Wednesday, March 20, 2019

R.A.H.A.S.I.A



Malam semakin gigil. Tapi tidak bagi gadis di pinggir jendela kamar. Dia duduk memeluk lutut, matanya lurus menatap bulan bulat sempurna tanpa kedip. Tak lama muncul gadis lain di hadapannya.
“Hei, ini sudah malam, kenapa belum tidur juga?”
“Kamu sudah rapi, mau ke mana?” gadis itu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
“Biasalah, gua mau ke diskotik.” gadis kedua menjawab, sambil merapikan poninya di depan jendela.
“Loe kenapa, sih?”
“Aku sedih, Na. Kenapa sih, sudah setua ini masih juga dikekang kayak ABG? Aku kan mau kayak kamu juga, bergaul, punya uang sendiri tanpa harus nunggu diberi, jalan-jalan. Aku pusing di rumah terus, kepala sering kesemutan nih!”
“Ya loenya juga sih, terlalu lemah, masa ga bisa ngelawan sedikit? Cengeng loe!”
“Aku selalu ingin melawan, Na! Tapi nggak tega setiap lihat mata Mama.”
“Ya sesekali kan gapapa, Rin. Udah ah, kebanyakan cingcong loe! Sekarang gini aja, mending loe ikut gua dugem, gimana?”
Nggak bakalan diizinin, Na! Kamu tahu bagaimana keadaanku.”
“Halah, cuek aja kenapa sih? Mereka ga bakalan tahu, gua yakin semuanya udah pada tidur!”
Kalau ketahuan, gimana?”
“Nggak akan, percaya sama gua! Ini akan jadi rahasia kita berdua, ngerti loe? R.A.H.A.S.I.A!”
“Hahahha, iya iya aku ngerti! Rahasiaku rahasiamu juga, begitu kan?”
“Yup! Hehehehe ....”
Gadis dibalik jendela masih terus tertawa, sesekali tangannya menutup mulut supaya tidak terdengar orangtuanya.
Dia tidak menyadari, ternyata kedua orangtuanya memerhatikan sejak tadi. Airmata keduanya menetes, melihat anak semata wayangnya bicara sendiri.
“Besok pagi kita bawa dia ke psikiater, Ma ....”

