Tuesday, April 30, 2019

ASPAL


Sejak kecil, saya suka berdagang. Mungkin karena melihat orangtua, terutama Mama yang berdagang apa saja untuk membantu Bapak memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau mungkin karena banyak orang bilang kalau asli Kuningan itu berjiwa dagang.

Entahlah, yang pasti saya suka berdagang dan apapun saya jual mulai dari pakaian, aksesoris, makanan, hingga yang saat ini sedang saya tekuni yaitu berjualan buku.

Menjual buku sama seperti menjual barang lainnya, susah-susah gampang terutama bagi orang awam seperti saya.

Banyak orang beranggapan, menjadi pedagang tidak harus sekolah mahal-mahal, yang penting bisa menghitung uang dalam bertransaksi. Mungkin ada benarnya, tapi hanya 10%. Berdagang tanpa ilmu, sama seperti tong kosong nyaring bunyinya. Hanya berdasarkan kata mutiara ada yang beli syukur, nggak pun ga apa-apa.

Apalagi berjualan buku, kita harus tahu isi buku yang dijual tentang apa, bagaimana kondisi dalam buku, dan yang lainnya. Tidak mungkin, kan, kita bilang tidak tahu saat ada yang bertanya?
Saya punya pengalaman pahit yang sulit dilupakan, gara-gara tidak ada ilmu berdagang yang mumpuni. Begini ceritanya ....

Tahun 2017, saya mendapat rejeki tak terduga. Seketika itu saya langsung berpikir ingin berjualan buku, dengan modal secukupnya dari rejeki itu saya langsung membeli banyak buku untuk stok di rumah. Saya membelinya pada seorang teman yang juga membeli buku untuk stok. Menurutnya, membeli buku di pasar Gemblong atau pasar Kuitang Jakarta lebih murah dan bisa dijual kembali.

Dengan pertimbangan menghindari macet dan repot membawa banyak buku jika pergi sendiri, maka saya memilih membeli stok buku pada teman saya itu. Saya ingat sekali, dengan uang lima ratus ribu rupiah saya bisa mendapat hampir dua lusin buku.

Dalam hati saya gembira bukan main, sudah terbayang di pelupuk mata akan mendulang banyak rupiah dari buku-buku yang saya beli tersebut.

Sesampainya di rumah, saya langsung mengabadikan satu-persatu buku tersebut dalam poto. Setelah selesai, saya langsung menjualnya lewat semua sosial media yang saya punya seperti Whatsapp, Facebook, Instagram dan berkeliling mendatangi rumah saudara juga teman terdekat.

Alhamdulillah, baru satu minggu berjualan buku saya sudah memegang rupiah hampir 2x lipat dari modal yang dikeluarkan. Buku yang tersisa pun tinggal sedikit, dan saya berencana untuk membeli lebih banyak lagi ke teman saya.

Sayangnya semua itu tidak bisa terlaksana. Salah satu teman yang membeli buku saya menelepon. Dia mengajak bertemu di warung makan dekat rumah. Sesampainya di sana dia sudah menunggu, dan baru saja saya duduk dia langsung menyimpan buku yang dibelinya di meja.

“Maaf ya kalau kamu tersinggung, tapi buku yang kamu jual itu aspal?” saya mengernyitkan kening mendengar kata aspal.

“Maksudnya?” tanya saya balik, tidak mengerti.

“Iya, saya tanya ... buku yang kamu jual itu asli atau palsu?” terangnya lagi.

Saya tertawa setelah tahu aspal yang dia maksud dan baru menjawab, “ya, asli lah! Mana mungkin saya jual buku palsu?”

Teman saya menggelengkan kepala mengetahui kebodohan yang saya perbuat. Dia lalu mengambil buku di meja dan membukanya.

“Kamu lihat, Re, cover buku beda dengan yang di toko buku, buku ini hitam-hitam seperti potokopian, halamannya ada yang hilang tapi ada juga yang dobel. Dan lihat ini! Mana mungkin buku baru bisa terlipat-lipat seperti ini, Re?”

