Monday, September 16, 2019

KANKER PAYUDARA? NO WAY!




Berdasarkan data dari luar negeri pada tahun 2012, kanker payudara merupakan penyebab kematian kedua pada wanita, bahkan menjadi peringkat pertama pada tahun 2018 sebesar 58%.

Penyebab kanker payudara di antaranya adalah :

1. Tidak/kurang mengerti tentang kanker

2. Kurang memerhatikan payudara

3. Rasa takut untuk operasi/kemoterapi/radiasi

4. Percaya obat-obatan tradisional/dukun/paranormal

5. Faktor ekonomi/BPJS

6. Rasa malu

Apa perbedaan antara tumor dengan kanker?

Tumor berupa benjolan dan ada dua jenis, jinak dan ganas dengan ciri-ciri

berkapsul, tidak menyebar, dan tidak membahayakan kehidupan. Sedangkan tumor ganas memiliki ciri-ciri tidak berapsul atau menyerbuk di jaringan sekitar, berkemampuan hidup di organ lain/menyebar, dan membahayakan bagi kehidupan.

Sedangkan kanker adalah sekelompok penyakit yang ditandai oleh pertumbuhan yang tidak terkendali dan penyebaran sel-sel abnormal.

Pengenalan kanker payudara perlu dilakukan karena banyak pihak tidak bertanggung jawab menyebar informasi sesat dan menjadikannya sebagai peluang bisnis serta kurangnya kesadaran mengakibatkan keterlambatan memperoleh pertolongan medik.

Mekanisme terjadinya kanker payudara bisa karena faktor keturunan, yaitu sel normali yang terkena faktor eksternal (bahan kimia dan radiasi sinar matahari atau ultraviolet serta carcinogens) lalu mendapat dorongan/promotor dari estrogen hingga menyebabkan sel kanker progresif.

Faktor-faktor yang biasanya menyebabkan risiko tinggi terkena kanker payudara adalah :

1. Haid pertama di usia kurang dari 10 tahun

2. Menopause di usia lebih dari 50 tahun

3. Tidak pernah melahirkan anak

4. Melahirkan anak pertama di usia lebih dari 35 tahun

5. Tidak pernah menyusui anak

6. Pernah operasi tumor payudara

Namun jika ditemukan secara dini dan langsung ditangani secara tepat, maka akan memberika harapan hidup lebih besar bagi penderita dengan cara early detection yaitu :

1. SADARI/perikSA payuDAra sendiRI

2. Lakukan pemeriksaan mendetail oleh dokter

3. Lakukan pemeriksaan penunjang seperti memografi, ultrasonografi, MRI, dll.

Biasanya kanker payudara bisa dikenali dengan gejala-gejala serta tanda yang sering terjadi seperti :

1. Adanya benjolan 80% terdeteksi lebih dari 1 cm atau rasa menebal pada payudara dan biasanya terjadi tanpa nyeri.

2. Keluarnya cairan atau darah dari puting

3. Terjadinya perubahan pada ukuran/bentuk payudara

4. Perubahan pada warna/bentuk areola

5. Adanya kemerahan atau pembengkakan kulit.

6. Maligna (konsistensi keras, tidak nyeri, tidak rata, melekat ke kulit/dinding dada)

7. Skin dimpling/lesung pipi pada payudara

8. Paget’s disesase/borok

Kita sendiri yang lebih mengenal tubuh kita. Dan jangan salah, walaupun kanker payudara lebih sering terjadi pada wanita namun lelaki pun tidak menutup kemungkinan bisa terkena.

Untunglah sekarang ada pemeriksaan klinis yang lebih maju dan modern lagi di rumah sakit-rumah sakit tertentu seperti onkologi, mamografi yang dilakukan pada penderita di usia lebih dari 40 tahun, serta ultrasound yang dilakukan pada wanita usia muda atau kurang dari 35 yang bisa dilakukan tiap 3 tahun sekali.

Tingkatan kanker payudara terdiri dari stadium 1, 11A, 11B, 111A, 111B, dan stadium IV. Dengan penanganan seperti pembedahan, kemoterapi, terapi radiasi, terapi hormonal, dan terapi targetting.

Beberapa tehnik pembedahan yang dilakukan tergantung pada tingkat keganasan kanker payudara :

1. Klasik mastektomi, mified radical mastektomi

2. Breast conserving treatment

3. Skin sparing mastektomi and nipple sparing

Dengan catatan khusus bahwa semua tindakan di atas dengan rekonstruksi segera atau ditunda, tergantung dokter yang menangani.

Meski kanker payudara merupakan penyebab kematian terbesar pada wanita, namun bukan berarti tidak bisa dicegah, seperti kata pepatah mencegah lebih baik dari mengobati maka mari kita lakukan pencegahan dengan cara pola hidup sehat, pola makan sehat, aktivitas olahraga yang cukup, serta berpikir positif/hindari stress.

Namun manusia hanya bisa berusaha, jika memang harus terjadi lakukanlah deteksi dini dengan kemungkinan tidak perlu dilakukan kemoterapi, dan yakinlah itu sebagai penggugur dosa dan ujian atau bahkan mungkin berkah dari Allah SWT.