*****

 “Rina!”
Panggilan itu membuatnya menengok. Gadis berambut ikal dengan poni menutupi dahinya, segera melihat ke luar jendela dan melambai pada pemilik suara.
“Masuk aja, pagarnya nggak dikunci kok!” gadis manis itu balas berteriak, memberi instruksi pada temannya yang datang.
“Sorry ya, telat? Tadi ketemu cowok ganteng di warung depan, kayaknya anak kost di tempat kamu deh, soalnya dia masuk ke sini. Siapa sih, kenalin dong!”
Temannya langsung bercerita tanpa jeda. Gadis mungil yang dipanggil Rina hanya tertawa mendengar ocehan itu.
“Ah, dasar loe mata keranjang! Kayak gimana ciri-ciri cowok itu?” Rina mentoyor kepala temannya itu, namun penasaran juga dengan lelaki yang dilihatnya.
“Dia kurus tinggi, rambutnya keriting kayak sarang tawon, kulitnya hitam manis. Duh, pokoknya cowok banget deh!” teman Rina menjelaskan dengan membabi buta. Tangannya bertautan di depan dada seperti sedang berdoa, sambil mengedip-kedipkan mata secara berlebihan.
Rina tiba-tiba terdiam kaku. Wajahnya berubah seperti mayat. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, mendengar penuturan temannya tentang si lelaki. Ingatan Rina langsung terbang ke kejadian memilukan yang terulang kembali.
“Siapa?” Rina terkejut mendengar suara ketukan di jendela kamarnya. Dia membuka sedikit gorden, dan melihat anak kost yang baru dua minggu menyewa kamar kontrakan ayahnya.
“Mau apa?” tanyanya pada lelaki tanpa kaus. Mau tak mau dia membuka jendelanya, agar bisa mendengar yang lelaki itu katakan.
Lelaki jangkung itu menjawab dengan tindakan. Dia langsung melompat masuk dan menyekap mulut Rina memakai saputangan yang dia bawa. Tanpa banyak kata, lelaki bejat itu membuka paksa pakaian gadis malang tersebut dan menggaulinya.
“Sssttt, jangan nangis. Biar ini jadi rahasia kita, ya?” ujar lelaki itu, sebelum pergi meninggalkan Rina di kamarnya.
“Aaarrgghhh!” tiba-tiba Rina berteriak histeris mendengar temannya menceritakan tentang sosok lelaki itu. Dia menjambaki rambutnya, menjatuhkan diri hingga berguling di lantai.
“Rin, kamu kenapa? Rina ... tolong-tolong!” Dian, teman Rina bingung melihat kejadian itu. Dia langsung berlari menuju kontrakan di samping rumah Rina.
“Ada apa, Mbak?” tanya salah satu penghuni kost, yang mendengar teriakan.
“I-itu ... Rin-na, tolongin dia!” Dian gagap tak bisa menjelaskan. Dia langsung saja menarik lengan lelaki yang tadi bertemu di warung, menuju kamar Rina.
“Tidak, jangan dekati aku! Keluar kamu!” Rina justru makin histeris, melihat lelaki yang datang bersama temannya. Namun lelaki bertelanjang dada itu tetap maju mendekati Rina, dan langsung mendekapnya.
“Sssttt, jangan berisik! Aku sudah bilang, kan? Itu hanya akan menjadi rahasia kita berdua, selamanya.” bisik lelaki tersebut pada Rina. Bisikan yang berhasil membuat gadis malang itu mendadak diam, meski masih dengan tubuh gemetar ketakutan.
“Rin, kamu ... gapapa, kan?” Dian memastikan keadaan temannya. Dia menarik napas lega, melihat Rina tenang dalam pelukan lelaki tampan di depannya.
“Dia gapapa, tolong ambilin air minum untuk Rina, bisa?” lelaki berambut jabrik yang menjawab. Dian langsung menuju dapur, memenuhi permintaannya.
“Boleh saya tahu, apa yang terjadi sama Rina?” tanya si lelaki, setelah Rina berhasil tidur dengan tenang.
“Ga ada apa-apa kok, saya baru datang terus cerita tentang pertemuan kita. Tiba-tiba dia histeris setelah saya ceritain ciri-ciri kamu. Saya juga bingung, kenapa dia jadi begitu. O iya, nama kamu siapa?” jawab Dian pelan dan diakhiri dengan pertanyaan.
“Saya Andre, baru tinggal di kontrakan milik ayahnya Rina. Saya calon suami Rina.
Dian tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya membuka mulutnya lebar-lebar.

*****

 “Wah, keren banget nih ruangan! Dekorasinya artistik, luas, cahayanya juga pas. Betah deh gua di sini, Rin!”
“Duh, Na, aku lagi gugup begini kamu malah keliling ga jelas!” sahut Rina dengan nada cemas. Dia duduk kaku di ujung sofa, kedua tangan terlipat rapi di atas paha dan telunjuk bergerak mengetuk pelan. Matanya berputar, memandang ke segala arah.
“Ngeeeng ... brrmmmm, brrrmmm! Ciiitttt .... prang!” gadis kecil sibuk memainkan pajangan mobil antik, di atas meja hias hingga lengannya menyenggol vas bunga dan hancur menjadi pecahan beling kecil-kecil.
“Ade! Duh, gimana nih?” Rina semakin panik. Ketukan telunjuknya semakin cepat di atas paha, matanya terbelalak ke arah vas bunga yang hancur.
“Hahahaha, santai aja Rin! Yang punya vasnya juga cuek, kok. Ujar Na, melirik ke arah wanita di kursi besar dekat sofa.
Gadis kecil berponi hanya meringis mendengar teguran Rina, dan mengambil bunga plastik di antara pecahan beling lalu berputar-putar menari mengelilingi ruangan.
Akhirnya setelah satu jam berlalu, kegaduhan pun berakhir. Tiba-tiba ada yang memegang lembut bahu Rina lalu berkata, “sayang sekali waktu bermain sudah habis, Rina. Minggu depan saya tunggu kamu, ya? Kita main lagi di sini.”
Rina menarik napas lega. Dia tersenyum pada wanita berkacamata tersebut, dan langsung berdiri menuju pintu.
“Pak, Bu, saya harap minggu depan Rina bisa kemari lagi, nanti saya resepkan obat penenang untuknya.” wanita tua tersebut memberi wejangan terakhir pada kedua orangtua Rina.
“Baik, Dok ....” jawab mereka singkat.
“O ya, satu lagi. Boleh saya tahu, siapa Na dan Ade?” pertanyaan dokter tersebut membuat kedua orangtua Rina urung berdiri, mereka berpandangan sebelum menjawabnya.
“Na itu panggilan dia waktu kecil, Dok. Sedangkan Ade sebutan sayang dari almarhum ayahnya dulu.” Jawab ibu Rina pelan.

