TOMBOL MATI
‘Sudah, cukup! Hentikan!’
Teriakan kami bersahutan, demi menghentikan perbuatan keji itu. Tapi dia terus saja mencabik, merobek, dan menusuk tubuhnya. Dia sama sekali tidak mendengar teriakan kami.
Darah memercik ke mana-mana, usus terburai mengenai tubuhnya, namun dia menikmati itu dan tersenyum karena telah berhasil membunuh. Tuhan! Seandainya saja kami bisa menghentikannya, tapi apa daya kami?
“Helena, buka pintunya! I know you in there, Honey!”
‘Ah, ada yang datang! Ya, tentu saja dia di dalam ... dengan tubuh hancur. Lagi-lagi ucapan kami tak terdengar, sedangkan yang di luar masih terus saja berteriak sambil menggedor pintu.
Karena tidak ada jawaban, tamu yang ternyata Bianca sahabat Helena mendobrak pintu rumah dibantu beberapa pria. Kami tidak kaget lagi mendengar Bianca berteriak, ketika melihat Helena telah tak berwujud.
Tidak lama kemudian, rumah ini menjadi ramai. Penghuni apartemen lain berebut ingin tahu apa yang terjadi, meski hanya dari jauh. Di sekitar kami dan Helena, dikelilingi garis polisi berwarna kuning.
“Kapan Anda terakhir melihatnya? Di mana Anda sekitar jam lima sore tadi, dan apakah dia punya musuh?”
Polisi-polisi itu terus saja menginterogasi semua yang kenal dengan Helena. Kecuali kami.
***
Malam semakin larut, hanya terdengar suara AC yang berdengung pelan. Namun di kamarnya, Bianca masih saja menangis perlahan, takut terdengar oleh keluarganya yang sudah lama terlelap.
Dia rindu pada sahabatnya, rindu sekali. Bianca tidak habis pikir, kenapa musibah itu bisa terjadi pada Helena? Apa yang mendasari psikopat, yang entah siapa tega membunuhnya hingga tak berwujud seperti itu? Sejak mengenal Helena, dia tidak pernah sekalipun melihatnya berkelahi dengan orang lain. Helena wanita yang pendiam, dia tertutup pada semua orang.
Helena dan Bianca memang sudah lama bersahabat. Mereka saling mengenal ketika sedang kuliah di luar negeri. Karena sama-sama dari Indonesia dan satu jurusan, juga kebetulan mereka tinggal dalam satu apartemen maka mereka merasa saling cocok satu sama lain, dan bersahabat sejak saat itu.
Persahabatan mereka semakin kental, walau sikap masing-masing berbeda. Jika Bianca adalah seorang yang mudah terbuka pada semua orang, tapi Helena sebaliknya. Dia sangat tertutup dan jarang bergaul. Hanya sedikit teman yang bisa dekat dengannya, dan Bianca adalah yang paling dekat di antara yang sedikit itu.
Selesai kuliah, mereka pulang bersama ke tanah air dan bertekad untuk mencari kerja serta tinggal bersama, tapi karena Bianca menganut gaya hidup bebas, dia tinggal bersama kekasihnya Dylan dan Helena terpaksa pindah ke kamar lain yang kebetulan kosong di apartemen yang sama dengan Bianca. Tapi Bianca memutuskan untuk kembali ke rumahnya, setelah Dylan menghilang entah ke mana.
Setelah malamnya sulit tidur karena merindukan Helena, Bianca memutuskan untuk pergi ke kafe favoritnya.
Sesaat setelah memesan minuman, dia melihat berkeliling keadaan kafe. “Ah, sudah lama sekali tidak datang ke sini.” Ucapnya pelan, sambil memandang ke luar jendela.
“Permisi Nona, ini kopi pesanan Anda, dan ini ada sebuah kado perkenalan dari pria di ujung sana.” Pelayan kafe menunjuk ke arah meja dekat kasir, dan terlihat seorang lelaki berkacamata mengangkat gelasnya pada Bianca sambil tersenyum.
‘Hmmm ... Lelaki yang menarik. Dari penampilannya, sepertinya dia bukan dari Indonesia. Lumayan buat pengganti Dylan yang kabur entah ke mana.’ Ujar Bianca dalam hati, dan membalas senyuman sang pria lalu pria itu pun menghampirinya.
“Hello dear, nice to meet you?” sapa lelaki kharismatik tersebut. Bianca menjawabnya dengan senyuman. “Nice to meet you too, dan terima kasih untuk kadonya.”
“Then, open it.” Sebenarnya Bianca tidak suka diperintah seperti itu, apalagi dia belum mengenalnya. Tapi rasa penasaran membuat dia membuka kotak berukuran sedang itu dan heran dengan isinya.
“Apa ini? Tanya Bianca langsung pada pria di depannya.
Pria itu menjawabnya dengan langsung membuka kotak tersebut lalu menjelaskan, “anggap saja ini kotak jackpot. Kalau kamu menekan bianctombol ini, kamu akan saya beri uang 50.000 dollar.”
“Menarik. Lalu apa yang terjadi setelah tombol ditekan?” Bianca tertarik setelah mendengar nominal yang disebutkan, dia pikir hanya menekan tombol, apa sulitnya?
“Seseorang yang tidak kamu kenal, entah di mana akan mati.”
“Apa? Kamu gila, ya!” Bianca tidak sadar berteriak hingga semua mata tertuju padanya. Dia berbisik melanjutkan ucapannya, “mana mungkin saya membunuh seseorang, walau pun saya tidak mengenalnya sama sekali?”
Lelaki plontos itu hanya tersenyum, lalu meletakkan amplop uang di meja dan berdiri sambil berkata, “terserah kamu. Tapi kamu harus tahu, kamu akan bisa kembali bertemu dengan Dylan jika melakukannya. Dylan juga telah menekan tombol itu untuk sahabatmu.”
Bianca lebih terkejut lagi mendengar ucapan terakhir pria aneh itu. Sudah lebih dari satu jam dia berpikir, dan beberapa kali hendak menyentuh tombol tersebut. Bianca sangat merindukan Dylan, dia ingin sekali menuntut penjelasan atas menghilangnya Dylan selama ini. Dan semoga apa yang lelaki itu katakan tentang Helena tidak benar.
Siapa pria itu? Bagaimana lelaki tersebut bisa tahu semuanya, sedangkan dia tidak?
Akhirnya Bianca menyeruput kopi pesanannya, mengambil amplop uang di atas meja, lalu dengan pelan memencet tombol jackpot tersebut.
“Semua ini gila! Aku telah berbicara dengan lelaki gila yang kaya raya, bahkan aku sendiri juga sudah gila karena telah memercayainya begitu saja!”
Baru saja dia hendak beranjak pulang, ketika tiba-tiba meja di depannya ramai. Salah satu wanita di meja itu jatuh dari kursinya, setelah meminum kopi yang dipesan temannya.
“Astaga, apa yang terjadi? Apakah aku yang telah membunuhnya? Tidak, ini tidak mungkin!” Bianca panik melihat kejadian yang sangat cepat itu. Dia berlari keluar kafe tanpa melihat ada mobil dari arah berlawanan, dan menabraknya.
Di halte seberang jalan, terlihat lelaki berkacamata bersama seorang wanita berpakaian sexy memegang sesuatu berbentuk segi empat. Si wanita terlihat pasi melihat kecelakaan yang terjadi di depannya, tapi sang pria justru tersenyum dan melangkah pergi dengan santai.
#cerpenRe
Bekasi, 07 Februari 2019
No comments:
Post a Comment