Lakukanlah terapi jika memang diharuskan karena menunda terapi sama dengan memberi kesempatan kanker tumbuh subur. Karena kanker terjadi melalui proses yang panjang, temukan sebelum menjadi kanker atau saat masih berukuran kecil (stadium dini) supaya meningkatkan keberhasilan pengobatan.

Satu hal lagi yang harus kita yakini jika memang terkena kanker payudara, walau efek samping terapi radiasi berat tapi badai pasti berlalu. So ladies, lets we take action together to defeat breast cancer early diagnose is the key.






Monday, May 27, 2019

HAM



Pemilihan lurah baru telah selesai. Pesta rakyat menyambut kemenangan pun sudah usai, namun ternyata euphoria masih terasa hingga satu bulan berlalu.
 "Alhamdulillah ya, sekarang kita punya tetangga lurah."
 "Iya, jadi kan enak kalau ada apa-apa, tinggal datang ke rumahnya atau kita WA minta Bu Lurah yang datang ke rumah kita."
 Ibu-ibu PKK asik mengobrol, sembari menunggu yang lain sebelum kegiatan rutin PKK dimulai. Ibu Lurah yang mendengar hal itu hanya tersenyum simpul, lalu menanggapinya dengan canda ringan.
 "Boleh kok, datang saja ke rumah ... Asal jangan minta makan setiap hari ya, Ibu-ibu?"
 "Hahahaha, Ibu Lurah bisa aja." Yang lain pun tertawa mendengarnya.
 "Sudah ah bercandanya. Sepertinya yang lain tidak datang, bagaimana kalau kita mulai saja? Nah, tuh Bu RW juga kebetulan sudah datang. Sekarang sudah jam lima, nanti
keburu maghrib deh!" Bu RT yang ikut hadir mengingatkan, dan langsung membuka
acara dengan berdoa bersama lalu membacakan susunan acara.
 Langit telah berubah warna menjadi orange, di masjid pun sudah mulai melantunkan
shalawat dan bacaan alquran ketika akhirnya kegiatan rutin para ibu di perumahan selesai. Mereka keluar dari ruangan gedung serba guna, ada yang jalan kaki bersama, ada
pula yang berboncengan dengan sepeda motor.
 Bu Lurah, Bu RT, dan Bu RW masih berada di ruangan, membahas program kerja
untuk satu bulan ke depan sekaligus rapat intern menyambut kemerdekaan Indonesia.
 ***
Matahari baru saja muncul setelah hujan deras semalaman, tapi rumah Bu Lurah sudah kedatangan tamu. Mereka datang dengan alasan berbeda, namun dalam hatinya Bu
Lurah tahu mereka datang untuk menagih janjinya saat kampanye.
 "Assalamualaikum, Neng Lurah? Punteun, maaf ya Nenek datang pagi-pagi
ngarepotkeun." Wanita tua berkerudung hijau lumut itu langsung bicara, begitu Bu
Lurah datang menemuinya.
 "Iya Nek, tidak apa-apa. Nenek saha namina, siapa namanya, Nek? Aya naon Nenek,
ada apa datang kemari?" Bu Lurah menjawabnya dengan sabar, dan duduk di hadapan wanita dengan sebutan nenek tersebut.
 Nenek berkebaya coklat menghela napas sejenak, sebelum mengutarakan maksud
kedatangannya. Nenek itu masih diam untuk beberapa saat, meski begitu Bu Lurah tetap sabar menunggu wanita tua tersebut bicara.
 "Nami Nenek, Markonah. Begini Neng Lurah, sebenarnya malu bilangnya ... Tapi kalau gak bilang, Nenek bingung harus bagaimana. Nenek sendirian di rumah, udah gak
 punya siapa-siapa."
 "Kunaon malu segala, kenapa harus malu atuh, Nek? Sok atuh, ayo cerita aja."
 "Begini Neng Lurah, semalam hujan deras kan ya? Nah, rumah Nenek bocor di mana-
mana tapi Nenek tidak tahu harus bagaimana, Neng." Desakan Bu Lurah berhasil
membuatnya bicara.
 Bu Lurah mengucap istighfar dalam hati. Dia merasa sangat iba, ternyata masih banyak warga yang menderita seperti Nenek di hadapannya dan mempertanyakan kinerja RT
dan RW di desa nenek itu.
 "Ya sudah, nanti sepulang kerja saya mampir ke rumah Nenek. Tunggu saja di rumah,
 ya?" Bu Lurah berucap, menenangkan hati orang tua tersebut.
 "Nenek ambil ini, untuk kebutuhan di rumah. Cuma sedikit, tapi semoga bermanfaat
buat Nenek." Uang yang Bu Lurah selipkan ke tangan tamunya membuat senyum sang
tamu secerah matahari di luar, ketika mengucap terima kasih dan pamit untuk pulang.
***
 Setelah tamu dari kampung sebelah itu pulang, Bu Lurah langsung bersiap-siap hendak berangkat ke kelurahan. Dia sudah merencanakan program kerja yang hendak
dilaksanakan selama sebulan ke depan, dan mengingatkan diri agar tidak lupa mampir
ke rumah nenek Markonah sepulang kerja.
"Pagi, Bu?" sapaan perangkat desa menyambutnya begitu sampai. Bu Lurah langsung
masuk ke ruangannya, lalu tak lama kemudian memanggil anak buahnya untuk rapat.
 "Selamat pagi Bapak dan Ibu sekalian. Saya minta semuanya ke sini, semata untuk
 membicarakan program awal kerjasama kita selama sebulan untuk membangun desa
yang lebih baik lagi." Bu Lurah diam sesaat sebelum melanjutkan. 
"Untuk tahap awal, saya minta kalian bentuk tiga tim. Tim pertama bertugas mendata
masyarakat yang kurang mampu di desa-desa yang masuk ke dalam wilayah kelurahan, dan tim kedua bertugas menangani proses perbaikan jalan di desa-desa tersebut
termasuk pendanaan dan pengukuran jalan, lalu tim ketiga mengurus program E-KTP."