*****

 “Shalatullah shalamullah, alla toha rasulillah ... shalatullah shalamullah, ala yaasiin habibillah ....” shalawat ramai terdengar dari ibu-ibu pengajian yang mengiringi kepergiannya. Yang lain berebut bersalaman, ingin mengucapkan selamat jalan dan jangan lupa membawa oleh-oleh setelah pulang menjadi TKW.
“Pak, aku berangkat ... titip Na. Ndak lama kok, cuma dua tahun.”
Wanita berhijab putih itu mengusap airmata yang keluar. Dia sudah mengambil keputusan, demi kehidupan yang lebih baik. Dipeluknya anak kecil berponi di hadapannya. Tangisnya tak dapat dibendung lagi.
“Ade jangan nakal ya, nurut sama Bapak. Mama cuma sebentar kok, nanti kalau Mama udah punya uang banyak Ade bisa sekolah, terus Mama beliin sepatu, seragam sekolah, tas yang bagus, boneka besar ... Ade mau, kan?”
Anak berponi itu hanya mengangguk pelan, sambil punggung tangannya mengelap kasar cairan yang keluar dari hidung. Mamanya membelai kepalanya lembut, dan perlahan melepaskan pelukan lalu masuk ke dalam mobil dan lama tak kembali.
 Sudah hampir setahun mamanya pergi, gadis kecil berponi masih saja menanyakan kapan Mama pulang pada Bapaknya.
“Pak, Mama kok belum pulang? Ade kangen, Ade mau tidur sama Mama.”
“Iya, Ade yang sabar ya? Sebentar lagi Mama pulang kok. Sekarang Ade bobonya sama Bapak aja, kita main kuda-kudaan gimana, Ade mau kan?” Bapaknya menjawab lembut, sambil membelai rambut panjang anaknya.
Begitulah anak kecil, mudah dirayu dengan hal kecil yang menyenangkan baginya. Tidak butuh waktu lama untuk menganggukkan kepala. Senyum lebar tersungging, sudah terbayang dia akan menaiki punggung Bapaknya lalu merangkak mengitari ruangan sebelum tidur.
Sayangnya apa yang Ade bayangkan hanya sebentar terjadi. “De, Bapak capek nih. Ade mau, kan pijitin punggung Bapak? Nanti Bapak kasih lihat film, judulnya Biru.”
Anak polos itu kasihan pada Bapaknya. Sekali lagi dia menganggukkan kepala, dan tak lama Bapaknya menepati janji, dia memutarkan film lalu mengajak Ade untuk tidur di sampingnya supaya bisa nonton bersama.
Ade heran, kenapa Bapak napasnya kencang sekali di telinganya. Saat menengok, dia melihat Bapaknya sedang memasukkan tangan kirinya ke dalam celana. Tak lama kemudian Bapaknya bertanya, “Ade, tempat pipis Bapak pegal, tolong pijitin ya?”
Ade bingung, bagaimana cara memijat tempat pipis? namun belum sempat anak kecil itu menggeleng, Bapaknya sudah memegang lengannya dan menggiringnya ke sana.
 “Pak, Ade capek, Ade mau bobo.” Ade berkata sambil mencoba menarik lengannya.
“Ya udah, Ade bobo.” Jawab Bapaknya, sambil meniduri Ade. Setan pun melanjutkan tugasnya, setelah anaknya tertidur pulas, dia langsung membuka celana Ade lalu melakukan hal bejat itu pada anak kandungnya sendiri.
“Pak, ngapain? Tempat pipis Ade sakit!” anaknya terbangun lalu menangis. Pria bejat itu hanya membelai kepala anaknya, lalu berbisik, “Sssttt ... Ade jangan nangis, mulai sekarang Bapak mau main kuda-kudaan lagi sama Ade tapi ini rahasia, ya? Ade jangan bilang siapa-siapa.”
Anak malang itu menangis tiap malam. Dia selalu merasa kesakitan, tapi Bapaknya tidak peduli.

