Liburan akhir tahun telah berakhir, musim panas pun mulai datang. Pohon-pohon terlihat layu, matahari terlihat terik meski waktu masih pagi. Anak-anak semangat kembali ke sekolah, mereka berlarian bersama teman-temannya menunggu bus jemputan.
Kecuali satu anak perempuan, duduk menyendiri di bangku taman dengan rambut merah menutupi wajah. Dia enggan kembali ke sekolah, karena hanya membuatnya semakin takut menghadapi raksasa di sekolah.
“Brak!” Rosa terlonjak kaget, pintu lokernya ditutup kencang oleh seseorang.
“Oi, teman-teman! Lihat nih, ada gigi reges masuk!” Toni, anak berbadan besar itu berteriak, suaranya memenuhi lorong sekolah hingga membuat yang lain menengok dan memerhatikannya.
“Jangan ganggu aku.” Ucap Rosa pelan sambil membalikkan badan, menjauhi Toni. Dia hanya ingin belajar dengan tenang, berteman dan bermain bersama teman-teman walau hanya khayalan.
“Heh, loe udah berani lawan gua, hah? Jangan macam-macam sama gua!” Toni menarik kerah baju Rosa. Dia tidak ingin si gigi reges itu lolos dari cengkeramannya, hingga melingkarkan lengan besarnya ke leher kecil gadis kurus itu.
“Toni, lepaskan aku!” Rosa berusaha melepaskan diri, tapi tenaganya tidak seberapa dibanding anak raksasa itu. Lehernya sudah mulai terasa sakit, buku dalam genggaman berjatuhan dan tangannya berusaha melepaskan tangan besar Toni.
“Lepasin dia, Toni!” matanya sudah berkunang-kunang, ketika mendengar ada yang berteriak. Akhirnya Toni melepaskan lilitan tangan di lehernya, lalu mendorongnya dengan keras hingga menabrak loker dan terjatuh.
“Kenapa, loe mau jadi jagoan di sini? Ayo maju lawan gue, Monyet!” Toni mengeretakkan buku tangan, dia sudah siap hendak menghabisi gadis hitam manis di hadapannya.
Lorong sekolah semakin penuh oleh anak-anak lain. Mereka senang ada tontonan seru di pagi hari. Mereka riuh berteriak, sebagian membela Toni dan lainnya mendukung gadis berambut sarang tawon.
Jasmine tersenyum sinis, melihat lagak sok jagoan teman sekelasnya itu. Dia melempar tasnya di dekat Rosa, lalu mengambil posisi kuda-kuda. Meski sebentar, tapi dia pernah ikut karate di tempat mengajinya.
“Hei, ada apa ini? Siapa yang menyuruh kalian berkelahi pagi-pagi, hah!” Tiba-tiba terdengar suara Bu Huda berteriak. Anak-anak yang berkerumun membubarkan diri, sebagian kecewa karena pertunjukan gagal.
“Kamu tidak apa-apa, Rosa?” Bu Huda berjongkok, menanyakan keadaan anak didiknya itu. Rosa hanya menggeleng lemah, airmatanya masih menetes satu-dua.
“Ada apa ini, Jasmine, Toni?” setelah mendapat jawaban dari Rosa, Guru berhijab lebar itu berdiri dan menyilangkan tangan di dada. Matanya memandang tajam ke arah dua muridnya yang lain bergantian.
Jasmine sudah berdiri seperti biasa lagi, dan Toni menundukkan kepala. Mereka diam ketakutan mendengar nada suara gurunya.
Guru berkacamata itu bergeming menunggu jawaban, tapi anak-anak di hadapannya tetap diam. Sambil melirik jam di tangan, guru cantik itu mendecakkan lidah lalu berkata, “baiklah, karena sekarang sudah jam masuk kelas tapi Ibu belum mendapat jawaban, maka kalian berdua masuk ke ruangan Ibu sekarang juga. Rosa, ayo ikut Ibu ke ruang P3K.”
Rosa berdiri dibantu Bu Huda, sementara Jasmine mengambil tasnya lalu mengikuti Toni berjalan menuju ruangan guru kelas. Mereka masih menundukkan kepala, saat gurunya kembali ke ruangan.
“Nah, Toni, boleh Ibu tahu kejadian sebenarnya?” Guru kelas empat tersebut menatap tajam murid lelakinya. ‘Ayo Toni, bicaralah jujur kali ini.’ Ucap Bu Huda dalam hati.