 Bu Lurah terdiam lagi. Matanya menatap satu persatu petugas yang ada di kelurahan
untuk melihat ekspresi mereka. Ada yang mengangguk-angguk, ada pula yang sedang
berpikir.
 "Sampai di sini, ada pertanyaan?" mereka menjawab pertanyaan Bu Lurah dengan
 gelengan kepala, dan Bu Lurah pun melanjutkan.
 "Baik, kalau tidak ada pertanyaan kita lanjutkan dengan pembentukan tim. Pertanyaan
 boleh diajukan setelah tim terbentuk, dan kalian bisa bekerja sama dengan seluruh RT
serta RW di setiap desa. Untuk sementara rapat selesai, terima kasih atas kerja samanya dan semoga sukses."
 Bu Lurah menutup rapat dengan mengucap hamdalah, lalu anak buahnya keluar dari
ruangan satu persatu untuk mulai bekerja. Lurah cantik itu masih mengurus berkas-
berkas beberapa saat lamanya, lalu keluar untuk pergi melihat rumah tamunya tadi pagi.
***
 Untuk pergi ke desa sebelah, Bu Lurah mengajak satu orang petugas kelurahan bersamanya. Mereka melewati sawah-sawah yang membentang di kanan dan kiri jalan, lalu
 pepohonan besar dengan rumah penduduk yang terpisah cukup jauh dari rumah lainnya.
 Bu Lurah yang sedang menikmati pemandangan, tiba-tiba menghentikan mobilnya. Bu Lurah ingin menghentikan seorang lelaki yang sedang menjambak rambut wanita, Bu
Lurah menduga wanita itu istrinya.
 "Gua udah sering bilang sama Loe kan, Marni? Setiap Gua minta uang Loe langsung
kasih semua, jangan bilang ga ada atau Gua habisin Loe!"
 Bu Lurah mendengar ucapan kasar itu, dan langsung memegang lengan kekar pria yang hendak menampar wanita kurus di hadapan pria itu.
 "Heh, siapa Loe? Berani-beraninya ikut campur urusan Gua, pergi Loe dari sini!" lelaki tinggi besar itu melotot pada Bu Lurah. Dia menarik lengan yang terhalang gerakannya, sambil menghardik wanita lembut tersebut.
 "Saya Lurah di desa ini, dan ini akan jadi urusan Saya kalau Bapak masih kasar sama
perempuan!" Bu Lurah menjawab tegas pertanyaan pria hitam tersebut. Lelaki itu tidak dapat menutupi rasa terkejutnya, tapi dia hanya meludahi wanita yang masih menangis
 tersebut lalu pergi begitu saja.
 "Sudah Bu, dia sudah pergi sekarang." Bu Lurah berjongkok, meraih bahu perempuan
kusut itu lalu memeluknya.
 "Te-terima kasih ... Bu," perempuan ringkih itu hanya bisa mengucap satu kalimat.
 Siapa lelaki tadi, apa dia sering kasar seperti itu?" Bu Lurah langsung bertanya pada
pokok permasalahan.
 "Dia suami Saya, Bu. Sikap kasar itu dilakukannya setiap hari, sejak di PHK. Dia selalu minta uang untuk berjudi ...." wanita itu menangis lagi. Bu Lurah mengusap bahunya
untuk menenangkan wanita di dekatnya. Setelah Marni tenang, Bu Lurah segera
 melanjutkan perjalanannya.
***
 Bulan pertama sebagai lurah telah dilaluinya. Satu persatu program sudah mulai dijalankan. Rumah Nek Markonah hampir selesai diperbaiki, ditambah warung kecil untuk
biaya hidup sehari-hari.
Hari sudah mulai sore, ketika Bu Lurah hendak melihat perkembangan rumah si nenek dan kembali memergoki suami Marni yang sedang mengamuk. Dia memukuli istrinya
 dengan sebatang bambu.
 "Hentikan! Hei, berhenti atau saya panggil polisi!" Bu Lurah kembali berteriak dan
memegang lengan pria kesetanan itu. Marni berlari dan betsembunyi di balik tubuh Bu Lurah.
 "Ngapain Loe ke sini lagi, hah? Udah Gua bilang ini bukan urusan Loe!" suami Marni meneriaki Bu Lurah. Matanya merah seakan hendak keluar dari tempatnya. Dari aroma mulutnya, Bu Lurah tahu lelaki itu sedang mabuk.
 "Sekarang ini menjadi urusan Saya, dan bisa Saya pastikan sebentar lagi polisi datang
menangkap Anda!" setelah berkata demikian, Bu Lurah mengeluarkan HP dan
menelepon seseorang.
 Bu Lurah mengajak Marni masuk ke dalam mobil, ia memikirkan sesuatu untuk
menyelamatkan Marni dan diutarakannya pemikiran itu pada Marni dan Nek Markonah begitu sampai di rumah ibu sepuh itu.
 "Assalamualaikum, Nek? Bagaimana, sudah selesai warungnya?" tanya Bu Lurah pada Nek Markonah yang sedang mengangkat jemuran. Tukang-tukang yang bekerja sudah
pulang beberapa menit yang lalu.
Waalaikumussalam, Neng Lurah. Alhamdulillah saeutik deui, sedikit lagi selesai, Neng. Eleuh, geuning aya Neng Marni?" Nek Markonah terkejut melihat tetangganya berada di belakang Bu Lurah.
 "Iya Nek, karena itulah Saya ke sini mau minta tolong sama Nenek, untuk sementara
Marni tinggal di sini dulu, bisa?" Bu Lurah langsung mengutarakan maksudnya. Nek
 Markonah terlihat terkejut mendengar penuturan Bu Lurah. Dia tahu bagaimana suami Marni, dan takut membayangkan amukannya namun tidak berkuasa menolak
 permintaan wanita yang telah menolongnya.
 "Kalau Neng Marni tidak keberatan, Nenek teu nanaon Neng Lurah, tidak apa-apa." Bu Lurah bernapas lega, setelah mendengar persetujuan Nek Markonah dan melihat
 anggukan Marni. Setelah itu Bu Lurah tinggal pergi ke kantor polisi.
