. Tuhan! Seandainya saja kami bisa menghentikannya, tapi apa daya kami?
“Helena, buka pintunya! I know you in there, Honey!”
‘Ah, ada yang datang! Ya, tentu saja dia di dalam ... dengan tubuh hancur. Lagi-lagi ucapan kami tak terdengar, sedangkan yang di luar masih terus saja berteriak sambil menggedor pintu.
Karena tidak ada jawaban, tamu yang ternyata Bianca sahabat Helena mendobrak pintu rumah dibantu beberapa pria. Kami tidak kaget lagi mendengar Bianca berteriak, ketika melihat Helena telah tak berwujud.
Tidak lama kemudian, rumah ini menjadi ramai. Penghuni apartemen lain berebut ingin tahu apa yang terjadi, meski hanya dari jauh. Di sekitar kami dan Helena, dikelilingi garis polisi berwarna kuning.
“Kapan Anda terakhir melihatnya? Di mana Anda sekitar jam lima sore tadi, dan apakah dia punya musuh?”
Polisi-polisi itu terus saja menginterogasi semua yang kenal dengan Helena. Kecuali kami.
***
 Malam semakin larut, hanya terdengar suara AC yang berdengung pelan. Namun di kamarnya, Bianca masih saja menangis perlahan, takut terdengar oleh keluarganya yang sudah lama terlelap.
Dia rindu pada sahabatnya, rindu sekali. Bianca tidak habis pikir, kenapa musibah itu bisa terjadi pada Helena? Apa yang mendasari psikopat, yang entah siapa tega membunuhnya hingga tak berwujud seperti itu? Sejak mengenal Helena, dia tidak pernah sekalipun melihatnya berkelahi dengan orang lain. Helena wanita yang pendiam, dia tertutup pada semua orang.
Helena dan Bianca memang sudah lama bersahabat. Mereka saling mengenal ketika sedang kuliah di luar negeri. Karena sama-sama dari Indonesia dan satu jurusan, juga kebetulan mereka tinggal dalam satu apartemen maka mereka merasa saling cocok satu sama lain, dan bersahabat sejak saat itu.
Persahabatan mereka semakin kental, walau sikap masing-masing berbeda. Jika Bianca adalah seorang yang mudah terbuka pada semua orang, tapi Helena sebaliknya. Dia sangat tertutup dan jarang bergaul. Hanya sedikit teman yang bisa dekat dengannya, dan Bianca adalah yang paling dekat di antara yang sedikit itu.
Selesai kuliah, mereka pulang bersama ke tanah air dan bertekad untuk mencari kerja serta tinggal bersama, tapi karena Bianca menganut gaya hidup bebas, dia tinggal bersama kekasihnya Dylan dan Helena terpaksa pindah ke kamar lain yang kebetulan kosong di apartemen yang sama dengan Bianca. Tapi Bianca memutuskan untuk kembali ke rumahnya, setelah Dylan menghilang entah ke mana.
Setelah malamnya sulit tidur karena merindukan Helena, Bianca memutuskan untuk pergi ke kafe favoritnya.
Sesaat setelah memesan minuman, dia melihat berkeliling keadaan kafe. “Ah, sudah lama sekali tidak datang ke sini.” Ucapnya pelan, sambil memandang ke luar jendela.
“Permisi Nona, ini kopi pesanan Anda, dan ini ada sebuah kado perkenalan dari pria di ujung sana.” Pelayan kafe menunjuk ke arah meja dekat kasir, dan terlihat seorang lelaki berkacamata mengangkat gelasnya pada Bianca sambil tersenyum.
‘Hmmm ... Lelaki yang menarik. Dari penampilannya, sepertinya dia bukan dari Indonesia. Lumayan buat pengganti Dylan yang kabur entah ke mana.’ Ujar Bianca dalam hati, dan membalas senyuman sang pria lalu pria itu pun menghampirinya.
“Hello dear, nice to meet you?” sapa lelaki kharismatik tersebut. Bianca menjawabnya dengan senyuman. “Nice to meet you too, dan terima kasih untuk kadonya.”
“Then, open it.” Sebenarnya Bianca tidak suka diperintah seperti itu, apalagi dia belum mengenalnya. Tapi rasa penasaran membuat dia membuka kotak berukuran sedang itu dan heran dengan isinya.
“Apa ini? Tanya Bianca langsung pada pria di depannya.
Pria itu menjawabnya dengan langsung membuka kotak tersebut lalu menjelaskan, “anggap saja ini kotak jackpot. Kalau kamu menekan  bianctombol ini, kamu akan saya beri uang 50.000 dollar.”
“Menarik. Lalu apa yang terjadi setelah tombol ditekan?” Bianca tertarik setelah mendengar nominal yang disebutkan, dia pikir hanya menekan tombol, apa sulitnya?
“Seseorang yang tidak kamu kenal, entah di mana akan mati.”
“Apa? Kamu gila, ya!” Bianca tidak sadar berteriak hingga semua mata tertuju padanya. Dia berbisik melanjutkan ucapannya, “mana mungkin saya membunuh seseorang, walau pun saya tidak mengenalnya sama sekali?”
Lelaki plontos itu hanya tersenyum, lalu meletakkan amplop uang di meja dan berdiri sambil berkata, “terserah kamu. Tapi kamu harus tahu, kamu akan bisa kembali bertemu dengan Dylan jika melakukannya. Dylan juga telah menekan tombol itu untuk sahabatmu.”
Bianca lebih terkejut lagi mendengar ucapan terakhir pria aneh itu. Sudah lebih dari satu jam dia berpikir, dan beberapa kali hendak menyentuh tombol tersebut. Bianca sangat merindukan Dylan, dia ingin sekali menuntut penjelasan atas menghilangnya Dylan selama ini. Dan semoga apa yang lelaki itu katakan tentang Helena tidak benar.
Siapa pria itu? Bagaimana lelaki tersebut bisa tahu semuanya, sedangkan dia tidak?
Akhirnya Bianca menyeruput kopi pesanannya, mengambil amplop uang di atas meja, lalu dengan pelan memencet tombol jackpot tersebut.
“Semua ini gila! Aku telah berbicara dengan lelaki gila yang kaya raya, bahkan aku sendiri juga sudah gila karena telah memercayainya begitu saja!”
Baru saja dia hendak beranjak pulang, ketika tiba-tiba meja di depannya ramai. Salah satu wanita di meja itu jatuh dari kursinya, setelah meminum kopi yang dipesan temannya.
“Astaga, apa yang terjadi? Apakah aku yang telah membunuhnya? Tidak, ini tidak mungkin!” Bianca panik melihat kejadian yang sangat cepat itu. Dia berlari keluar kafe tanpa melihat ada mobil dari arah berlawanan, dan menabraknya.
Di halte seberang jalan, terlihat lelaki berkacamata bersama seorang wanita berpakaian sexy memegang sesuatu berbentuk segi empat. Si wanita terlihat pasi melihat kecelakaan yang terjadi di depannya, tapi sang pria justru tersenyum dan melangkah pergi dengan santai.

#cerpenRe
Bekasi, 07 Februari 2019