Friday, March 8, 2019

Cerpen - SIAPA YANG BISA MENOLONG KITA?

SIAPA YANG BISA MENOLONG KITA?

Langit terlihat gelap, petir sesekali menyambar sembarang arah ketika terlihat seorang gadis berjalan terburu-buru seakan takut hujan mengejarnya.

"Ma, aku pulang!" teriaknya sambil langsung saja menerobos masuk, tanpa memencet bel terlebih dahulu.

"Mama ke mana sih, gelap amat rumah!" gadis berseragam putih abu itu menggerutu pelan. Dia melepas tas, jaket, dan sepatunya lalu melemparnya ke segala arah.

"Ma?" sekali lagi teriakan terdengar, tetap tidak ada jawaban. Dia menelusuri ruang tamu, lalu menuju ruang keluarga tapi mamanya tetap tidak terlihat. Gadis putih itu menaiki tangga menuju kamar orangtuanya, namun kamar mereka terlihat rapi dan tidak ada tanda-tanda di mana mamanya berada.

"Jangan-jangan, Mama pergi ...." si gadis mulai khawatir. Dia kembali turun dan memeriksa dapur, tempat mamanya paling sering ditemukan, tapi tidak kali ini.

Karena lelah mencari-cari, gadis berambut panjang itu kembali ke ruang keluarga dan merebahkan diri di sofa.

"Ah, sudahlah. Nanti juga Mama pulang." Gumamnya kemudian, lalu tertidur.

Gina terbangun mendadak, ketika tiba-tiba terdengar suara orang berjalan di ruang tamu. Baru saja dia berdiri untuk melihat siapa yang datang, tepat saat mamanya berdiri di ujung ruangan.

"Mama!" Gina berteriak senang melihat sosok di ujung ruangan, dia berlari memeluk mamanya.

"Mama dari mana saja? Rumah kosong dan gelap waktu Gina pulang, karena kecapekan jadi tertidur deh ... Mama kenapa, kok pucat begitu?" Gina menghentikan ceracaunya melihat wajah sang mama yang tidak seperti biasa. Dia langsung saja menggiring mamanya ke sofa, khawatir jatuh pingsan.

"Mama tidak apa-apa, Gin. Mungkin hanya kelelahan, istirahat sebentar juga segar lagi." jawab mamanya pelan, setelah duduk di sofa.

"Ma, Gina mau cerita sesuatu ...." Gina ragu-ragu berkata, takut mamanya bertambah pucat setelah mendengar ceritanya.
"Kok malah diam, katanya mau cerita?" mamanya balik bertanya, melihat Gina hanya terdiam menunduk.

Gina kembali yakin untuk menceritakan kejadian yang dialaminya tadi, namun terhenti saat mendengar lagi satu suara langkah kaki yang terkesan terburu-buru.

"Ma, Gina?" Gina menghela napas lega mendengar suara papanya memanggil.