 "Alhamdulillah, terima kasih Nek? Sekarang Saya pamit dulu, besok insyaAllah ke sini lagi. Assalamualaikum." Bu Lurah pamit pada dua wanita beda generasi tersebut.
Hatinya lega, satu masalah sebentar lagi akan segera teratasi tanpa tahu sebenarnya
suami Marni telah merencanakan sesuatu.
 ***
Malam harinya, Marni dan Nek Markonah telah terlelap ketika tiba-tiba pintu ada yang mendobrak. Nenek malang tersebut tangannya diikat dan mulutnya disumpal,
sedangkan Marni diperkosa secara brutal oleh dua orang bertopeng sarung.
 "Tidak! Jangan ... Ampun, sakit!" teriakan Marni memecah malam, seakan menembus bumi dan menarik gugusan bintang. Nek Markonah hanya bisa menangis
melihat semuanya. Bahkan tangisan nenek malang itu tidak juga berhenti, ketika
melihat Marni dengan mata kosong keluar rumah tanpa busana.
 Keesokan paginya, Bu Lurah geram sekaligus sedih mendengar cerita Nek Markonah.
Dan bertambah geram ketika mengetahui rumah Marni kosong, suaminya kabur entah
ke mana.
 ***
Sudah sembilan bulan sejak kejadian itu. Jangankan orang lain, Marni sendiri pun sudah lupa siapa dirinya. Marni selalu berjalan tanpa tujuan dan pakaian, dengan perut
 membuncit. Setiap bertemu orang lain dia tertawa keras, tapi ketika melihat anak kecil dia menangis dan saat sedang sendiri Marni mengoceh tak karuan.
 Siang ini matahari sedang memancarkan keangkuhannya, ketika tiba-tiba terdengar
suara tangisan bayi di halaman kelurahan. Pamong desa yang mendengar langsung
keluar mencari tahu, dan mereka semua menangis tertahan melihat Marni sedang
 terlentang mengangkang dengan bayi di bawahnya.
 "Ada ap ... Ya Allah, Gusti!" Ibu Lurah menutup mulutnya melihat pemandangan
 mengerikan di depannya. Beliau spontan mendekati Marni perlahan, lalu membelai
rambutnya yang masai. Marni tertawa lebih keras dari biasanya, terlihat tetesan airmata menuruni pipi yang hitam karena debu. Marni kemudian menyerahkan bayi itu pada Bu Lurah.
 Bu Lurah mengusap airmatanya yang jatuh. Ia tersenyum kecil, dan menerima bayi
lelaki itu dari tangan Marni.
 "InsyaAllah Marni, Saya akan menjaga anakmu dan menganggapnya sebagai anak
 kandung sendiri. Jangan khawatir." Lirih Bu Lurah berucap, sebelum Marni kembali terbangun dan pergi sesuka hatinya.
 ***
Satu minggu kemudian, Bu Lurah berpidato di alun-alun, disaksikan oleh seluruh warga.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Warga yang terhormat, dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70 tahun, Saya ingin
menyampaikan beberapa hal mengenai program kerja yang telah dilaksanakan dan yang akan direalisasikan.
 Besar harapan Saya, agar program ini tercapai dan berjalan dengan kemajuan yang
 signifikan. Dan semua tidak akan tercapai, tanpa dukungan dari Bapak-ibu semua."
 Warga yang berkumpul mendengarkan dengan antusias. Dalam hati masing-masing
mereka merasa tidak salah memilih lurah seperti Beliau. Masih muda, cantik, soleha,
 cerdas, keibuan, dan amanah dalam mengemban tugasnya yang terbukti dalam 100 hari setelah terpilih Beliau tidak menunda banyak waktu untuk mensejahterakan warganya. Bu Lurah pun melanjutkan pidatonya.
***
 Program Saya yang pertama adalah, ingin membangun sebuah masjid di tanah tempat
anak Saya, Farouq dilahirkan oleh ibunya. Nama masjid akan sama dengan nama anak
Saya, Al-Farouq.
 Kedua, Saya juga akan membangun lembaga yang nantinya melindungi wanita di desa
 ini tanpa terkecuali. Untuk hal ini Saya sudah meminta kerjasama pada pihak
kepolisian setempat, dan Saya juga meminta kerjasamanya pada seluruh warga.
 Saya mohon! Jika ada masalah seperti yang Marni alami, tolonglah beritahukan kami!
Saya dan tim berjanji, akan memberi hukuman yang setimpal dan sekeras-kerasnya bagi pelaku kejahatan apapun seperti korupsi, narkoba, pembunuhan, KDRT, terutama
pelecehan seksual dan pemerkosaan di desa ini!
 Saya seorang ibu, dan juga memiliki ibu. Karena itulah saya tidak rela, jika ada kaum
perempuan yang tersakiti, tertindas tanpa keadilan seperti Marni! Siapa perempuan yang hadir di sini, tega melihat kaumnya diperlakukan seperti hewan? Siapa yang rela anak
kita, ibu kita, atau saudara-saudara perempuan kita yang diperlakukan seperti itu?
 Mari kita tegakkan HAM seorang perempuan, minimal dari rumah kita sendiri, desa kita sendiri! Ayo kita tegakkan Hak Asasi Marni!
 Jangan sampai ada Marni-marni lain lagi di desa ini! Cukuplah Marni kita yang dulu
 yang mengalaminya!"
***
 Pidato Bu Lurah kali ini menyisakan tangis seluruh warga, termasuk Beliau sendiri.
 Seluruh alun-alun hening tanpa suara, sampai MC memberitahukan acara selanjutnya. Sementara acara terus berlanjut, tak ada yang menyadari di ujung paling belakang
kerumunan warga yang sedang menonton panggung gembira anak-anak, terdapat satu
wanita lusuh tanpa busana menari riang dengan gerakan tak beraturan.