Penjelasan teman, seperti petir menyambar otak saya yang kosong. Saya hanya bisa melongo melihat isi buku yang teman perlihatkan, bahkan paha ayam di depan mulut terlupakan karena kenyataan pahit yang terpampang.

“Sa-saya nggak tahu, saya pikir ....” hanya itu yang bisa keluar dari mulut. Tidak tahu harus berkata apa.

“Makanya, kalau mau jualan itu harus punya ilmu. Jangan asal mikir dapat untung saja apalagi jualan buku. Alhamdulillah kamu jualnya baru ke saudara dan aku, coba ke orang lain? Kamu bisa dituntut kembaliin uang mereka, atau yang lebih parah kamu bisa dilaporin karena jual buku bajakan!”

Teman menyeruput minuman dinginnya, seakan ingin menyiram emosi terhadap kebodohan saya. Sedangkan saya sekali lagi hanya bisa menganga tanpa tahu harus bagaimana.

“Terus, gimana dong?” tanya saya dengan bodohnya.

“Ya kamu minta ganti rugi ke orang itu, kembalikan ke dia buku yang masih ada di kamu.” jawab teman dengan tegas. Tapi saya menggeleng.

“Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan, lagi pula saya nggak enak komplainnya soalnya dia udah Ibu-ibu.”

Teman menepuk dahi mendengar alasan saya, “terus kenapa kalau dia Ibu-ibu? Justru harusnya dia nggak seenaknya menjual buku kualitas jelek begitu, pantas harganya murah!” ucap teman dengan nada yang mulai meninggi.

Saya masih diam mendengar ucapannya. Saya tidak tersinggung, karena tahu ucapannya hanya karena rasa peduli yang besar terhadap temannya yang terlalu polos ini, hingga percaya saja pada ucapan orang lain yang bilang menjual buku-buku asli dan berkualitas.

“Ya udah, nggak apa-apa deh, biar saja sisa bukunya untuk saya pribadi. Lagi pula ini memang kesalahan saya, karena tidak teliti sebelum membeli. Ambil positifnya aja, saya jadikan ini pelajaran, agar lebih teliti dan mencari ilmu yang tepat sebelum menjual sesuatu. Lain kali saya akan jadi reseller yang bisa dropship saja. ” Keputusan bulat pun saya ambil. Teman tidak bisa berbuat banyak dengan keputusan saya.

“Ya sudah, terserah kamu.” ucapnya sambil mengambil gelas minuman saya dan menghabiskan isinya.

Itulah sekelumit cerita tentang pengalaman saya menjual buku. Mungkin yang saya alami bukan apa-apa, tapi saya hanya ingin berbagi dan semoga bermanfaat untuk semua terutama sesama pedagang.

Ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan dari pengalaman saya, yaitu :

1. Teori dan praktek harus seimbang dalam berdagang.
2. Kenali barang yang akan kita jual dan pihak-pihak yang akan bekerjasama   dengan kita.
3. Tidak mudah menyerah, tetaplah berdoa dan berusaha
4. Selalu berpikir positif
5. Berlapang dada dalam menghadapi masalah.
6. Mau menerima saran dan kritik dari orang-orang terdekat demi kemajuan usaha.
7. Jika baru dalam memulai usaha (seperti saya) carilah orang yang mau bekerjasama dengan sistem yang mudah terlebih dahulu. Misalnya tidak menyimpan stok dulu di rumah, carilah yang menawarkan penjualan dengan reseller dan dropship.

Masih banyak cerita lain, seputar bisnis buku dan liku-likunya. Cerita di atas hanya salah satu contoh yang ada dalam buku antologi yang saya dan teman-teman tim penjual El-hidaca buat dengan judul Aku, Buku, dan Masa depanku.

Penasaran dengan cerita lainnya? hubungi saja saya di 081286435421. Happy reading, Readers Just Re. 

Warning : Tulisan ini mengandung iklan, dan bersikap kesengajaan. ambil baiknya jika suka, jika tidak suka jangan dicari buruknya karena penulis hanya seorang manusia jomlo yang tidak sempurna dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata.



Friday, April 26, 2019

SANDAL BERDARAH


Malam masih panjang, ketika terlihat dua orang bercadar sarung mengendap-endap di sudut rumah Haji Ramdan, orang paling kaya di desa Kamasan, Garut.

