Pemilihan lurah baru telah selesai. Pesta rakyat menyambut kemenangan pun sudah usai, namun ternyata euphoria masih terasa hingga satu bulan berlalu.
"Alhamdulillah ya, sekarang kita punya tetangga lurah."
"Iya, jadi kan enak kalau ada apa-apa, tinggal datang ke rumahnya atau kita WA minta Bu Lurah yang datang ke rumah kita."
Ibu-ibu PKK asik mengobrol, sembari menunggu yang lain sebelum kegiatan rutin PKK dimulai. Ibu Lurah yang mendengar hal itu hanya tersenyum simpul, lalu menanggapinya dengan canda ringan.
"Boleh kok, datang saja ke rumah ... Asal jangan minta makan setiap hari ya, Ibu-ibu?"
"Hahahaha, Ibu Lurah bisa aja." Yang lain pun tertawa mendengarnya.
"Sudah ah bercandanya. Sepertinya yang lain tidak datang, bagaimana kalau kita mulai saja? Nah, tuh Bu RW juga kebetulan sudah datang. Sekarang sudah jam lima, nanti
keburu maghrib deh!" Bu RT yang ikut hadir mengingatkan, dan langsung membuka
acara dengan berdoa bersama lalu membacakan susunan acara.
Langit telah berubah warna menjadi orange, di masjid pun sudah mulai melantunkan
shalawat dan bacaan alquran ketika akhirnya kegiatan rutin para ibu di perumahan selesai. Mereka keluar dari ruangan gedung serba guna, ada yang jalan kaki bersama, ada
pula yang berboncengan dengan sepeda motor.
Bu Lurah, Bu RT, dan Bu RW masih berada di ruangan, membahas program kerja
untuk satu bulan ke depan sekaligus rapat intern menyambut kemerdekaan Indonesia.
***
Matahari baru saja muncul setelah hujan deras semalaman, tapi rumah Bu Lurah sudah kedatangan tamu. Mereka datang dengan alasan berbeda, namun dalam hatinya Bu
Lurah tahu mereka datang untuk menagih janjinya saat kampanye.
"Assalamualaikum, Neng Lurah? Punteun, maaf ya Nenek datang pagi-pagi
ngarepotkeun." Wanita tua berkerudung hijau lumut itu langsung bicara, begitu Bu
Lurah datang menemuinya.
"Iya Nek, tidak apa-apa. Nenek saha namina, siapa namanya, Nek? Aya naon Nenek,
ada apa datang kemari?" Bu Lurah menjawabnya dengan sabar, dan duduk di hadapan wanita dengan sebutan nenek tersebut.
Nenek berkebaya coklat menghela napas sejenak, sebelum mengutarakan maksud
kedatangannya. Nenek itu masih diam untuk beberapa saat, meski begitu Bu Lurah tetap sabar menunggu wanita tua tersebut bicara.
"Nami Nenek, Markonah. Begini Neng Lurah, sebenarnya malu bilangnya ... Tapi kalau gak bilang, Nenek bingung harus bagaimana. Nenek sendirian di rumah, udah gak
punya siapa-siapa."
"Kunaon malu segala, kenapa harus malu atuh, Nek? Sok atuh, ayo cerita aja."
"Begini Neng Lurah, semalam hujan deras kan ya? Nah, rumah Nenek bocor di mana-
mana tapi Nenek tidak tahu harus bagaimana, Neng." Desakan Bu Lurah berhasil
membuatnya bicara.
Bu Lurah mengucap istighfar dalam hati. Dia merasa sangat iba, ternyata masih banyak warga yang menderita seperti Nenek di hadapannya dan mempertanyakan kinerja RT
dan RW di desa nenek itu.
"Ya sudah, nanti sepulang kerja saya mampir ke rumah Nenek. Tunggu saja di rumah,
ya?" Bu Lurah berucap, menenangkan hati orang tua tersebut.
"Nenek ambil ini, untuk kebutuhan di rumah. Cuma sedikit, tapi semoga bermanfaat
buat Nenek." Uang yang Bu Lurah selipkan ke tangan tamunya membuat senyum sang
tamu secerah matahari di luar, ketika mengucap terima kasih dan pamit untuk pulang.