Thursday, May 23, 2019

TERLAMBAT NIKAH? YA NGGAK MASALAH!


Kadang jodoh itu ... yang dikejar-kejar malah menjauh, yang nggak sengaja malah mendekat, yang tadinya pasti jadi ragu, yang tadinya diragukan malah jadi pasti, yang selalu diimpikan tak berujung pernikahan, yang tak pernah diimpikan malah bersanding di pelaminan. (ig nasehat.pernikahan)
“Jodoh itu jorok. Bisa ketemu di mana aja, kapan aja. Jadi kamu ga usah sedih, bingung atau minder cuma gara-gara belum nikah. Yang penting sekarang fokus aja jagain orangtua, jodoh nggak akan ketukar kalau udah waktunya juga kamu pasti bisa nikah. Jodoh, hidup, mati, rejeki udah diatur sama Allah.”
Nasihat pertama saya dapat dari media sosial, sedangkan yang kedua dari saudara-saudara saya. Jadi baiklah, saya pikir dua nasihat itu sudah mewakili pertanyaan para tetangga nyinyir yang sok tahu.
Usia hampir 38 memang rawan, apalagi di saat teman seangkatan banyak yang sudah memiliki tiga anak atau cucu, bahkan ada juga yang sudah menikah lagi. Sering saya berkelakar pada teman yang menikah tidak hanya sekali, “gimana gue mau nikah, stok cowok dihabisin sama loe semua!” dan akhirnya dia pun malu sendiri di skak-mat begitu.
Bukan antipati atau pasrah bahkan malas dan enggan untuk mencari jodoh, karena saya dulu pernah semangat mencari jodoh, tapi mungkin memang sekarang sudah harus diam menunggu jodoh datang sendiri.
Sebenarnya saya tipikal orang yang cuek, tapi sejak kakak dan adik-adik menikah saya jadi berpikir untuk mencari jodoh. Mulai dari sosial media hingga taaruf atau berkenalan langsung bahkan nekat mengajak seorang pria untuk langsung menikah semua sudah saya lakukan, tapi memang mereka bukan jodoh saya ya apa mau dikata?
Saya juga pernah dirayu, disanjung dan dipuja tapi kalau hati enggan menerima ya mau bagaimana lagi, tidak mungkin memaksakan diri jika hati tidak ada kecocokan, kan?
Semua peristiwa pasti ada hikmahnya. Kadang kalau direnungi, saya jadi yakin Allah melindungi saya dari mereka yang hanya memanfaatkan perasaan saya saja. Seperti pernah dan sering saya alami juga, banyak yang datang hanya untuk mengajak ‘kumpul kebo’ atau menguras uang saya saja namun Alhamdulillah Allah selalu menunjukkan kebenarannya dengan bermacam cara sebelum saya jatuh terjerumus lebih dalam lagi.
Dan pada akhirnya, di usia menjelang 38 ini saya jadi sadar, bahwa saya memang belum waktunya berjodoh dengan seseorang. Lagi pula, jika memang tidak berjodoh di dunia, mungkin di akhirat Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk saya.
Saya juga sadar, mungkin saya memang harus memantaskan diri sebelum mendapat jodoh yang pantas untuk saya.
Mata hati saya juga terbuka tentang jodoh, justru melalui keponakan-keponakan di rumah. Saya belum bisa mengambil bahkan meski hanya sedikit hati mereka untuk saya dari orangtuanya.
Dari sekian banyak keponakan, tidak ada satupun yang benar-benar dekat dengan saya. Yang saya rasakan selama ini justru sebaliknya, mereka semakin menjauh, tidak mau terbuka, enggan bicara, bercanda, atau menuruti nasihat saya.
Dari situlah saya berintrospeksi diri, mungkin inilah salah satu alasan saya belum berjodoh. Bagaimana mungkin bisa menikah dan memiliki anak, kalau belum bisa dijadikan panutan bagi semua keponakan?
Disitulah kadang saya selalu bersedih, tapi harus ikhlas menerima untuk tidak memaksakan diri mendekati mereka, walau merekalah sebenarnya sumber semangat hidup saya sekarang.
Biarlah hanya doa yang saya deraskan untuk mereka, walau harus semakin menjauh dan menjauh lagi seiring mereka bertambah dewasa. Mungkin belum saatnya bagi mereka untuk bisa menerima saya sebagai wakil orangtua mereka. Mungkin dan banyak kemungkinan lain yang akan terjadi sesuai harapan, nanti ... jika sudah waktunya.
Namun untuk sekarang, biarlah hanya airmata dan hati yang selalu berkata untuk mereka. Biarlah saya bercengkrama dengan mereka melalui doa dan tatapan mata penuh kasih sayang, saat ini ... ya, semoga hati, sikap, perbuatan dan perkataan mereka menjauh pada saya hanya untuk saat ini saja.
Dan bila waktunya tiba, saat itulah Allah akan mendatangkan suami dan anak-anak sendiri untuk dipeluk, dicium, dididik, dinasihati melalui perbuatan dan ucapan di tiap menit, detik, jam, hari, bulan tahun hingga akhir napas.
Wahai jodohku, datanglah di saat kau yakin sudah diizinkan oleh Allah untuk datang. Jika saat itu tiba, semoga para keponakan pun saat itu juga mendekat sepertimu. Tapi untuk saat ini, biarlah saya dulu yang mendekatkan diri melalui perbuatan yang mencerminkan kasih sayang saya, serta melalui doa di setiap helaan napas ini. Semoga pada akhirnya mereka akan bisa melihat dan menyadarinya.

