SIAPA YANG BISA MENOLONG KITA?
Langit terlihat gelap, petir sesekali menyambar sembarang arah ketika terlihat seorang gadis berjalan terburu-buru seakan takut hujan mengejarnya.
"Ma, aku pulang!" teriaknya sambil langsung saja menerobos masuk, tanpa memencet bel terlebih dahulu.
"Mama ke mana sih, gelap amat rumah!" gadis berseragam putih abu itu menggerutu pelan. Dia melepas tas, jaket, dan sepatunya lalu melemparnya ke segala arah.
"Ma?" sekali lagi teriakan terdengar, tetap tidak ada jawaban. Dia menelusuri ruang tamu, lalu menuju ruang keluarga tapi mamanya tetap tidak terlihat. Gadis putih itu menaiki tangga menuju kamar orangtuanya, namun kamar mereka terlihat rapi dan tidak ada tanda-tanda di mana mamanya berada.
"Jangan-jangan, Mama pergi ...." si gadis mulai khawatir. Dia kembali turun dan memeriksa dapur, tempat mamanya paling sering ditemukan, tapi tidak kali ini.
Karena lelah mencari-cari, gadis berambut panjang itu kembali ke ruang keluarga dan merebahkan diri di sofa.
"Ah, sudahlah. Nanti juga Mama pulang." Gumamnya kemudian, lalu tertidur.
Gina terbangun mendadak, ketika tiba-tiba terdengar suara orang berjalan di ruang tamu. Baru saja dia berdiri untuk melihat siapa yang datang, tepat saat mamanya berdiri di ujung ruangan.
"Mama!" Gina berteriak senang melihat sosok di ujung ruangan, dia berlari memeluk mamanya.
"Mama dari mana saja? Rumah kosong dan gelap waktu Gina pulang, karena kecapekan jadi tertidur deh ... Mama kenapa, kok pucat begitu?" Gina menghentikan ceracaunya melihat wajah sang mama yang tidak seperti biasa. Dia langsung saja menggiring mamanya ke sofa, khawatir jatuh pingsan.
"Mama tidak apa-apa, Gin. Mungkin hanya kelelahan, istirahat sebentar juga segar lagi." jawab mamanya pelan, setelah duduk di sofa.
"Ma, Gina mau cerita sesuatu ...." Gina ragu-ragu berkata, takut mamanya bertambah pucat setelah mendengar ceritanya.
"Kok malah diam, katanya mau cerita?" mamanya balik bertanya, melihat Gina hanya terdiam menunduk.
Gina kembali yakin untuk menceritakan kejadian yang dialaminya tadi, namun terhenti saat mendengar lagi satu suara langkah kaki yang terkesan terburu-buru.
"Ma, Gina?" Gina menghela napas lega mendengar suara papanya memanggil.
"Ah kebetulan Papa sudah pulang, jadi Gina tidak cerita dua kali." Katanya lega.
"Kamu tidak apa-apa, Gin? Ya Allah, syukurlah!" papanya menghiraukan ucapan Gina, dan langsung memeluk serta mencium kening anak itu.
"Tunggu dulu! Papa pikir sebaiknya Mama dulu yang bercerita, kenapa wajah Mama pucat sekali?" papanya kembali menyela cerita Gina, kali ini Gina tidak keberatan dan menganggukkan kepala. Melihat kekhawatiran kedua orang yang disayanginya, mamanya pun menghela napas sebelum bercerita.
*****
"Halo, Ma? Papa hari ini pulang terlambat, ada meeting mendadak di kantor. Tidak usah menunggu Papa untuk makan malam, Mama makan saja duluan sama Gina, ya?"
"Yaah, Papa! Padahal Mama sudah buat makanan spesial hari ini. Ya sudah, tidak apa-apa. Papa hati-hati nanti pulangnya, malam tahun baru pasti macet."
"Iya, Ma, jangan khawatir. O iya, Gina sudah pulang, Ma?"
"Belum Pa, katanya ada latihan cheerleader terakhir hari ini di sekolah."
"Telepon dia lagi, Ma. Entah kenapa perasaan Papa tidak enak hari ini, sebenarnya Papa ingin cepat-cepat pulang, tapi rapat ini tidak bisa ditinggal atau ditunda lagi. Ya sudah, Papa kerja lagi ya Ma? Salam sayang untuk anak gadis kita."
"Oke, Pa. Love you."
"Love you too, Ma."
"Kriing ... Kriing!"
"Ya, selamat sore?"
"Sore, dengan Bu Wanda?"
"Ya, saya sendiri. Maaf, dengan siapa saya bicara?"
"Kami dari rumah sakit Harapan Sehat, Bu. Sebelumnya, apa benar anak Ibu bernama Gina Saraswati bersekolah di SMA Pelita Kasih?"
"Ya, benar! Ada apa sebenarnya?"
"Maaf Bu, kami mau mengabarkan kalau anak Ibu saat ini berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan."
"Ap-apa maksudnya? Anda jangan bercanda dengan saya, ya!"
"Kami tidak bercanda, Bu. Kami harap Ibu bisa datang secepatnya ke rumah sakit."
