Malam semakin gigil. Tapi tidak bagi gadis di pinggir jendela kamar. Dia duduk memeluk lutut, matanya lurus menatap bulan bulat sempurna tanpa kedip. Tak lama muncul gadis lain di hadapannya.
“Hei, ini sudah malam, kenapa belum tidur juga?”
“Kamu sudah rapi, mau ke mana?” gadis itu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
“Biasalah, gua mau ke diskotik.” gadis kedua menjawab, sambil merapikan poninya di depan jendela.
“Loe kenapa, sih?”
“Aku sedih, Na. Kenapa sih, sudah setua ini masih juga dikekang kayak ABG? Aku kan mau kayak kamu juga, bergaul, punya uang sendiri tanpa harus nunggu diberi, jalan-jalan. Aku pusing di rumah terus, kepala sering kesemutan nih!”
“Ya loenya juga sih, terlalu lemah, masa ga bisa ngelawan sedikit? Cengeng loe!”
“Aku selalu ingin melawan, Na! Tapi nggak tega setiap lihat mata Mama.”
“Ya sesekali kan gapapa, Rin. Udah ah, kebanyakan cingcong loe! Sekarang gini aja, mending loe ikut gua dugem, gimana?”
Nggak bakalan diizinin, Na! Kamu tahu bagaimana keadaanku.”
“Halah, cuek aja kenapa sih? Mereka ga bakalan tahu, gua yakin semuanya udah pada tidur!”
Kalau ketahuan, gimana?”
“Nggak akan, percaya sama gua! Ini akan jadi rahasia kita berdua, ngerti loe? R.A.H.A.S.I.A!”
“Hahahha, iya iya aku ngerti! Rahasiaku rahasiamu juga, begitu kan?”
“Yup! Hehehehe ....”
Gadis dibalik jendela masih terus tertawa, sesekali tangannya menutup mulut supaya tidak terdengar orangtuanya.
Dia tidak menyadari, ternyata kedua orangtuanya memerhatikan sejak tadi. Airmata keduanya menetes, melihat anak semata wayangnya bicara sendiri.
“Besok pagi kita bawa dia ke psikiater, Ma ....”
*****
“Rina!”
Panggilan itu membuatnya menengok. Gadis berambut ikal dengan poni menutupi dahinya, segera melihat ke luar jendela dan melambai pada pemilik suara.
“Masuk aja, pagarnya nggak dikunci kok!” gadis manis itu balas berteriak, memberi instruksi pada temannya yang datang.
“Sorry ya, telat? Tadi ketemu cowok ganteng di warung depan, kayaknya anak kost di tempat kamu deh, soalnya dia masuk ke sini. Siapa sih, kenalin dong!”
Temannya langsung bercerita tanpa jeda. Gadis mungil yang dipanggil Rina hanya tertawa mendengar ocehan itu.
“Ah, dasar loe mata keranjang! Kayak gimana ciri-ciri cowok itu?” Rina mentoyor kepala temannya itu, namun penasaran juga dengan lelaki yang dilihatnya.
“Dia kurus tinggi, rambutnya keriting kayak sarang tawon, kulitnya hitam manis. Duh, pokoknya cowok banget deh!” teman Rina menjelaskan dengan membabi buta. Tangannya bertautan di depan dada seperti sedang berdoa, sambil mengedip-kedipkan mata secara berlebihan.
Rina tiba-tiba terdiam kaku. Wajahnya berubah seperti mayat. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, mendengar penuturan temannya tentang si lelaki. Ingatan Rina langsung terbang ke kejadian memilukan yang terulang kembali.
“Siapa?” Rina terkejut mendengar suara ketukan di jendela kamarnya. Dia membuka sedikit gorden, dan melihat anak kost yang baru dua minggu menyewa kamar kontrakan ayahnya.
“Mau apa?” tanyanya pada lelaki tanpa kaus. Mau tak mau dia membuka jendelanya, agar bisa mendengar yang lelaki itu katakan.
Lelaki jangkung itu menjawab dengan tindakan. Dia langsung melompat masuk dan menyekap mulut Rina memakai saputangan yang dia bawa. Tanpa banyak kata, lelaki bejat itu membuka paksa pakaian gadis malang tersebut dan menggaulinya.
“Sssttt, jangan nangis. Biar ini jadi rahasia kita, ya?” ujar lelaki itu, sebelum pergi meninggalkan Rina di kamarnya.