Wednesday, May 22, 2019

ANAK INDONESIA TIDAK MEMBULLY!

Jasmine Karunia Putri. A 
Liburan akhir tahun telah berakhir, musim panas pun mulai datang. Pohon-pohon terlihat layu, matahari terlihat terik meski waktu masih pagi. Anak-anak semangat kembali ke sekolah, mereka berlarian bersama teman-temannya menunggu bus jemputan.
Kecuali satu anak perempuan, duduk menyendiri di bangku taman dengan rambut merah menutupi wajah. Dia enggan kembali ke sekolah, karena hanya membuatnya semakin takut menghadapi raksasa di sekolah.
“Brak!” Rosa terlonjak kaget, pintu lokernya ditutup kencang oleh seseorang.
“Oi, teman-teman! Lihat nih, ada gigi reges masuk!” Toni, anak berbadan besar itu berteriak, suaranya memenuhi lorong sekolah hingga membuat yang lain menengok dan memerhatikannya.
“Jangan ganggu aku.” Ucap Rosa pelan sambil membalikkan badan, menjauhi Toni. Dia hanya ingin belajar dengan tenang, berteman dan bermain bersama teman-teman walau hanya khayalan.
“Heh, loe udah berani lawan gua, hah? Jangan macam-macam sama gua!” Toni menarik kerah baju Rosa. Dia tidak ingin si gigi reges itu lolos dari cengkeramannya, hingga melingkarkan lengan besarnya ke leher kecil gadis kurus itu.
“Toni, lepaskan aku!” Rosa berusaha melepaskan diri, tapi tenaganya tidak seberapa dibanding anak raksasa itu. Lehernya sudah mulai terasa sakit, buku dalam genggaman berjatuhan dan tangannya berusaha melepaskan tangan besar Toni.
“Lepasin dia, Toni!” matanya sudah berkunang-kunang, ketika mendengar ada yang berteriak. Akhirnya Toni melepaskan lilitan tangan di lehernya, lalu mendorongnya dengan keras hingga menabrak loker dan terjatuh.
“Kenapa, loe mau jadi jagoan di sini? Ayo maju lawan gue, Monyet!” Toni mengeretakkan buku tangan, dia sudah siap hendak menghabisi gadis hitam manis di hadapannya.
Lorong sekolah semakin penuh oleh anak-anak lain. Mereka senang ada tontonan seru di pagi hari. Mereka riuh berteriak, sebagian membela Toni dan lainnya mendukung gadis berambut sarang tawon.
Jasmine tersenyum sinis, melihat lagak sok jagoan teman sekelasnya itu. Dia melempar tasnya di dekat Rosa, lalu mengambil posisi kuda-kuda. Meski sebentar, tapi dia pernah ikut karate di tempat mengajinya.
“Hei, ada apa ini? Siapa yang menyuruh kalian berkelahi pagi-pagi, hah!” Tiba-tiba terdengar suara Bu Huda berteriak. Anak-anak yang berkerumun membubarkan diri, sebagian kecewa karena pertunjukan gagal.
“Kamu tidak apa-apa, Rosa?” Bu Huda berjongkok, menanyakan keadaan anak didiknya itu. Rosa hanya menggeleng lemah, airmatanya masih menetes satu-dua.
“Ada apa ini, Jasmine, Toni?” setelah mendapat jawaban dari Rosa, Guru berhijab lebar itu berdiri dan menyilangkan tangan di dada. Matanya memandang tajam ke arah dua muridnya yang lain bergantian.
Jasmine sudah berdiri seperti biasa lagi, dan Toni menundukkan kepala. Mereka diam ketakutan mendengar nada suara gurunya.
Guru berkacamata itu bergeming menunggu jawaban, tapi anak-anak di hadapannya tetap diam. Sambil melirik jam di tangan, guru cantik itu mendecakkan lidah lalu berkata, “baiklah, karena sekarang sudah jam masuk kelas tapi Ibu belum mendapat jawaban, maka kalian berdua masuk ke ruangan Ibu sekarang juga. Rosa, ayo ikut Ibu ke ruang P3K.”
Rosa berdiri dibantu Bu Huda, sementara Jasmine mengambil tasnya lalu mengikuti Toni berjalan menuju ruangan guru kelas. Mereka masih menundukkan kepala, saat gurunya kembali ke ruangan.