"Ah kebetulan Papa sudah pulang, jadi Gina tidak cerita dua kali." Katanya lega.

"Kamu tidak apa-apa, Gin? Ya Allah, syukurlah!" papanya menghiraukan ucapan Gina, dan langsung memeluk serta mencium kening anak itu.

"Tunggu dulu! Papa pikir sebaiknya Mama dulu yang bercerita, kenapa wajah Mama pucat sekali?" papanya kembali menyela cerita Gina, kali ini Gina tidak keberatan dan menganggukkan kepala. Melihat kekhawatiran kedua orang yang disayanginya, mamanya pun menghela napas sebelum bercerita.

*****

  "Halo, Ma? Papa hari ini pulang terlambat, ada meeting mendadak di kantor. Tidak usah menunggu Papa untuk makan malam, Mama makan saja duluan sama Gina, ya?"

"Yaah, Papa! Padahal Mama sudah buat makanan spesial hari ini. Ya sudah, tidak apa-apa. Papa hati-hati nanti pulangnya, malam tahun baru pasti macet."

"Iya, Ma, jangan khawatir. O iya, Gina sudah pulang, Ma?"

"Belum Pa, katanya ada latihan cheerleader terakhir hari ini di sekolah."

"Telepon dia lagi, Ma. Entah kenapa perasaan Papa tidak enak hari ini, sebenarnya Papa ingin cepat-cepat pulang, tapi rapat ini tidak bisa ditinggal atau ditunda lagi. Ya sudah, Papa kerja lagi ya Ma? Salam sayang untuk anak gadis kita."

"Oke, Pa. Love you."

"Love you too, Ma."

"Kriing ... Kriing!"

"Ya, selamat sore?"

"Sore, dengan Bu Wanda?"

"Ya, saya sendiri. Maaf, dengan siapa saya bicara?"

"Kami dari rumah sakit Harapan Sehat, Bu. Sebelumnya, apa benar anak Ibu bernama Gina Saraswati bersekolah di SMA Pelita Kasih?"

"Ya, benar! Ada apa sebenarnya?"

"Maaf Bu, kami mau mengabarkan kalau anak Ibu saat ini berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan."

"Ap-apa maksudnya? Anda jangan bercanda dengan saya, ya!"

"Kami tidak bercanda, Bu. Kami harap Ibu bisa datang secepatnya ke rumah sakit."
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, setelah mendengar penjelasan seseorang di ujung telepon. Apakah Gina meninggal? Tidak, itu tidak mungkin! Anakku pasti baik-baik saja, tidak mungkin dia pergi secepat itu. Ini pasti hanya salah orang, Gina masih di sekolah latihan cheerleader jadi tidak mungkin dia kecelakaan."

Apa yang harus kulakukan sekarang? Meski tidak percaya dengan berita tersebut, aku tetap merasa khawatir. Tubuh serasa tidak bertulang mendengar kabar buruk itu. Tapi aku harus tetap memberitahukan berita ini secepatnya, lalu langsung mengambil HP yang sempat terjatuh dan mengirim WA singkat.

Lalu, apa lagi? Aku berusaha tenang, memikirkan apa lagi yang harus kuperbuat setelah mengirim WA. Pergi ke rumah sakit! Ya, aku harus ke sana sekarang juga ... Mana tas dan sepatuku?

Setelah akhirnya berhasil menemukan tas dan sepatu, aku bergegas mengambil kunci mobil. Gina, tunggu Mama, Nak. Mama akan secepatnya menjemputmu. Gumamku terus menerus selama dalam perjalanan.

Sedan merah ini memang bisa diandalkan. Aku sedikit bangga pada mobil hadiah ulang tahun dari suamiku bulan lalu. Mobil ini bisa cepat sampai rumah sakit, apalagi berkendara dengan kecepatan penuh. Aku harus memastikan kebenaran berita tersebut.

Pikiran terhadap Gina memenuhi otakku, namun hati juga terlalu sibuk membanggakan mobil baru hingga tidak menyadari ada motor ojek online dari arah berlawanan. Mobil yang kukendarai dengan kecepatan penuh, tiba-tiba bertabrakan dengan ojek online tersebut.

