Sejak kecil, saya suka berdagang. Mungkin karena melihat orangtua, terutama Mama yang berdagang apa saja untuk membantu Bapak memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau mungkin karena banyak orang bilang kalau asli Kuningan itu berjiwa dagang.
Entahlah, yang pasti saya suka berdagang dan apapun saya jual mulai dari pakaian, aksesoris, makanan, hingga yang saat ini sedang saya tekuni yaitu berjualan buku.
Menjual buku sama seperti menjual barang lainnya, susah-susah gampang terutama bagi orang awam seperti saya.
Banyak orang beranggapan, menjadi pedagang tidak harus sekolah mahal-mahal, yang penting bisa menghitung uang dalam bertransaksi. Mungkin ada benarnya, tapi hanya 10%. Berdagang tanpa ilmu, sama seperti tong kosong nyaring bunyinya. Hanya berdasarkan kata mutiara ada yang beli syukur, nggak pun ga apa-apa.
Apalagi berjualan buku, kita harus tahu isi buku yang dijual tentang apa, bagaimana kondisi dalam buku, dan yang lainnya. Tidak mungkin, kan, kita bilang tidak tahu saat ada yang bertanya?
Saya punya pengalaman pahit yang sulit dilupakan, gara-gara tidak ada ilmu berdagang yang mumpuni. Begini ceritanya ....
Tahun 2017, saya mendapat rejeki tak terduga. Seketika itu saya langsung berpikir ingin berjualan buku, dengan modal secukupnya dari rejeki itu saya langsung membeli banyak buku untuk stok di rumah. Saya membelinya pada seorang teman yang juga membeli buku untuk stok. Menurutnya, membeli buku di pasar Gemblong atau pasar Kuitang Jakarta lebih murah dan bisa dijual kembali.
Dengan pertimbangan menghindari macet dan repot membawa banyak buku jika pergi sendiri, maka saya memilih membeli stok buku pada teman saya itu. Saya ingat sekali, dengan uang lima ratus ribu rupiah saya bisa mendapat hampir dua lusin buku.
Dalam hati saya gembira bukan main, sudah terbayang di pelupuk mata akan mendulang banyak rupiah dari buku-buku yang saya beli tersebut.
Sesampainya di rumah, saya langsung mengabadikan satu-persatu buku tersebut dalam poto. Setelah selesai, saya langsung menjualnya lewat semua sosial media yang saya punya seperti Whatsapp, Facebook, Instagram dan berkeliling mendatangi rumah saudara juga teman terdekat.
Alhamdulillah, baru satu minggu berjualan buku saya sudah memegang rupiah hampir 2x lipat dari modal yang dikeluarkan. Buku yang tersisa pun tinggal sedikit, dan saya berencana untuk membeli lebih banyak lagi ke teman saya.
Sayangnya semua itu tidak bisa terlaksana. Salah satu teman yang membeli buku saya menelepon. Dia mengajak bertemu di warung makan dekat rumah. Sesampainya di sana dia sudah menunggu, dan baru saja saya duduk dia langsung menyimpan buku yang dibelinya di meja.
“Maaf ya kalau kamu tersinggung, tapi buku yang kamu jual itu aspal?” saya mengernyitkan kening mendengar kata aspal.
“Maksudnya?” tanya saya balik, tidak mengerti.
“Iya, saya tanya ... buku yang kamu jual itu asli atau palsu?” terangnya lagi.
Saya tertawa setelah tahu aspal yang dia maksud dan baru menjawab, “ya, asli lah! Mana mungkin saya jual buku palsu?”
Teman saya menggelengkan kepala mengetahui kebodohan yang saya perbuat. Dia lalu mengambil buku di meja dan membukanya.
“Kamu lihat, Re, cover buku beda dengan yang di toko buku, buku ini hitam-hitam seperti potokopian, halamannya ada yang hilang tapi ada juga yang dobel. Dan lihat ini! Mana mungkin buku baru bisa terlipat-lipat seperti ini, Re?”