“Nah, Toni, boleh Ibu tahu kejadian sebenarnya?” Guru kelas empat tersebut menatap tajam murid lelakinya. ‘Ayo Toni, bicaralah jujur kali ini.’  Ucap Bu Huda dalam hati.
“Jasmine ... dia nuduh saya ganggu Rosa, Bu. Padahal saya cuma bercanda, kan udah lama nggak ketemu sejak liburan.” Toni menjawab, kepalanya masih tetap menunduk. Jasmine terkejut mendengar jawaban itu. Dia mendongak hendak membantah, tapi kemudian kembali menunduk melihat isyarat Bu Huda agar dia tetap diam.
“Toni, bukankah dulu kamu memang sering ganggu Rosa, kenapa sekarang bisa kangen?”
“Bu Huda, Bu Huda, tolong Buu!” baru saja Bu guru itu bicara satu kalimat, tiba-tiba Mpok Nur petugas kebersihan sekolah membuka pintu ruangan sambil berteriak.
“Ada apa, Mpok?” Bu guru terkejut melihat Mpok Nur panik.
“A-anu, Bu ... Rosa ....”
Guru tersebut ikut panik mendengar nama Rosa disebut. “Iya, Rosa kenapa, Mpok?”
“Rosa hilang, Bu! Dia ... dia ora ada di ruang P3K.” Perempuan paruh baya itu masih terlihat panik, wajahnya pucat seperti melihat hantu. Bu Huda menjadi tidak sabar, dia langsung berlari menuju ruangan P3K dan ternyata Mpok Nur berkata benar.
Bu Huda berlari lagi ke kelas, namun Rosa juga tidak ada di sana. Baru saja guru cantik itu hendak bertanya tentang Rosa pada murid lain, satpam sekolah berteriak memanggilnya.
“Bu, Ibu Huda!”
“Ada apa, Pak? Kenapa panik seperti itu?” Bu Huda heran melihat Pak Indra yang sedang mengatur napas hingga membungkukkan badannya.
“Itu Bu, di-di jalan depan sekolah ... dia bilang sedang sakit, dan sudah izin sama Bu Guru untuk pulang, tapi ... saat menyeberang dia-dia tertabrak mobil!” Mendengar ucapan Pak Indra, Bu Huda langsung melesat ke luar sekolah. Jasmine mengekor di belakangnya, dan Toni juga mau tak mau merasa penasaran dengan anak gigi reges itu.
“Ya Allah, Rosa!” Bu Huda berteriak histeris. Dia tidak percaya melihat anak didiknya sudah tergeletak di tengah jalan, darah mengucur deras dari kepalanya. Guru-guru lain pun menjerit histeris, mereka saling berpelukan namun ada yang sigap mengusir anak-anak yang penasaran ingin melihat.
Semua guru tidak menyadari, ada dua anak yang melihat dengan jelas keadaan Rosa. Jasmine menangis hingga tubuhnya gemetar, sedangkan Toni berdiri kaku ketakutan. Mereka tidak menyangka, Rosa akan berani melakukan hal seperti itu.
Satu bulan berlalu sejak kejadian yang menimpa Rosa, keadaan sekolah Kasih Ibu berangsur membaik kecuali Toni dan Jasmine. Mereka tidak berani menginjakkan kaki di sekolah itu, bahkan Toni memutuskan untuk pindah ke sekolah lain.
“Assalamualaikum?”
“Waalaikumussalam ... Jasmine, tolong bukakan pintu, Nak?” Ibu Fatma menghentikan jahitannya, dia menengok ke arah anaknya yang sedang menggambar sesuatu. Jasmine pun segera bangkit dan membukakan pintu.
“Bu Guru?” Jasmine terkejut, melihat gurunya sudah ada di depan pintu. Dia ragu untuk memberitahukan, tapi Ibunya sudah terlanjur berteriak.
“Siapa yang datang, Jasmine?” Bu Fatma bertanya lagi, kali ini wanita hitam manis itu menghampiri ke ruang tamu.
“Oh, Bu Huda ternyata ... silakan masuk, Bu?”  Wanita penjahit itu mempersilakan guru tersebut masuk, dan duduk sambil tersenyum. Guru dan wali murid itu pun mulai berbincang, sedangkan Jasmine kembali menggambar di ruangan menjahit ibunya.
***
 “Ada apa ya, Bu?” Bu Fatma langsung bertanya begitu mereka sudah duduk.