Sudah terlambat untuk menginjak rem. Tabrakan sudah tidak bisa dihindari, penumpangnya terlempar hingga trotoar, dan pengemudi ojek itu mendarat di atas kap mobil lalu kepalanya terbentur kaca depan.

Kepalaku pun ikut terbentur stir mobil, darah keluar dari kening semakin lama makin banyak. Kesadaran semakin menipis, hilang ... Semua hilang dalam sekejap.

*****

'Pa, Gina kecelakaan. Sekarang di rumah sakit Harapan Sehat.' WA  dari istri membuat buyar semua presentasi yang sedang dirapatkan sore ini. Anakku lebih penting dari proyek besar itu, jadi aku langsung melesat keluar ruangan secepat mungkin menuju tempat parkir. Teriakan asisten dan kolega kerja sudah tidak terdengar lagi, hanya wajah anak semata wayang yang terlihat di mana-mana.

Begitu berada dalam mobil, aku langsung tancap gas ke rumah sakit. Tapi baru sepuluh menit melaju aku sudah harus berhenti lagi. Kemacetan dan hujan seakan tidak peduli keinginanku untuk cepat sampai di rumah sakit. Klakson berulangkali kutekan supaya yang di depan bergerak maju, walau tahu itu tak mungkin.

Lima, sepuluh, lima belas ... Dua puluh menit terjebak macet, seperti sudah dua jam. Begitu jalanan kembali terurai, aku langsung melesat dengan kecepatan maksimal. Aku tidak sempat melihat jelas penyebab macet, tapi sepertinya ada tabrakan antara sedan merah dengan sebuah ojek online.

Melihat sekilas penyebab kemacetan, aku kembali teringat Gina di rumah sakit. Mobil kutancap tanpa menginjak rem. Begitu hampir sampai di rumah sakit, mobil oleng dan menerobos trotoar hingga terbalik. Kepalaku terbentur keras sekali, dan langsung tidak sadarkan diri.

Istriku, di mana kau saat ini? Gina, maafkan Papa yang tidak sempat melihatmu untuk terakhir kalinya. Tuhan, seperti inikah rasanya ....

Bagaimana dengan semua hasil jeri payahku selama ini, siapa yang akan menikmatinya? Presentasiku, proyek-proyek besar, siapa yang akan menggantikan melakukan semuanya?

Sakit ... Rasanya ternyata sakit sekali!

*****

"Hei, Gin! Nanti sore kita jadi ke puncak, kan?" Dini menepuk bahuku saat jam pelajaran kosong. Gank Cozy yang beranggotakan aku, Dini, Sissy, Cecilia, dan Tantri memang selalu kompak sebagai gank paling cantik di sekolah. Siapa yang tidak kenal dengan Gank Cozy? Bahkan seluruh anak perempuan di sekolah selalu berebut perhatian supaya bisa menjadi anggotanya.

Seperti biasa, aku dan ke empat temanku selalu hangout bersama setiap weekend. Tentu saja tanpa izin pada kedua orangtua, karena mereka sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Kecuali Mama-Papa tentunya, yang justru selalu mengiyakan semua permintaanku.

"Sstt, iya jadi! Tapi jangan pake toa dong, nanti bisa gagal rencana kita!"

"Heehehe, iya sorry! Ke kantin, kuy? Yang lain udah ada di sana."

Aku tersenyum mendengar ucapan Dini. Aku tahu, mereka pasti habis kena hukum lagi karena membuat ulah di kelas. Sissy, Cecilia, dan Tantri memang sekelas, hanya aku dan Dini saja yang berbeda.

"Hei, gals! Gimana nih persiapannya?" Dini langsung ke topik pembicaraan saat bergabung dengan yang lain, aku memilih untuk langsung memesan makanan.

"Sstt, Dini! Loe mau rencana kita gagal? Pelan dikit dong suaranya!" Tantri melotot pada Dini. Yang ditegur hanya memamerkan barisan giginya.