“Aaarrgghhh!” tiba-tiba Rina berteriak histeris mendengar temannya menceritakan tentang sosok lelaki itu. Dia menjambaki rambutnya, menjatuhkan diri hingga berguling di lantai.
“Rin, kamu kenapa? Rina ... tolong-tolong!” Dian, teman Rina bingung melihat kejadian itu. Dia langsung berlari menuju kontrakan di samping rumah Rina.
“Ada apa, Mbak?” tanya salah satu penghuni kost, yang mendengar teriakan.
“I-itu ... Rin-na, tolongin dia!” Dian gagap tak bisa menjelaskan. Dia langsung saja menarik lengan lelaki yang tadi bertemu di warung, menuju kamar Rina.
“Tidak, jangan dekati aku! Keluar kamu!” Rina justru makin histeris, melihat lelaki yang datang bersama temannya. Namun lelaki bertelanjang dada itu tetap maju mendekati Rina, dan langsung mendekapnya.
“Sssttt, jangan berisik! Aku sudah bilang, kan? Itu hanya akan menjadi rahasia kita berdua, selamanya.” bisik lelaki tersebut pada Rina. Bisikan yang berhasil membuat gadis malang itu mendadak diam, meski masih dengan tubuh gemetar ketakutan.
“Rin, kamu ... gapapa, kan?” Dian memastikan keadaan temannya. Dia menarik napas lega, melihat Rina tenang dalam pelukan lelaki tampan di depannya.
“Dia gapapa, tolong ambilin air minum untuk Rina, bisa?” lelaki berambut jabrik yang menjawab. Dian langsung menuju dapur, memenuhi permintaannya.
“Boleh saya tahu, apa yang terjadi sama Rina?” tanya si lelaki, setelah Rina berhasil tidur dengan tenang.
“Ga ada apa-apa kok, saya baru datang terus cerita tentang pertemuan kita. Tiba-tiba dia histeris setelah saya ceritain ciri-ciri kamu. Saya juga bingung, kenapa dia jadi begitu. O iya, nama kamu siapa?” jawab Dian pelan dan diakhiri dengan pertanyaan.
“Saya Andre, baru tinggal di kontrakan milik ayahnya Rina. Saya calon suami Rina.
Dian tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya membuka mulutnya lebar-lebar.
*****
“Wah, keren banget nih ruangan! Dekorasinya artistik, luas, cahayanya juga pas. Betah deh gua di sini, Rin!”
“Duh, Na, aku lagi gugup begini kamu malah keliling ga jelas!” sahut Rina dengan nada cemas. Dia duduk kaku di ujung sofa, kedua tangan terlipat rapi di atas paha dan telunjuk bergerak mengetuk pelan. Matanya berputar, memandang ke segala arah.
“Ngeeeng ... brrmmmm, brrrmmm! Ciiitttt .... prang!” gadis kecil sibuk memainkan pajangan mobil antik, di atas meja hias hingga lengannya menyenggol vas bunga dan hancur menjadi pecahan beling kecil-kecil.
“Ade! Duh, gimana nih?” Rina semakin panik. Ketukan telunjuknya semakin cepat di atas paha, matanya terbelalak ke arah vas bunga yang hancur.
“Hahahaha, santai aja Rin! Yang punya vasnya juga cuek, kok. Ujar Na, melirik ke arah wanita di kursi besar dekat sofa.
Gadis kecil berponi hanya meringis mendengar teguran Rina, dan mengambil bunga plastik di antara pecahan beling lalu berputar-putar menari mengelilingi ruangan.
Akhirnya setelah satu jam berlalu, kegaduhan pun berakhir. Tiba-tiba ada yang memegang lembut bahu Rina lalu berkata, “sayang sekali waktu bermain sudah habis, Rina. Minggu depan saya tunggu kamu, ya? Kita main lagi di sini.”
Rina menarik napas lega. Dia tersenyum pada wanita berkacamata tersebut, dan langsung berdiri menuju pintu.
“Pak, Bu, saya harap minggu depan Rina bisa kemari lagi, nanti saya resepkan obat penenang untuknya.” wanita tua tersebut memberi wejangan terakhir pada kedua orangtua Rina.
“Baik, Dok ....” jawab mereka singkat.