Bu Huda menarik napas sebelum menjawab pertanyaan Bu Fatma. Wajahnya terlihat letih sebelum akhirnya berkata, “sebelumnya saya minta maaf mengganggu waktu istirahat Ibu, tapi saya khawatir mengenai Jasmine. Bagaimana caranya supaya dia mau masuk sekolah lagi, itu yang ingin saya diskusikan dengan Ibu.”
Bu Fatma termenung mendengar ucapan guru tersebut. Tak lama kemudian wanita berusia 30-an itu tiba-tiba teringat sesuatu. “Sebentar ya, Bu, ada sesuatu yang ingin saya beritahu pada Ibu.” Lalu bangkit menuju ke ruang menjahitnya.
Tak lama kemudian Bu Fatma kembali menemui Bu Huda, dia memberikan beberapa lembar kertas yang isinya ternyata hasil lukisan Jasmine selama dia tidak masuk sekolah.
“Saya baru saja mau menemui Ibu Guru untuk memberitahukan ini. Saya tiap hari selalu berusaha membujuknya untuk kembali sekolah, tapi dia tetap menggelengkan kepalanya, Bu. Dia bilang tidak mau sekolah lagi, dan terus saja menggambar itu semua. Saya jadi berpikir untuk meminta bantuan Ibu supaya mau mengajarinya di rumah.”
Bu Huda tertegun melihat semua gambar Jasmine. Anak didiknya itu hanya menggambar pakaian dengan model yang berbeda-beda, tapi tulisan di dalam gambar pakaian itu yang membuatnya terharu. Dalam setiap pakaian, Jasmine menulis bermacam kalimat motivasi dengan huruf kapital, seperti STOP BULLY TEMAN, ANAK INDONESIA TIDAK MEMBULLY! Dan masih banyak lagi tulisannya yang lain.
Bu Huda menghapus perlahan airmatanya yang turun tiba-tiba. Guru tersebut sadar, peristiwa yang Rosa alami masih membekas di benaknya hingga membuat dia tidak mau sekolah lagi. Namun sang guru masih bersyukur, anak didiknya bisa mengalihkan rasa traumanya dalam bentuk positif dan membuatnya menganggukkan kepala.
“Iya Bu Fatma, tentu saja saya mau. Jasmine anak yang cerdas, Insya Allah dia akan menjadi anak yang bisa membawa perubahan baik bagi orang-orang di sekitarnya. Kalau boleh saya sarankan, Ibu dukung terus Jasmine. Wujudkan gambar-gambar ini menjadi nyata supaya keinginan yang dia tulis ini bisa mengurangi, atau bahkan menghilangkan pembullian di Indonesia.”
Dua wanita di ruang tamu pun saling tersenyum haru sambil memandang Jasmine. Keduanya dalam hati berjanji, akan sama-sama berjuang bersama Jasmine dalam memberantas pembullian dengan caranya masing-masing.
“Boleh saya bicara dengan Jasmine, Bu?” pinta Bu Huda kemudian, yang dijawab dengan anggukan oleh Bu Fatma.
Mereka berdua menghampiri Jasmine, Bu Huda memegang bahunya dan Jasmine mendongak lalu tersenyum.
“Jasmine lagi apa?” tanya Bu Huda sambil duduk bersila di sampingnya.
“Lagi gambar pakaian, Bu.” Jasmine menjawab malu-malu. Dia menunjukkan gambarnya yang sedang diberi warna pada gurunya.
“Masya Allah! Bagus sekali gambar gaunnya, Jasmine. Apa ini tulisannya, tukang bully bukan anak yang keren? Yup, Ibu setuju!”
Bu Huda mengacungkan kedua jempolnya dan tersenyum lebar. Jasmine dan ibunya pun tertawa.
“Tapi lebih keren lagi kalau Jasmine tetap sekolah, mau?” pertanyaan gurunya membuat tawa Jasmine menghilang. Dia lalu menunduk dan menggelengkan kepalanya.
“Jasmine ga mau sekolah lagi, Bu ....” Jawabnya pelan.
Gurunya pura-pura berpikir, “hmm .... memangnya Jasmine tidak kangen sama teman-teman Jasmine?”
Jasmine menggeleng lagi, tapi lalu kembali berkata. “Jasmine maunya belajar di rumah, biar jadi pengusaha pakaian anti bully yang jasmine buat.”
Bu Huda hanya memeluk Jasmine mendengar perkataan itu.