“Buru atuh, bisi aya nu ningali urang!”* Bisik lelaki bercadar sarung kotak-kotak merah pada teman di depannya.

“Ssst ... ulah gandeng maneh!* Sahut lelaki satunya, yang bercadar sarung hitam polos. Tapi baru saja mereka hendak mencongkel pintu rumah, tiba-tiba ada yang berteriak, “maling ... maling!”

Dengan gerakan cepat lelaki bercadar sarung hitam polos menusukkan pisau untuk mencongkel pintu rumah, pada orang yang berteriak tadi lalu mereka pun langsung berbalik arah, berlari secepat yang mereka mampu ke arah sawah.

“Buruan ari maneh!”* Lelaki bercadar sarung hitam polos meneriaki temannya.

“Haduh, kumaha ieuh ... sandal urang katinggaleun sabeulah! Ah, tapi keun we lah.”* Lanjut temannya.

Siangnya suasana tidak seperti biasa. Orang-orang ramai berjalan beriringan menuju rumah Kang Oman, salah satu warga desa Kamasan yang meninggal tadi malam. Mereka juga ramai membicarakan kasus semalam.

“Eh, karunya nya euy Kang Oman? Mun aya urang mah, beuh ... geus ditinjak eta maling ku urang! Siga kieu yeuh, zep zep zep!”* Didin menirukan gaya bela diri pencak silat di depan teman-temannya.

“Ah, maneh mah omdo, omong doang!”salah satu temannya menyahut sambil tertawa mengejek dan ada yang berbisik, “ulah loba omong sia, bisi kaceplosan!”*

Sesampainya di rumah Kang Oman, terlihat sudah ada beberapa warga yang datang membantu proses pemakaman, sebagian lagi hanya duduk mengobrol di halaman rumah dan ada pula yang mengaji yaasiin untuk Kang Oman. Dari semua orang yang ada di sekitar rumah, terlihat di deretan kursi paling ujung seorang pria duduk menyendiri sambil memegang sebuah sandal. Dia terus saja membolak-balik sandal itu, seperti sedang mencari sesuatu yang penting.

Satu minggu berlalu, kehebohan tentang kematian Kang Oman sudah menghilang berganti dengan datangnya anak perempuan Haji Ramdan dari kota. Kecantikannya membuat semua pemuda desa berebut mendapatkan perhatiannya, dan melupakan gadis-gadis lain.

Malam minggu di desa Kamasan, ramai oleh anak-anak muda yang bergerombol di warung kopi. Mereka mengobrol, bercanda sambil menghangatkan badan dengan minum kopi atau teh hangat.
“Din, rek kamana maneh?”* Salah satu pemuda bertanya pada temannya, yang tiba-tiba beranjak bangun.

Yang ditanya menjawab sambil nyengir kuda, “rek ka imah Haji Ramdan, malmingan jeung Neng Santi anu bohay tea, hehehe!”*

“Paingan atuh, isuk-isuk geus meuli sandal jepit anyar ti pasar, hahahaha!”* Temannya meledek dan disambut dengan tawa keras dari yang lain. Kecuali satu pemuda berkaos merah di sudut warung.

Malam sudah mulai menampakkan dirinya, ketika terlihat seseorang membuntuti satu pemuda. Orang itu berjalan seperti biasa, namun tetap menjaga jarak. Dia tidak mau mengambil risiko ketahuan, setelah tiga hari ini mengikuti pemuda itu.

Tidak berapa lama kemudian, si pemuda menghentikan langkahnya di samping rumah Haji Ramdan lalu mengeluarkan HP. Selang lima menit kemudian, keluarlah seorang wanita berambut bahu menghampiri. Wanita cantik  anak Haji Ramdan yang baru datang dari Jakarta itu terlihat montok, terutama karena dia memakai kaos ketat yang ditutupi dengan jaket jeans dan rok mini.
Mereka berdua berjalan bergandengan menuju saung di tengah sawah, tanpa menyadari sedikit pun telah diikuti oleh seseorang.