“Jasmine ... dia nuduh saya ganggu Rosa, Bu. Padahal saya cuma bercanda, kan udah lama nggak ketemu sejak liburan.” Toni menjawab, kepalanya masih tetap menunduk. Jasmine terkejut mendengar jawaban itu. Dia mendongak hendak membantah, tapi kemudian kembali menunduk melihat isyarat Bu Huda agar dia tetap diam.
“Toni, bukankah dulu kamu memang sering ganggu Rosa, kenapa sekarang bisa kangen?”
“Bu Huda, Bu Huda, tolong Buu!” baru saja Bu guru itu bicara satu kalimat, tiba-tiba Mpok Nur petugas kebersihan sekolah membuka pintu ruangan sambil berteriak.
“Ada apa, Mpok?” Bu guru terkejut melihat Mpok Nur panik.
“A-anu, Bu ... Rosa ....”
Guru tersebut ikut panik mendengar nama Rosa disebut. “Iya, Rosa kenapa, Mpok?”
“Rosa hilang, Bu! Dia ... dia ora ada di ruang P3K.” Perempuan paruh baya itu masih terlihat panik, wajahnya pucat seperti melihat hantu. Bu Huda menjadi tidak sabar, dia langsung berlari menuju ruangan P3K dan ternyata Mpok Nur berkata benar.
Bu Huda berlari lagi ke kelas, namun Rosa juga tidak ada di sana. Baru saja guru cantik itu hendak bertanya tentang Rosa pada murid lain, satpam sekolah berteriak memanggilnya.
“Bu, Ibu Huda!”
“Ada apa, Pak? Kenapa panik seperti itu?” Bu Huda heran melihat Pak Indra yang sedang mengatur napas hingga membungkukkan badannya.
“Itu Bu, di-di jalan depan sekolah ... dia bilang sedang sakit, dan sudah izin sama Bu Guru untuk pulang, tapi ... saat menyeberang dia-dia tertabrak mobil!” Mendengar ucapan Pak Indra, Bu Huda langsung melesat ke luar sekolah. Jasmine mengekor di belakangnya, dan Toni juga mau tak mau merasa penasaran dengan anak gigi reges itu.
“Ya Allah, Rosa!” Bu Huda berteriak histeris. Dia tidak percaya melihat anak didiknya sudah tergeletak di tengah jalan, darah mengucur deras dari kepalanya. Guru-guru lain pun menjerit histeris, mereka saling berpelukan namun ada yang sigap mengusir anak-anak yang penasaran ingin melihat.
Semua guru tidak menyadari, ada dua anak yang melihat dengan jelas keadaan Rosa. Jasmine menangis hingga tubuhnya gemetar, sedangkan Toni berdiri kaku ketakutan. Mereka tidak menyangka, Rosa akan berani melakukan hal seperti itu.
Satu bulan berlalu sejak kejadian yang menimpa Rosa, keadaan sekolah Kasih Ibu berangsur membaik kecuali Toni dan Jasmine. Mereka tidak berani menginjakkan kaki di sekolah itu, bahkan Toni memutuskan untuk pindah ke sekolah lain.
“Assalamualaikum?”
“Waalaikumussalam ... Jasmine, tolong bukakan pintu, Nak?” Ibu Fatma menghentikan jahitannya, dia menengok ke arah anaknya yang sedang menggambar sesuatu. Jasmine pun segera bangkit dan membukakan pintu.
“Bu Guru?” Jasmine terkejut, melihat gurunya sudah ada di depan pintu. Dia ragu untuk memberitahukan, tapi Ibunya sudah terlanjur berteriak.
“Siapa yang datang, Jasmine?” Bu Fatma bertanya lagi, kali ini wanita hitam manis itu menghampiri ke ruang tamu.
“Oh, Bu Huda ternyata ... silakan masuk, Bu?” Wanita penjahit itu mempersilakan guru tersebut masuk, dan duduk sambil tersenyum. Guru dan wali murid itu pun mulai berbincang, sedangkan Jasmine kembali menggambar di ruangan menjahit ibunya.
***
“Ada apa ya, Bu?” Bu Fatma langsung bertanya begitu mereka sudah duduk.
Bu Huda menarik napas sebelum menjawab pertanyaan Bu Fatma. Wajahnya terlihat letih sebelum akhirnya berkata, “sebelumnya saya minta maaf mengganggu waktu istirahat Ibu, tapi saya khawatir mengenai Jasmine. Bagaimana caranya supaya dia mau masuk sekolah lagi, itu yang ingin saya diskusikan dengan Ibu.”
Bu Fatma termenung mendengar ucapan guru tersebut. Tak lama kemudian wanita berusia 30-an itu tiba-tiba teringat sesuatu. “Sebentar ya, Bu, ada sesuatu yang ingin saya beritahu pada Ibu.” Lalu bangkit menuju ke ruang menjahitnya.
Tak lama kemudian Bu Fatma kembali menemui Bu Huda, dia memberikan beberapa lembar kertas yang isinya ternyata hasil lukisan Jasmine selama dia tidak masuk sekolah.
“Saya baru saja mau menemui Ibu Guru untuk memberitahukan ini. Saya tiap hari selalu berusaha membujuknya untuk kembali sekolah, tapi dia tetap menggelengkan kepalanya, Bu. Dia bilang tidak mau sekolah lagi, dan terus saja menggambar itu semua. Saya jadi berpikir untuk meminta bantuan Ibu supaya mau mengajarinya di rumah.”
Bu Huda tertegun melihat semua gambar Jasmine. Anak didiknya itu hanya menggambar pakaian dengan model yang berbeda-beda, tapi tulisan di dalam gambar pakaian itu yang membuatnya terharu. Dalam setiap pakaian, Jasmine menulis bermacam kalimat motivasi dengan huruf kapital, seperti STOP BULLY TEMAN, ANAK INDONESIA TIDAK MEMBULLY! Dan masih banyak lagi tulisannya yang lain.
Bu Huda menghapus perlahan airmatanya yang turun tiba-tiba. Guru tersebut sadar, peristiwa yang Rosa alami masih membekas di benaknya hingga membuat dia tidak mau sekolah lagi. Namun sang guru masih bersyukur, anak didiknya bisa mengalihkan rasa traumanya dalam bentuk positif dan membuatnya menganggukkan kepala.
“Iya Bu Fatma, tentu saja saya mau. Jasmine anak yang cerdas, Insya Allah dia akan menjadi anak yang bisa membawa perubahan baik bagi orang-orang di sekitarnya. Kalau boleh saya sarankan, Ibu dukung terus Jasmine. Wujudkan gambar-gambar ini menjadi nyata supaya keinginan yang dia tulis ini bisa mengurangi, atau bahkan menghilangkan pembullian di Indonesia.”
Dua wanita di ruang tamu pun saling tersenyum haru sambil memandang Jasmine. Keduanya dalam hati berjanji, akan sama-sama berjuang bersama Jasmine dalam memberantas pembullian dengan caranya masing-masing.
“Boleh saya bicara dengan Jasmine, Bu?” pinta Bu Huda kemudian, yang dijawab dengan anggukan oleh Bu Fatma.
Mereka berdua menghampiri Jasmine, Bu Huda memegang bahunya dan Jasmine mendongak lalu tersenyum.
“Jasmine lagi apa?” tanya Bu Huda sambil duduk bersila di sampingnya.
“Lagi gambar pakaian, Bu.” Jasmine menjawab malu-malu. Dia menunjukkan gambarnya yang sedang diberi warna pada gurunya.
“Masya Allah! Bagus sekali gambar gaunnya, Jasmine. Apa ini tulisannya, tukang bully bukan anak yang keren? Yup, Ibu setuju!”
Bu Huda mengacungkan kedua jempolnya dan tersenyum lebar. Jasmine dan ibunya pun tertawa.
“Tapi lebih keren lagi kalau Jasmine tetap sekolah, mau?” pertanyaan gurunya membuat tawa Jasmine menghilang. Dia lalu menunduk dan menggelengkan kepalanya.
“Jasmine ga mau sekolah lagi, Bu ....” Jawabnya pelan.
Gurunya pura-pura berpikir, “hmm .... memangnya Jasmine tidak kangen sama teman-teman Jasmine?”
Jasmine menggeleng lagi, tapi lalu kembali berkata. “Jasmine maunya belajar di rumah, biar jadi pengusaha pakaian anti bully yang jasmine buat.”
Bu Huda hanya memeluk Jasmine mendengar perkataan itu.

No comments:
Post a Comment