Wednesday, May 15, 2019

PERNIKAHAN TERLARANG


Langit sudah terlihat gelap, saat pengajian di rumah tetangga mulai terdengar. Karena rumah kami berhadapan, jadi aku bisa melihat dengan jelas siapa saja yang datang. Aku duduk di bawah pohon besar samping rumah, dan tersenyum melihat anak-anak berlarian, menunggu ibunya yang masih khusyuk mengaji. Namun entah kenapa, tiba-tiba rasa sesak menyeliputi dada dan air mata menetes satu-dua mendengar surat Yaasiin yang dibaca.
“Abang, lagi apa?” tiba-tiba istriku datang menghampiri, membawa sepiring ubi rebus dan teh hangat untukku.
“Ah, nggak, cuma lagi lihat mereka main. Nggak tahu kenapa, rasanya terharu lihat anak-anak itu. Mereka terlihat lucu sekali.”
Istriku ikut melihat ke arah yang kumaksud, dia ikut memerhatikan anak-anak dan ibunya yang masih mengaji.
Abang ngapain sih, seneng banget lihatin tetangga depan? Kan udah ada Neng di sini.” Istriku merajuk, dia berusaha mengalihkan pandanganku dengan menyodorkan teh hangat yang sudah mulai dingin.
Aku menoleh dan tersenyum padanya, supaya rajukannya tidak berlanjut.
“Nggak terasa ya, Bang? Kita udah 40 hari menikah, dan sekarang udah ada jabang bayi di sini.” ucapnya lagi lembut, sambil mengelus perutnya.
Bulu kuduk meremang mendengar ucapannya. Terbayang lagi saat aku dan istriku akhirnya menikah, dan menetap di sini. Aku ingat betul, keluarga besar tidak ada satu pun yang datang ke pernikahan. Aku juga heran, kenapa mereka tidak menyetujui pernikahan ini?
Kupandangi wajah istriku dari samping. Dia terlihat sangat cantik, meski tanpa makeup. Alis yang tebal, bulu mata lentik, hidung bangir ... tidak ada artis yang bisa menyamai kecantikannya.
Bisa dibilang, pohon besar inilah saksi bisu kisah cintaku dengan wanita berkulit putih ini. Aku bertemu pertama kali dengannya di sini, menjalin kasih, menikah dan akhirnya tinggal pun di sini.
Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat itu aku baru saja pulang kerja, melihat dia sedang duduk di tempat ini memakai gaun merah. Kulitnya yang putih, membuat gaunnya seperti darah yang menggenang di atas salju yang pernah kulihat di TV. Aku seperti terhipnotis, mataku tidak bisa lepas memandangnya dan hanya berdiri saja memerhatikan dia yang tersenyum menatap senja.
sejak itulah, setiap pulang kerja aku selalu duduk di sini menemaninya menatap senja lalu menikah. Jangan tanyakan bagaimana dia mau denganku, yang hanya seorang pegawai biasa dan tampang pas-pasan ini. Karena aku pun tidak tahu jawabannya.
Pertama bertemu dengannya, saat itu pula aku mulai sering bertengkar dengan keluarga. Mereka selalu mempertanyakan kepulanganku yang selalu telat, dan sikapku yang berubah menjadi dingin terhadap semuanya.
Apalagi mereka juga tahu, kalau aku sudah di PHK oleh kantor. Awalnya keluarga pikir aku selalu pulang terlambat karena pergi mencari kerja lain. Namun  ketika mereka tahu alasannya, kekhawatiran mulai merekah di hati keluarga. Mereka selalu berusaha memisahkanku dengannya, mulai dengan nasihat panjang lebar hingga cara yang paling ekstreem. Mereka bahkan menganggap aku sudah terkena rayuan setan.
Bagaimana pun, yang namanya cinta biar orang bilang apa tidak akan didengar walau itu keluarga sendiri. Benarlah adanya pepatah yang mengatakan,  jika cinta itu buta karena aku sendiri merasakannya.
“Bang Saleh, kenapa lihatin Neng terus? Jadi malu, nih ....” Cubitan sayang mendarat di pinggang, membangunkanku dari lamunan panjang.
“Malu apa mau?” bisikku mesra, membuatnya makin tersipu malu namun ikut berbisik menyebutkan tiga huruf tersebut. Jawabannya membuat darah berdesir, kugenggam erat jemarinya dan mengajaknya kembali ke rumah.
Suara burung hantu mulai terdengar di atas pohon besar, langit kelam tanpa bulan dan bintang menghiasi. Pengajian di rumah tetangga depan baru saja selesai. anak-anak dan ibunya kembali ke rumah masing-masing membawa besek. Tak lama kemudian, terlihat seorang wanita duduk bersimpuh di bawah pohon besar.
“Alhamdulillah, pengajian udah selesai, Yah. Anak-anak juga udah tidur, mungkin capek karena bermain di luar tadi sejak pengajian dimulai.
Ayah, Ibu dan anak-anak kangen sama Ayah. Mereka tiap malam masih sering tanya tentang Ayah. Kapan Ayah pulang, kok Ayah gak telepon dan pertanyaan lain. Ibu bingung bagaimana harus menjawabnya.
Jujur, Yah, Ibu sendiri saja masih belum percaya Ayah bisa senekad itu. Seharusnya akal dan pikiran Ayah lebih panjang dari Ibu. Sebenarnya kita masih bisa mencari solusi bersama, Ayah bisa cari pekerjaan lain, bukannya putus asa lalu mengakhiri hidup seperti itu.  Ibu juga mau membantu mencari uang, kalau Ayah izinkan.
Ayah nggak tahu sih, omongan tetangga setelah Ayah pergi. Mereka tega banget bilang, kalau Ayah mati gara-gara kepincut hantu penunggu pohon, soalnya cara mati Ayah sama kayak hantu itu. Apalagi mereka sering lihat Ayah ngomong sendiri di sini. Padahal sebenarnya Ayah lagi stress gara-gara di PHK.
Kalau saja Ibu tega sama anak-anak, Ibu pasti juga ikut nekad kayak Ayah. Ditinggal sendirian, nggak ada orangtua, digosipin macam-macam sama tetangga gara-gara Ayah, tapi Alhamdulillah Ibu nggak kayak Ayah. Kasihan anak-anak,  sama siapa mereka hidup nanti kalau kita tinggalin mereka sendirian di dunia?
Maafin Ibu ya, Yah? Ibu masih sedikit menyesali tindakan Ayah, tapi semoga bisa ikhlas meski pelan-pelan. Semoga Ayah tenang di sana, di sini Ibu akan terus berjuang dan berdoa  melawan kehidupan yang sulit ini tanpa Ayah.
O ya, Yah, seminggu setelah Ayah pergi Ibu kerja di rumah Pak Haji Dadang. Gajinya lumayan buat makan sehari-hari, biaya sekolah anak-anak ditanggung sama Pak Haji. Semoga rejekinya semakin nambah dan semakin berkah ya, Yah, orang baik itu.
Ibu pulang ya? Udah malam, takut anak-anak bangun nyariin pas Ibu nggak ada. Insyaa Allah tiap malam Ibu sama anak-anak ke sini, kan dekat, cuma di depan rumah ini kok. Udah Yah, Ibu pamit. Assalamualaikum Ayah, Ibu tetap sayang sama Ayah.”
Wanita berhijab putih itu pun bangun dari duduknya setelah membaca Al-Fatiiha untuk suaminya. Meninggalkan gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan satu nama, Muhammad Saleh bin Ale Aliando.

No comments:

Post a Comment