“O ya, satu lagi. Boleh saya tahu, siapa Na dan Ade?” pertanyaan dokter tersebut membuat kedua orangtua Rina urung berdiri, mereka berpandangan sebelum menjawabnya.
“Na itu panggilan dia waktu kecil, Dok. Sedangkan Ade sebutan sayang dari almarhum ayahnya dulu.” Jawab ibu Rina pelan.
*****
“Shalatullah shalamullah, alla toha rasulillah ... shalatullah shalamullah, ala yaasiin habibillah ....” shalawat ramai terdengar dari ibu-ibu pengajian yang mengiringi kepergiannya. Yang lain berebut bersalaman, ingin mengucapkan selamat jalan dan jangan lupa membawa oleh-oleh setelah pulang menjadi TKW.
“Pak, aku berangkat ... titip Na. Ndak lama kok, cuma dua tahun.”
Wanita berhijab putih itu mengusap airmata yang keluar. Dia sudah mengambil keputusan, demi kehidupan yang lebih baik. Dipeluknya anak kecil berponi di hadapannya. Tangisnya tak dapat dibendung lagi.
“Ade jangan nakal ya, nurut sama Bapak. Mama cuma sebentar kok, nanti kalau Mama udah punya uang banyak Ade bisa sekolah, terus Mama beliin sepatu, seragam sekolah, tas yang bagus, boneka besar ... Ade mau, kan?”
Anak berponi itu hanya mengangguk pelan, sambil punggung tangannya mengelap kasar cairan yang keluar dari hidung. Mamanya membelai kepalanya lembut, dan perlahan melepaskan pelukan lalu masuk ke dalam mobil dan lama tak kembali.
Sudah hampir setahun mamanya pergi, gadis kecil berponi masih saja menanyakan kapan Mama pulang pada Bapaknya.
“Pak, Mama kok belum pulang? Ade kangen, Ade mau tidur sama Mama.”
“Iya, Ade yang sabar ya? Sebentar lagi Mama pulang kok. Sekarang Ade bobonya sama Bapak aja, kita main kuda-kudaan gimana, Ade mau kan?” Bapaknya menjawab lembut, sambil membelai rambut panjang anaknya.
Begitulah anak kecil, mudah dirayu dengan hal kecil yang menyenangkan baginya. Tidak butuh waktu lama untuk menganggukkan kepala. Senyum lebar tersungging, sudah terbayang dia akan menaiki punggung Bapaknya lalu merangkak mengitari ruangan sebelum tidur.
Sayangnya apa yang Ade bayangkan hanya sebentar terjadi. “De, Bapak capek nih. Ade mau, kan pijitin punggung Bapak? Nanti Bapak kasih lihat film, judulnya Biru.”
Anak polos itu kasihan pada Bapaknya. Sekali lagi dia menganggukkan kepala, dan tak lama Bapaknya menepati janji, dia memutarkan film lalu mengajak Ade untuk tidur di sampingnya supaya bisa nonton bersama.
Ade heran, kenapa Bapak napasnya kencang sekali di telinganya. Saat menengok, dia melihat Bapaknya sedang memasukkan tangan kirinya ke dalam celana. Tak lama kemudian Bapaknya bertanya, “Ade, tempat pipis Bapak pegal, tolong pijitin ya?”
Ade bingung, bagaimana cara memijat tempat pipis? namun belum sempat anak kecil itu menggeleng, Bapaknya sudah memegang lengannya dan menggiringnya ke sana.
“Pak, Ade capek, Ade mau bobo.” Ade berkata sambil mencoba menarik lengannya.
“Ya udah, Ade bobo.” Jawab Bapaknya, sambil meniduri Ade. Setan pun melanjutkan tugasnya, setelah anaknya tertidur pulas, dia langsung membuka celana Ade lalu melakukan hal bejat itu pada anak kandungnya sendiri.
“Pak, ngapain? Tempat pipis Ade sakit!” anaknya terbangun lalu menangis. Pria bejat itu hanya membelai kepala anaknya, lalu berbisik, “Sssttt ... Ade jangan nangis, mulai sekarang Bapak mau main kuda-kudaan lagi sama Ade tapi ini rahasia, ya? Ade jangan bilang siapa-siapa.”
Anak malang itu menangis tiap malam. Dia selalu merasa kesakitan, tapi Bapaknya tidak peduli.