Di manapun gank Cozy berada, di situlah pusat keramaian terjadi. Tawa dan candaku bersama teman-teman tidak pernah membuat yang lain terganggu, bahkan sebaliknya. Mereka seperti melihat sekumpulan artis. Begitu pula saat ini, ketika hendak membicarakan rencana kabur di jam terakhir supaya lebih cepat sampai ke puncak.

Rencana berjalan lancar sejauh ini. Aku dan teman-teman langsung menaiki mobil Tantri, begitu berhasil lolos dari pengawasan guru-guru dan satpam sekolah.

"Yihaaa, puncak here we come!" Sissy berteriak kencang, saat akhirnya mobil Tantri meluncur di jalan tol. Aku yang duduk di samping Tantri, menyetel radio mobil dengan volume maksimal lalu bernyanyi bersama.

Sayangnya kebahagiaan itu hanya sebentar. Tantri gagal menyalip truk di depan, akhirnya mobil menabrak pembatas jalan. "Tantri, awas ... Aarrgh!"

Saat terbangun aku lihat banyak polisi. Orang-orang membantu proses evakuasi. Anehnya aku tidak melihat teman-teman, hanya ada tubuhku yang terbaring kaku. Ke mana mereka?

Aku harus segera pulang, untuk memberitahu Mama dan Papa soal ini. Karena kalau bukan mereka, siapa lagi yang mau menolongku?

*****

"Maafin Gina ya Ma, Pa? Gara-gara Gina bohong semuanya jadi begini. Aku menyesal sekali ... Kalau sudah begini, siapa yang bisa menolong kita?" Gina menangis dan memeluk kedua orangtuanya setelah bercerita.

"Sudahlah, Gin. Tidak baik menyesali yang sudah lama terjadi. Apapun yang audah dan akan terjadi pada kita, setidaknya kita tetap bersama selamanya." Ucap papanya sambil mengelus bahu Gina. Mamanya mengangguk dan tersenyum.

"Papamu benar, Gin. Setidaknya kita masih bisa melihat keindahan malam ini bersama-sama. Coba deh kamu lihat ke luar." Ujar mamanya.

Gina membalikkan badan, tepat ketika terdengar suara petasan berulangkali dan terlihat percikan warna-warni indah di atas langit. Gina tersenyum dan mengusap airmatanya sambil berbisik pada diri sendiri, "sudah satu tahun, Gina."

Dalam hati Gina masih berharap, suatu hari nanti akan ada yang mau menolong dia dan kedua orangtuanya pulang entah dengan cara apa. Harapan Gina mendapat titik terang, saat pagi harinya terdengar banyak suara langkah kaki dan orang-orang bicara bahkan ada yang berteriak di ruang tamu.

***** 

 Suara 1 : "Nah, ini dia rumahnya. Ini adalah ruang tamu, dan di sebelah kanan sana ruang keluarga lalu di belakang ada dapur serta kamar mandi tamu. Kamar tidur ada enam, tiga di sebelah kiri dan tiga lagi di atas dengan kamar mandi di dalamnya."

Suara 2 : "Bagus juga. Gimana menurut kamu, Ma?"

Suara 3 : "Hmmm ... Andra, jangan lari-lari! Andri, ke atasnya nanti bareng Mama! Aduuhh, Pa, aku nyusul Andri dulu ya ke atas? Maaf Pak, saya permisi ... Maklum, beginilah repotnya punya anak kembar tiga. Andre, kamu sama Papa ya, jangan ke mana-mana!"

Suara 2 : "Ya sudah, sana. Itu tangganya masih kuat, Pak?"

Suara 1 : "Insya Allah masih kuat, Pak."

Suara 2 : "Andra, sini Nak! Maaf, bagaimana tadi, Pak?"

Suara 4 : "Hiiyyy, Papa ... Andra takut!"

Suara 2 : "Ada apa, Andra? Maaf, permisi sebentar, Pak."