“Neng cantik, Aa boleh mnta itunya, ga?” Didin mulai merayu Santi, tak lama setelah sampai di saung.

“Minta apa, A Didin ganteng?” Santi bertanya genit, pura-pura tidak tahu maksud pemuda di dekatnya.

“Ininya, Neng ....” Didin menyentuh bibir merah gadis itu, dan langsung mendekatkan bibirnya sendiri, namun tiba-tiba ....

“Bug bug bug!” Seseorang yang sedari tadi mengikuti mereka, menghantam kepala Didin dengan batu berkali-kali hingga dia jatuh tak sadarkan diri. Masih belum puas, pemuda berkaos merah itu menusukkan pisau yang sejak tadi dibawanya, tepat ke jantung Didin dan baru berhenti setelah kekasihnya berteriak.

“Randi, hentikan! Bukan dia yang membunuh Abah!”

“Apa katamu?” Randi bertanya, dengan tangan masih memegang pisau.

Dengan suara bergetar Santi menjawab, “bu-bukan dia pelakunya, ta-tapi temannya dari kampung sebelah yang menusuk Abahmu! Aku sudah memintanya untuk bercerita. Dia bilang temannya dari kampung sebelah, Barong dan Wildan menginap di rumahnya. Didin sama sekali tidak tahu mereka berdua merencanakan akan merampok rumah Ayahku, Didin baru tahu setelah mereka menceritakannya sendiri sesudah Abah dimakamkan. Sandal jepit itu memang milik Didin, mungkin dipakai oleh Barong atau Wildan.”

Randi berdiri setelah Santi selesai bercerita. Dia mendekati Santi, entah kenapa gadis kekasihnya selama di Jakarta merasa takut melihat tatapan mata Randi, hingga tak sadar dia mundur perlahan.

“A-ada apa?” Santi bertanya terbata-bata. Bukan jawaban yang dia dapat, tapi ciuman panas dari Randi. Santi mulai terbuai, ketika tiba-tiba Randi menusuk perutnya. Santi terbelalak kesakitan, dia tidak menyangka kekasihnya akan tega melakukan itu padanya.

“Ran-di, ke ... kenap-pa kamu tega melakukan ini?”

“Itu karena kelakuanmu sendiri! Kamu pikir aku tidak tahu, kelakuan kamu sama si tolol itu, hah? Kamu kira aku membunuhnya karena berpikir dia pembunuh Abah? Hei perempuan jalang, si Barong dan Wildan sudah mati kemarin, oleh pisau ini juga!” Randi mendorong Santi kekasihnya, ke sawah setelah berkata begitu.

#footnote : *Ayo cepat, keburu ada yang lihat kita
*Sssttt ... jangan berisik, kamu
*Ayo kamu cepat
*Haduh, bagaimana nih, sandal saya ketinggalan sebelah ... ah, gapapa deh
*eh, kasihan ya Kang Oman? Coba ada saya, udah saya injak tuh maling! Kayak gini nih ....
*Ah, kamu sih omdo
*Jangan banyak omong kamu, takut keceplosan
*Din, mau ke mana kamu?
*Mau ke rumah Haji Ramdan, malmingan sama Neng Santi yang bohay itu ....
*Pantesan, pagi-pagi udah beli sandal jepit baru di pasar!

Tuesday, April 16, 2019

Sexy Killers, Salah Siapa?