***
Setelah tamu dari kampung sebelah itu pulang, Bu Lurah langsung bersiap-siap hendak berangkat ke kelurahan. Dia sudah merencanakan program kerja yang hendak
dilaksanakan selama sebulan ke depan, dan mengingatkan diri agar tidak lupa mampir
ke rumah nenek Markonah sepulang kerja.
"Pagi, Bu?" sapaan perangkat desa menyambutnya begitu sampai. Bu Lurah langsung
masuk ke ruangannya, lalu tak lama kemudian memanggil anak buahnya untuk rapat.
"Selamat pagi Bapak dan Ibu sekalian. Saya minta semuanya ke sini, semata untuk
membicarakan program awal kerjasama kita selama sebulan untuk membangun desa
yang lebih baik lagi." Bu Lurah diam sesaat sebelum melanjutkan.
"Untuk tahap awal, saya minta kalian bentuk tiga tim. Tim pertama bertugas mendata
masyarakat yang kurang mampu di desa-desa yang masuk ke dalam wilayah kelurahan, dan tim kedua bertugas menangani proses perbaikan jalan di desa-desa tersebut
termasuk pendanaan dan pengukuran jalan, lalu tim ketiga mengurus program E-KTP."
Bu Lurah terdiam lagi. Matanya menatap satu persatu petugas yang ada di kelurahan
untuk melihat ekspresi mereka. Ada yang mengangguk-angguk, ada pula yang sedang
berpikir.
"Sampai di sini, ada pertanyaan?" mereka menjawab pertanyaan Bu Lurah dengan
gelengan kepala, dan Bu Lurah pun melanjutkan.
"Baik, kalau tidak ada pertanyaan kita lanjutkan dengan pembentukan tim. Pertanyaan
boleh diajukan setelah tim terbentuk, dan kalian bisa bekerja sama dengan seluruh RT
serta RW di setiap desa. Untuk sementara rapat selesai, terima kasih atas kerja samanya dan semoga sukses."
Bu Lurah menutup rapat dengan mengucap hamdalah, lalu anak buahnya keluar dari
ruangan satu persatu untuk mulai bekerja. Lurah cantik itu masih mengurus berkas-
berkas beberapa saat lamanya, lalu keluar untuk pergi melihat rumah tamunya tadi pagi.
***
Untuk pergi ke desa sebelah, Bu Lurah mengajak satu orang petugas kelurahan bersamanya. Mereka melewati sawah-sawah yang membentang di kanan dan kiri jalan, lalu
pepohonan besar dengan rumah penduduk yang terpisah cukup jauh dari rumah lainnya.
Bu Lurah yang sedang menikmati pemandangan, tiba-tiba menghentikan mobilnya. Bu Lurah ingin menghentikan seorang lelaki yang sedang menjambak rambut wanita, Bu
Lurah menduga wanita itu istrinya.
"Gua udah sering bilang sama Loe kan, Marni? Setiap Gua minta uang Loe langsung
kasih semua, jangan bilang ga ada atau Gua habisin Loe!"
Bu Lurah mendengar ucapan kasar itu, dan langsung memegang lengan kekar pria yang hendak menampar wanita kurus di hadapan pria itu.
"Heh, siapa Loe? Berani-beraninya ikut campur urusan Gua, pergi Loe dari sini!" lelaki tinggi besar itu melotot pada Bu Lurah. Dia menarik lengan yang terhalang gerakannya, sambil menghardik wanita lembut tersebut.
"Saya Lurah di desa ini, dan ini akan jadi urusan Saya kalau Bapak masih kasar sama
perempuan!" Bu Lurah menjawab tegas pertanyaan pria hitam tersebut. Lelaki itu tidak dapat menutupi rasa terkejutnya, tapi dia hanya meludahi wanita yang masih menangis
tersebut lalu pergi begitu saja.
"Sudah Bu, dia sudah pergi sekarang." Bu Lurah berjongkok, meraih bahu perempuan
kusut itu lalu memeluknya.
"Te-terima kasih ... Bu," perempuan ringkih itu hanya bisa mengucap satu kalimat.
Siapa lelaki tadi, apa dia sering kasar seperti itu?" Bu Lurah langsung bertanya pada
pokok permasalahan.
"Dia suami Saya, Bu. Sikap kasar itu dilakukannya setiap hari, sejak di PHK. Dia selalu minta uang untuk berjudi ...." wanita itu menangis lagi. Bu Lurah mengusap bahunya
untuk menenangkan wanita di dekatnya. Setelah Marni tenang, Bu Lurah segera
melanjutkan perjalanannya.