Suara 1 : "Oh silakan, Pak, silakan. Memang kebetulan saya hendak mengajak ke sana kok."

Suara 4 : "Di sini gelap, Pa, hu uuu uh ...."

Suara 2 : "Kan Papa tadi panggil kamu, kenapa tidak datang malah terus ke sini? Ini ruangan apa, Pak?"
Suara 1 : "Seperti yang tadi saya bilang, Pak, ini ruang keluarga. Memang agak gelap, karena lampunya sengaja saya matikan."

Suara 5 : "Pa, kok udah ada tamu? Tuh, lagi duduk bertiga di sofa ...."

Friday, March 1, 2019

Cerpen TITIK

"Mas, kenapa kamu jahat banget sama aku? kurang apa aku selama ini sama kamu, adik-adik, orangtua kamu, hah! dari mereka masih sebesar pitik sampai punya cucu, semuanya aku yang urus! lihat tuh anak-anak kita, sampai kurus kayak anak cacingan begitu, saking apa coba itu Mas? saking kita ga punya apa-apa! semuanya habis untuk keluarga kamu aja, capek aku, Mas! kamu ga malu dilihat sama orang-orang? rumah miring, anak kurang gizi, kerja serabutan, pusing aku Mas, pusiiiing! emangnya adik-adik kamu itu pada ga ada otaknya apa? ga ngeliat gimana keadaan kakaknya? kalau mau uang minta dong sama anak-anak mereka, minta sama cucu sana, jangan minta ke kamu! kamunya juga sih, Mas, terlalu manjain mereka! udah pada bangkotan masih aja manja, ga mau usaha, sama aja kayak kamu semuanya! kalau kamu kayak pak haji Burhan sih ga masalah aku, Mas! aku lemparin uang segeok tiap bulan semuanya, biar pada mangap ga bisa mingkem lagi sekalian! lah ini, kakaknya aja kere masih diisap juga! keterlaluan banget sih mereka? kalau kamu mau adik-adik kamu sejahtera semuanya, usaha dong Mas, usaha! pergi sana ke Arab, Hongkong, Amerika, ke mana aja deh sana! cari duit yang banyak buat adik-adik kamu aja, ga usah mikirin anak-anak sama istri kamu sendiri, pikirin aja mereka biar puas sampai kamu modar sekalian! biar aja anak-anak aku sendiri yang urus! aku masih bisa kok kerja di pabrik kayak si Markonah teman SD aku! buktinya dia aja bisa sekolahin anak tiga sejak suaminya mati! aku juga bisa anggap kamu mati, daripada stress mikirin keluarga kamu ga pernah ada selesainya! sekarang gini aja deh, Mas, kamu kan lelaki ya? lelaki bukan? kalau kamu ngerasa lelaki, sekarang kamu pilih keluarga besar kamu di sana atau keluarga kecil kamu sekarang, hah? kalau kamu pilih mereka ya silakan kamu pergi  kelonin adik-adik kamu sana! ga usah mikirin anak-anak! anak-anak biar punya hidup baru yang normal sama aku di sini, aku rela Mas, aku ikhlas kerja banting tulang peras keringat 24 jam demi anak-anak! biar aku sekolahin mereka sampai jadi orang, biar bisa bantu keluarga kamu ya itu juga kalau mereka masih pada hidup ya? biar keluarga kamu malu, itu juga kalau mereka punya malu! tapi Mas, kalau kamu pilih anak-anak ya ayo kita berbenah, kita perbaiki hidup fokus untuk anak-anak kita saja, bisa ga kamu? jawab, Mas! ini udah malam, aku kasih kamu waktu untuk mikir sampai besok aku bangun! apapun keputusan kamu Insya Allah aku siap Mas, aku ikhlas dan ridho lillahi taala! semoga keputusan yang kamu ambil itu yang terbaik buat kita semua, Aamiin! tapi ingat ya, Mas, kalau misalnya ternyata kamu pilih keluarga kamu dan bukannya pilih anak-anak pokoknya aku minta cerai, titik!"