Bekasi, 16 April 2019

Melihat openingnya, sempat saya matikan karena ada keponakan. “Ga boleh, Wa!” Katanya melarang. Tapi karena penasaran, akhirnya setelah dia pergi saya putuskan untuk menonton sampai selesai.
Film dokumenter yang dibuat oleh watch doc itu bercerita tentang pembunuh dengan lekukan tajam di tiap jalurnya. Sang pembunuh kehidupan rakyat miskin, masyarakat pedalaman yang terkena imbasnya langsung demi untuk memberi kita cahaya.
Berawal dari pendirian pertambangan di wilayah Kalimantan Timur, yang ternyata memakan banyak korban meninggal terutama anak-anak. Lubang-lubang bekas penambangan yang tergenang air dengan polosnya mereka jadikan kolam renang, hingga tenggelam dan ditemukan tanpa nyawa.
Masyarakat sering memprotes, mereka ingin lubang-lubang itu ditutup dan diberi tanda supaya tidak lagi memakan korban. Tuntutan sampai ke pemerintah daerah, hanya saja jawaban yang diberikan tidak mencerminkan seorang pemimpin daerah yang cerdas. Bukannya menindaklanjuti keinginan warganya, dia justru menyalahkan makhlus halus dan hanya berkata bahwa hal itu memang sudah menjadi nasibnya untuk meninggal di area pertambangan.
Ternyata bukan hanya itu saja. Tongkang-tongkang yang membawa batubara dari Kalimantan menuju pulau Karimun Jawa pun merugikan nelayan. Batubara-batubara yang jatuh ke laut membuat ikan banyak yang mati, terumbu karang pun rusak terkena jangkar dan gesekan tongkang-tongkang tersebut.
Untunglah Rainbow Warrior, aktivis lingkungan hidup bisa mengurangi aktivitas hilir mudik semua tongkang tersebut dengan menuliskan ‘CORAL NOT COAL!’ pada badan kapal dan mengusir mereka dari wilayah tersebut.
Kerugian masyarakat Indonesia bukan hanya itu saja. PLTU yang didirikan pun membuat orang-orang seperti Surayah dan Novianti menderita penyakit yang disebabkan oleh asap yang ditimbulkan.
Salah siapa sebenarnya semua ini? Apakah ini salah para pengusaha borjuis, yang dengan pongahnya mendirikan pabrik-pabrik tanpa memedulikan rakyat sekitar? Atau salah kita, yang membutuhkan listrik tiap detiknya?
Tanda tanya akan selalu ada menyertai setiap tindakan. Begitu juga dengan masalah ini.
Jika mereka para pengusaha borjuis itu tidak mendirikan PLTU, kita tidak bisa menggunakan listrik sedangkan listrik menjadi salah satu kebutuhan pokok kita sejak lama.  
Namun saudara-saudara kita harusnya tetap bisa bernapas dengan leluasa, mereka harusnya juga bahagia seperti kita, Ramadhani, Ema, dan anak-anak lainnya harusnya masih bisa bermain, belajar, mengejar cita-cita mereka!
Lalu bagaimana? Mau tidak mau, suka atau tidak PLTU memang harus ada, tongkang-tongkang harus tetap berlayar mengangkuti berton-ton batubara demi listrik tetap menyala.
Itu menjadi PR bagi kita semua. Mulai dari diri pribadi, hingga para pengusaha borjuis tersebut. Bagaimana caranya?
Mungkin kita bisa mulai menghemat listrik, atau menjaga lingkungan sekitar kita, atau mungkin para pengusaha borjuis itu bisa lebih peduli dengan masyarakat sekitar pertambangan, pabrik-pabrik atau PLTU-PLTU yang mereka dirikan dengan memberikan hak mereka sepenuhnya atas lahan-lahan yang mereka ambil untuk pembangunan, dan lebih peduli dengan lingkungan sekitar masyarakat dengan menjaga atau meminimalisir limbah yang terbuang agar tidak mengenai masyarakat secara langsung.
Atau mungkin pemerintah bisa lebih concern dalam mengatasi semua masalah yang ditimbulkan secara langsung maupun tidak langsung.
Semua hal tersebut tidak bisa sepenuhnya menjamin kenyamanan mereka, tapi setidaknya sekecil apapun hal yang kita lakukan bisa menjadi wujud terima kasih kita terhadap pengorbanan mereka.
Akhirnya penulis hanya bisa mengajak semua untuk berdoa, semoga Indonesia selalu diberi kebaikan oleh Allah SWT, di usianya yang senja ini.
Dan penulis juga hanya bisa mengucapkan rasa terima kasih kepada Ema, Ramadhani, Mat Juri, Ketut, Surayah, Novianti dan masyarakat lainnya yang telah berkorban demi sebuah cahaya.
Semoga kalian diberi ganjaran yang setimpal atas pengorbanan kalian selama ini. Aamiin.