***
Bulan pertama sebagai lurah telah dilaluinya. Satu persatu program sudah mulai dijalankan. Rumah Nek Markonah hampir selesai diperbaiki, ditambah warung kecil untuk
biaya hidup sehari-hari.
Hari sudah mulai sore, ketika Bu Lurah hendak melihat perkembangan rumah si nenek dan kembali memergoki suami Marni yang sedang mengamuk. Dia memukuli istrinya
dengan sebatang bambu.
"Hentikan! Hei, berhenti atau saya panggil polisi!" Bu Lurah kembali berteriak dan
memegang lengan pria kesetanan itu. Marni berlari dan betsembunyi di balik tubuh Bu Lurah.
"Ngapain Loe ke sini lagi, hah? Udah Gua bilang ini bukan urusan Loe!" suami Marni meneriaki Bu Lurah. Matanya merah seakan hendak keluar dari tempatnya. Dari aroma mulutnya, Bu Lurah tahu lelaki itu sedang mabuk.
"Sekarang ini menjadi urusan Saya, dan bisa Saya pastikan sebentar lagi polisi datang
menangkap Anda!" setelah berkata demikian, Bu Lurah mengeluarkan HP dan
menelepon seseorang.
Bu Lurah mengajak Marni masuk ke dalam mobil, ia memikirkan sesuatu untuk
menyelamatkan Marni dan diutarakannya pemikiran itu pada Marni dan Nek Markonah begitu sampai di rumah ibu sepuh itu.
"Assalamualaikum, Nek? Bagaimana, sudah selesai warungnya?" tanya Bu Lurah pada Nek Markonah yang sedang mengangkat jemuran. Tukang-tukang yang bekerja sudah
pulang beberapa menit yang lalu.
Waalaikumussalam, Neng Lurah. Alhamdulillah saeutik deui, sedikit lagi selesai, Neng. Eleuh, geuning aya Neng Marni?" Nek Markonah terkejut melihat tetangganya berada di belakang Bu Lurah.
"Iya Nek, karena itulah Saya ke sini mau minta tolong sama Nenek, untuk sementara
Marni tinggal di sini dulu, bisa?" Bu Lurah langsung mengutarakan maksudnya. Nek
Markonah terlihat terkejut mendengar penuturan Bu Lurah. Dia tahu bagaimana suami Marni, dan takut membayangkan amukannya namun tidak berkuasa menolak
permintaan wanita yang telah menolongnya.
"Kalau Neng Marni tidak keberatan, Nenek teu nanaon Neng Lurah, tidak apa-apa." Bu Lurah bernapas lega, setelah mendengar persetujuan Nek Markonah dan melihat
anggukan Marni. Setelah itu Bu Lurah tinggal pergi ke kantor polisi.
"Alhamdulillah, terima kasih Nek? Sekarang Saya pamit dulu, besok insyaAllah ke sini lagi. Assalamualaikum." Bu Lurah pamit pada dua wanita beda generasi tersebut.
Hatinya lega, satu masalah sebentar lagi akan segera teratasi tanpa tahu sebenarnya
suami Marni telah merencanakan sesuatu.
***
Malam harinya, Marni dan Nek Markonah telah terlelap ketika tiba-tiba pintu ada yang mendobrak. Nenek malang tersebut tangannya diikat dan mulutnya disumpal,
sedangkan Marni diperkosa secara brutal oleh dua orang bertopeng sarung.
"Tidak! Jangan ... Ampun, sakit!" teriakan Marni memecah malam, seakan menembus bumi dan menarik gugusan bintang. Nek Markonah hanya bisa menangis
melihat semuanya. Bahkan tangisan nenek malang itu tidak juga berhenti, ketika
melihat Marni dengan mata kosong keluar rumah tanpa busana.
Keesokan paginya, Bu Lurah geram sekaligus sedih mendengar cerita Nek Markonah.
Dan bertambah geram ketika mengetahui rumah Marni kosong, suaminya kabur entah
ke mana.
***
Sudah sembilan bulan sejak kejadian itu. Jangankan orang lain, Marni sendiri pun sudah lupa siapa dirinya. Marni selalu berjalan tanpa tujuan dan pakaian, dengan perut
membuncit. Setiap bertemu orang lain dia tertawa keras, tapi ketika melihat anak kecil dia menangis dan saat sedang sendiri Marni mengoceh tak karuan.