Penjelasan teman, seperti petir menyambar otak saya yang kosong. Saya hanya bisa melongo melihat isi buku yang teman perlihatkan, bahkan paha ayam di depan mulut terlupakan karena kenyataan pahit yang terpampang.
“Sa-saya nggak tahu, saya pikir ....” hanya itu yang bisa keluar dari mulut. Tidak tahu harus berkata apa.
“Makanya, kalau mau jualan itu harus punya ilmu. Jangan asal mikir dapat untung saja apalagi jualan buku. Alhamdulillah kamu jualnya baru ke saudara dan aku, coba ke orang lain? Kamu bisa dituntut kembaliin uang mereka, atau yang lebih parah kamu bisa dilaporin karena jual buku bajakan!”
Teman menyeruput minuman dinginnya, seakan ingin menyiram emosi terhadap kebodohan saya. Sedangkan saya sekali lagi hanya bisa menganga tanpa tahu harus bagaimana.
“Terus, gimana dong?” tanya saya dengan bodohnya.
“Ya kamu minta ganti rugi ke orang itu, kembalikan ke dia buku yang masih ada di kamu.” jawab teman dengan tegas. Tapi saya menggeleng.
“Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan, lagi pula saya nggak enak komplainnya soalnya dia udah Ibu-ibu.”
Teman menepuk dahi mendengar alasan saya, “terus kenapa kalau dia Ibu-ibu? Justru harusnya dia nggak seenaknya menjual buku kualitas jelek begitu, pantas harganya murah!” ucap teman dengan nada yang mulai meninggi.
Saya masih diam mendengar ucapannya. Saya tidak tersinggung, karena tahu ucapannya hanya karena rasa peduli yang besar terhadap temannya yang terlalu polos ini, hingga percaya saja pada ucapan orang lain yang bilang menjual buku-buku asli dan berkualitas.
“Ya udah, nggak apa-apa deh, biar saja sisa bukunya untuk saya pribadi. Lagi pula ini memang kesalahan saya, karena tidak teliti sebelum membeli. Ambil positifnya aja, saya jadikan ini pelajaran, agar lebih teliti dan mencari ilmu yang tepat sebelum menjual sesuatu. Lain kali saya akan jadi reseller yang bisa dropship saja. ” Keputusan bulat pun saya ambil. Teman tidak bisa berbuat banyak dengan keputusan saya.
“Ya sudah, terserah kamu.” ucapnya sambil mengambil gelas minuman saya dan menghabiskan isinya.
Itulah sekelumit cerita tentang pengalaman saya menjual buku. Mungkin yang saya alami bukan apa-apa, tapi saya hanya ingin berbagi dan semoga bermanfaat untuk semua terutama sesama pedagang.
Ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan dari pengalaman saya, yaitu :
1. Teori dan praktek harus seimbang dalam berdagang.
2. Kenali barang yang akan kita jual dan pihak-pihak yang akan bekerjasama dengan kita.
3. Tidak mudah menyerah, tetaplah berdoa dan berusaha
4. Selalu berpikir positif
5. Berlapang dada dalam menghadapi masalah.
6. Mau menerima saran dan kritik dari orang-orang terdekat demi kemajuan usaha.
7. Jika baru dalam memulai usaha (seperti saya) carilah orang yang mau bekerjasama dengan sistem yang mudah terlebih dahulu. Misalnya tidak menyimpan stok dulu di rumah, carilah yang menawarkan penjualan dengan reseller dan dropship.
Masih banyak cerita lain, seputar bisnis buku dan liku-likunya. Cerita di atas hanya salah satu contoh yang ada dalam buku antologi yang saya dan teman-teman tim penjual El-hidaca buat dengan judul Aku, Buku, dan Masa depanku.
Penasaran dengan cerita lainnya? hubungi saja saya di 081286435421. Happy reading, Readers Just Re.
Warning : Tulisan ini mengandung iklan, dan bersikap kesengajaan. ambil baiknya jika suka, jika tidak suka jangan dicari buruknya karena penulis hanya seorang manusia jomlo yang tidak sempurna dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata.