Malam masih panjang, ketika terlihat dua orang bercadar sarung mengendap-endap di sudut rumah Haji Ramdan, orang paling kaya di desa Kamasan, Garut.
“Buru atuh, bisi aya nu ningali urang!”* Bisik lelaki bercadar sarung kotak-kotak merah pada teman di depannya.
“Ssst ... ulah gandeng maneh!* Sahut lelaki satunya, yang bercadar sarung hitam polos. Tapi baru saja mereka hendak mencongkel pintu rumah, tiba-tiba ada yang berteriak, “maling ... maling!”
Dengan gerakan cepat lelaki bercadar sarung hitam polos menusukkan pisau untuk mencongkel pintu rumah, pada orang yang berteriak tadi lalu mereka pun langsung berbalik arah, berlari secepat yang mereka mampu ke arah sawah.
“Buruan ari maneh!”* Lelaki bercadar sarung hitam polos meneriaki temannya.
“Haduh, kumaha ieuh ... sandal urang katinggaleun sabeulah! Ah, tapi keun we lah.”* Lanjut temannya.
Siangnya suasana tidak seperti biasa. Orang-orang ramai berjalan beriringan menuju rumah Kang Oman, salah satu warga desa Kamasan yang meninggal tadi malam. Mereka juga ramai membicarakan kasus semalam.
“Eh, karunya nya euy Kang Oman? Mun aya urang mah, beuh ... geus ditinjak eta maling ku urang! Siga kieu yeuh, zep zep zep!”* Didin menirukan gaya bela diri pencak silat di depan teman-temannya.
“Ah, maneh mah omdo, omong doang!”salah satu temannya menyahut sambil tertawa mengejek dan ada yang berbisik, “ulah loba omong sia, bisi kaceplosan!”*
Sesampainya di rumah Kang Oman, terlihat sudah ada beberapa warga yang datang membantu proses pemakaman, sebagian lagi hanya duduk mengobrol di halaman rumah dan ada pula yang mengaji yaasiin untuk Kang Oman. Dari semua orang yang ada di sekitar rumah, terlihat di deretan kursi paling ujung seorang pria duduk menyendiri sambil memegang sebuah sandal. Dia terus saja membolak-balik sandal itu, seperti sedang mencari sesuatu yang penting.
Satu minggu berlalu, kehebohan tentang kematian Kang Oman sudah menghilang berganti dengan datangnya anak perempuan Haji Ramdan dari kota. Kecantikannya membuat semua pemuda desa berebut mendapatkan perhatiannya, dan melupakan gadis-gadis lain.
Malam minggu di desa Kamasan, ramai oleh anak-anak muda yang bergerombol di warung kopi. Mereka mengobrol, bercanda sambil menghangatkan badan dengan minum kopi atau teh hangat.
“Din, rek kamana maneh?”* Salah satu pemuda bertanya pada temannya, yang tiba-tiba beranjak bangun.
Yang ditanya menjawab sambil nyengir kuda, “rek ka imah Haji Ramdan, malmingan jeung Neng Santi anu bohay tea, hehehe!”*
“Paingan atuh, isuk-isuk geus meuli sandal jepit anyar ti pasar, hahahaha!”* Temannya meledek dan disambut dengan tawa keras dari yang lain. Kecuali satu pemuda berkaos merah di sudut warung.
Malam sudah mulai menampakkan dirinya, ketika terlihat seseorang membuntuti satu pemuda. Orang itu berjalan seperti biasa, namun tetap menjaga jarak. Dia tidak mau mengambil risiko ketahuan, setelah tiga hari ini mengikuti pemuda itu.
Tidak berapa lama kemudian, si pemuda menghentikan langkahnya di samping rumah Haji Ramdan lalu mengeluarkan HP. Selang lima menit kemudian, keluarlah seorang wanita berambut bahu menghampiri. Wanita cantik anak Haji Ramdan yang baru datang dari Jakarta itu terlihat montok, terutama karena dia memakai kaos ketat yang ditutupi dengan jaket jeans dan rok mini.
Mereka berdua berjalan bergandengan menuju saung di tengah sawah, tanpa menyadari sedikit pun telah diikuti oleh seseorang.
“Neng cantik, Aa boleh mnta itunya, ga?” Didin mulai merayu Santi, tak lama setelah sampai di saung.
“Minta apa, A Didin ganteng?” Santi bertanya genit, pura-pura tidak tahu maksud pemuda di dekatnya.
“Ininya, Neng ....” Didin menyentuh bibir merah gadis itu, dan langsung mendekatkan bibirnya sendiri, namun tiba-tiba ....
“Bug bug bug!” Seseorang yang sedari tadi mengikuti mereka, menghantam kepala Didin dengan batu berkali-kali hingga dia jatuh tak sadarkan diri. Masih belum puas, pemuda berkaos merah itu menusukkan pisau yang sejak tadi dibawanya, tepat ke jantung Didin dan baru berhenti setelah kekasihnya berteriak.
“Randi, hentikan! Bukan dia yang membunuh Abah!”
“Apa katamu?” Randi bertanya, dengan tangan masih memegang pisau.
Dengan suara bergetar Santi menjawab, “bu-bukan dia pelakunya, ta-tapi temannya dari kampung sebelah yang menusuk Abahmu! Aku sudah memintanya untuk bercerita. Dia bilang temannya dari kampung sebelah, Barong dan Wildan menginap di rumahnya. Didin sama sekali tidak tahu mereka berdua merencanakan akan merampok rumah Ayahku, Didin baru tahu setelah mereka menceritakannya sendiri sesudah Abah dimakamkan. Sandal jepit itu memang milik Didin, mungkin dipakai oleh Barong atau Wildan.”
Randi berdiri setelah Santi selesai bercerita. Dia mendekati Santi, entah kenapa gadis kekasihnya selama di Jakarta merasa takut melihat tatapan mata Randi, hingga tak sadar dia mundur perlahan.
“A-ada apa?” Santi bertanya terbata-bata. Bukan jawaban yang dia dapat, tapi ciuman panas dari Randi. Santi mulai terbuai, ketika tiba-tiba Randi menusuk perutnya. Santi terbelalak kesakitan, dia tidak menyangka kekasihnya akan tega melakukan itu padanya.
“Ran-di, ke ... kenap-pa kamu tega melakukan ini?”
“Itu karena kelakuanmu sendiri! Kamu pikir aku tidak tahu, kelakuan kamu sama si tolol itu, hah? Kamu kira aku membunuhnya karena berpikir dia pembunuh Abah? Hei perempuan jalang, si Barong dan Wildan sudah mati kemarin, oleh pisau ini juga!” Randi mendorong Santi kekasihnya, ke sawah setelah berkata begitu.
#footnote : *Ayo cepat, keburu ada yang lihat kita
*Sssttt ... jangan berisik, kamu
*Ayo kamu cepat
*Haduh, bagaimana nih, sandal saya ketinggalan sebelah ... ah, gapapa deh
*eh, kasihan ya Kang Oman? Coba ada saya, udah saya injak tuh maling! Kayak gini nih ....
*Ah, kamu sih omdo
*Jangan banyak omong kamu, takut keceplosan
*Din, mau ke mana kamu?
*Mau ke rumah Haji Ramdan, malmingan sama Neng Santi yang bohay itu ....
*Pantesan, pagi-pagi udah beli sandal jepit baru di pasar!
No comments:
Post a Comment