Siang ini matahari sedang memancarkan keangkuhannya, ketika tiba-tiba terdengar
suara tangisan bayi di halaman kelurahan. Pamong desa yang mendengar langsung
keluar mencari tahu, dan mereka semua menangis tertahan melihat Marni sedang
terlentang mengangkang dengan bayi di bawahnya.
"Ada ap ... Ya Allah, Gusti!" Ibu Lurah menutup mulutnya melihat pemandangan
mengerikan di depannya. Beliau spontan mendekati Marni perlahan, lalu membelai
rambutnya yang masai. Marni tertawa lebih keras dari biasanya, terlihat tetesan airmata menuruni pipi yang hitam karena debu. Marni kemudian menyerahkan bayi itu pada Bu Lurah.
Bu Lurah mengusap airmatanya yang jatuh. Ia tersenyum kecil, dan menerima bayi
lelaki itu dari tangan Marni.
"InsyaAllah Marni, Saya akan menjaga anakmu dan menganggapnya sebagai anak
kandung sendiri. Jangan khawatir." Lirih Bu Lurah berucap, sebelum Marni kembali terbangun dan pergi sesuka hatinya.
***
Satu minggu kemudian, Bu Lurah berpidato di alun-alun, disaksikan oleh seluruh warga.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Warga yang terhormat, dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70 tahun, Saya ingin
menyampaikan beberapa hal mengenai program kerja yang telah dilaksanakan dan yang akan direalisasikan.
Besar harapan Saya, agar program ini tercapai dan berjalan dengan kemajuan yang
signifikan. Dan semua tidak akan tercapai, tanpa dukungan dari Bapak-ibu semua."
Warga yang berkumpul mendengarkan dengan antusias. Dalam hati masing-masing
mereka merasa tidak salah memilih lurah seperti Beliau. Masih muda, cantik, soleha,
cerdas, keibuan, dan amanah dalam mengemban tugasnya yang terbukti dalam 100 hari setelah terpilih Beliau tidak menunda banyak waktu untuk mensejahterakan warganya. Bu Lurah pun melanjutkan pidatonya.
***
Program Saya yang pertama adalah, ingin membangun sebuah masjid di tanah tempat
anak Saya, Farouq dilahirkan oleh ibunya. Nama masjid akan sama dengan nama anak
Saya, Al-Farouq.
Kedua, Saya juga akan membangun lembaga yang nantinya melindungi wanita di desa
ini tanpa terkecuali. Untuk hal ini Saya sudah meminta kerjasama pada pihak
kepolisian setempat, dan Saya juga meminta kerjasamanya pada seluruh warga.
Saya mohon! Jika ada masalah seperti yang Marni alami, tolonglah beritahukan kami!
Saya dan tim berjanji, akan memberi hukuman yang setimpal dan sekeras-kerasnya bagi pelaku kejahatan apapun seperti korupsi, narkoba, pembunuhan, KDRT, terutama
pelecehan seksual dan pemerkosaan di desa ini!
Saya seorang ibu, dan juga memiliki ibu. Karena itulah saya tidak rela, jika ada kaum
perempuan yang tersakiti, tertindas tanpa keadilan seperti Marni! Siapa perempuan yang hadir di sini, tega melihat kaumnya diperlakukan seperti hewan? Siapa yang rela anak
kita, ibu kita, atau saudara-saudara perempuan kita yang diperlakukan seperti itu?
Mari kita tegakkan HAM seorang perempuan, minimal dari rumah kita sendiri, desa kita sendiri! Ayo kita tegakkan Hak Asasi Marni!
Jangan sampai ada Marni-marni lain lagi di desa ini! Cukuplah Marni kita yang dulu
yang mengalaminya!"
***
Pidato Bu Lurah kali ini menyisakan tangis seluruh warga, termasuk Beliau sendiri.
Seluruh alun-alun hening tanpa suara, sampai MC memberitahukan acara selanjutnya. Sementara acara terus berlanjut, tak ada yang menyadari di ujung paling belakang
kerumunan warga yang sedang menonton panggung gembira anak-anak, terdapat satu
wanita lusuh tanpa busana menari riang dengan gerakan tak beraturan.
No comments:
Post a Comment