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, setelah mendengar penjelasan seseorang di ujung telepon. Apakah Gina meninggal? Tidak, itu tidak mungkin! Anakku pasti baik-baik saja, tidak mungkin dia pergi secepat itu. Ini pasti hanya salah orang, Gina masih di sekolah latihan cheerleader jadi tidak mungkin dia kecelakaan."
Apa yang harus kulakukan sekarang? Meski tidak percaya dengan berita tersebut, aku tetap merasa khawatir. Tubuh serasa tidak bertulang mendengar kabar buruk itu. Tapi aku harus tetap memberitahukan berita ini secepatnya, lalu langsung mengambil HP yang sempat terjatuh dan mengirim WA singkat.
Lalu, apa lagi? Aku berusaha tenang, memikirkan apa lagi yang harus kuperbuat setelah mengirim WA. Pergi ke rumah sakit! Ya, aku harus ke sana sekarang juga ... Mana tas dan sepatuku?
Setelah akhirnya berhasil menemukan tas dan sepatu, aku bergegas mengambil kunci mobil. Gina, tunggu Mama, Nak. Mama akan secepatnya menjemputmu. Gumamku terus menerus selama dalam perjalanan.
Sedan merah ini memang bisa diandalkan. Aku sedikit bangga pada mobil hadiah ulang tahun dari suamiku bulan lalu. Mobil ini bisa cepat sampai rumah sakit, apalagi berkendara dengan kecepatan penuh. Aku harus memastikan kebenaran berita tersebut.
Pikiran terhadap Gina memenuhi otakku, namun hati juga terlalu sibuk membanggakan mobil baru hingga tidak menyadari ada motor ojek online dari arah berlawanan. Mobil yang kukendarai dengan kecepatan penuh, tiba-tiba bertabrakan dengan ojek online tersebut.
Sudah terlambat untuk menginjak rem. Tabrakan sudah tidak bisa dihindari, penumpangnya terlempar hingga trotoar, dan pengemudi ojek itu mendarat di atas kap mobil lalu kepalanya terbentur kaca depan.
Kepalaku pun ikut terbentur stir mobil, darah keluar dari kening semakin lama makin banyak. Kesadaran semakin menipis, hilang ... Semua hilang dalam sekejap.
*****
'Pa, Gina kecelakaan. Sekarang di rumah sakit Harapan Sehat.' WA dari istri membuat buyar semua presentasi yang sedang dirapatkan sore ini. Anakku lebih penting dari proyek besar itu, jadi aku langsung melesat keluar ruangan secepat mungkin menuju tempat parkir. Teriakan asisten dan kolega kerja sudah tidak terdengar lagi, hanya wajah anak semata wayang yang terlihat di mana-mana.
Begitu berada dalam mobil, aku langsung tancap gas ke rumah sakit. Tapi baru sepuluh menit melaju aku sudah harus berhenti lagi. Kemacetan dan hujan seakan tidak peduli keinginanku untuk cepat sampai di rumah sakit. Klakson berulangkali kutekan supaya yang di depan bergerak maju, walau tahu itu tak mungkin.
Lima, sepuluh, lima belas ... Dua puluh menit terjebak macet, seperti sudah dua jam. Begitu jalanan kembali terurai, aku langsung melesat dengan kecepatan maksimal. Aku tidak sempat melihat jelas penyebab macet, tapi sepertinya ada tabrakan antara sedan merah dengan sebuah ojek online.
Melihat sekilas penyebab kemacetan, aku kembali teringat Gina di rumah sakit. Mobil kutancap tanpa menginjak rem. Begitu hampir sampai di rumah sakit, mobil oleng dan menerobos trotoar hingga terbalik. Kepalaku terbentur keras sekali, dan langsung tidak sadarkan diri.
Istriku, di mana kau saat ini? Gina, maafkan Papa yang tidak sempat melihatmu untuk terakhir kalinya. Tuhan, seperti inikah rasanya ....
Bagaimana dengan semua hasil jeri payahku selama ini, siapa yang akan menikmatinya? Presentasiku, proyek-proyek besar, siapa yang akan menggantikan melakukan semuanya?
Sakit ... Rasanya ternyata sakit sekali!
*****
"Hei, Gin! Nanti sore kita jadi ke puncak, kan?" Dini menepuk bahuku saat jam pelajaran kosong. Gank Cozy yang beranggotakan aku, Dini, Sissy, Cecilia, dan Tantri memang selalu kompak sebagai gank paling cantik di sekolah. Siapa yang tidak kenal dengan Gank Cozy? Bahkan seluruh anak perempuan di sekolah selalu berebut perhatian supaya bisa menjadi anggotanya.
Seperti biasa, aku dan ke empat temanku selalu hangout bersama setiap weekend. Tentu saja tanpa izin pada kedua orangtua, karena mereka sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Kecuali Mama-Papa tentunya, yang justru selalu mengiyakan semua permintaanku.
"Sstt, iya jadi! Tapi jangan pake toa dong, nanti bisa gagal rencana kita!"
"Heehehe, iya sorry! Ke kantin, kuy? Yang lain udah ada di sana."
Aku tersenyum mendengar ucapan Dini. Aku tahu, mereka pasti habis kena hukum lagi karena membuat ulah di kelas. Sissy, Cecilia, dan Tantri memang sekelas, hanya aku dan Dini saja yang berbeda.
"Hei, gals! Gimana nih persiapannya?" Dini langsung ke topik pembicaraan saat bergabung dengan yang lain, aku memilih untuk langsung memesan makanan.
"Sstt, Dini! Loe mau rencana kita gagal? Pelan dikit dong suaranya!" Tantri melotot pada Dini. Yang ditegur hanya memamerkan barisan giginya.
Di manapun gank Cozy berada, di situlah pusat keramaian terjadi. Tawa dan candaku bersama teman-teman tidak pernah membuat yang lain terganggu, bahkan sebaliknya. Mereka seperti melihat sekumpulan artis. Begitu pula saat ini, ketika hendak membicarakan rencana kabur di jam terakhir supaya lebih cepat sampai ke puncak.
Rencana berjalan lancar sejauh ini. Aku dan teman-teman langsung menaiki mobil Tantri, begitu berhasil lolos dari pengawasan guru-guru dan satpam sekolah.
"Yihaaa, puncak here we come!" Sissy berteriak kencang, saat akhirnya mobil Tantri meluncur di jalan tol. Aku yang duduk di samping Tantri, menyetel radio mobil dengan volume maksimal lalu bernyanyi bersama.
Sayangnya kebahagiaan itu hanya sebentar. Tantri gagal menyalip truk di depan, akhirnya mobil menabrak pembatas jalan. "Tantri, awas ... Aarrgh!"
Saat terbangun aku lihat banyak polisi. Orang-orang membantu proses evakuasi. Anehnya aku tidak melihat teman-teman, hanya ada tubuhku yang terbaring kaku. Ke mana mereka?
Aku harus segera pulang, untuk memberitahu Mama dan Papa soal ini. Karena kalau bukan mereka, siapa lagi yang mau menolongku?
*****
"Maafin Gina ya Ma, Pa? Gara-gara Gina bohong semuanya jadi begini. Aku menyesal sekali ... Kalau sudah begini, siapa yang bisa menolong kita?" Gina menangis dan memeluk kedua orangtuanya setelah bercerita.
"Sudahlah, Gin. Tidak baik menyesali yang sudah lama terjadi. Apapun yang audah dan akan terjadi pada kita, setidaknya kita tetap bersama selamanya." Ucap papanya sambil mengelus bahu Gina. Mamanya mengangguk dan tersenyum.
"Papamu benar, Gin. Setidaknya kita masih bisa melihat keindahan malam ini bersama-sama. Coba deh kamu lihat ke luar." Ujar mamanya.
Gina membalikkan badan, tepat ketika terdengar suara petasan berulangkali dan terlihat percikan warna-warni indah di atas langit. Gina tersenyum dan mengusap airmatanya sambil berbisik pada diri sendiri, "sudah satu tahun, Gina."
Dalam hati Gina masih berharap, suatu hari nanti akan ada yang mau menolong dia dan kedua orangtuanya pulang entah dengan cara apa. Harapan Gina mendapat titik terang, saat pagi harinya terdengar banyak suara langkah kaki dan orang-orang bicara bahkan ada yang berteriak di ruang tamu.
*****
Suara 1 : "Nah, ini dia rumahnya. Ini adalah ruang tamu, dan di sebelah kanan sana ruang keluarga lalu di belakang ada dapur serta kamar mandi tamu. Kamar tidur ada enam, tiga di sebelah kiri dan tiga lagi di atas dengan kamar mandi di dalamnya."
Suara 2 : "Bagus juga. Gimana menurut kamu, Ma?"
Suara 3 : "Hmmm ... Andra, jangan lari-lari! Andri, ke atasnya nanti bareng Mama! Aduuhh, Pa, aku nyusul Andri dulu ya ke atas? Maaf Pak, saya permisi ... Maklum, beginilah repotnya punya anak kembar tiga. Andre, kamu sama Papa ya, jangan ke mana-mana!"
Suara 2 : "Ya sudah, sana. Itu tangganya masih kuat, Pak?"
Suara 1 : "Insya Allah masih kuat, Pak."
Suara 2 : "Andra, sini Nak! Maaf, bagaimana tadi, Pak?"
Suara 4 : "Hiiyyy, Papa ... Andra takut!"
Suara 2 : "Ada apa, Andra? Maaf, permisi sebentar, Pak."
Suara 1 : "Oh silakan, Pak, silakan. Memang kebetulan saya hendak mengajak ke sana kok."
Suara 4 : "Di sini gelap, Pa, hu uuu uh ...."
Suara 2 : "Kan Papa tadi panggil kamu, kenapa tidak datang malah terus ke sini? Ini ruangan apa, Pak?"
Suara 1 : "Seperti yang tadi saya bilang, Pak, ini ruang keluarga. Memang agak gelap, karena lampunya sengaja saya matikan."
Suara 5 : "Pa, kok udah ada tamu? Tuh, lagi duduk bertiga di sofa ...."
No comments:
Post a Comment