"Huh, sial amat gua! Dari kemaren cuma dapat tiga orang, gimana bisa makan kalau
begini terus? Duh, jam berapa sih sekarang? Dari tadi kayak bawa matahari di kepala, kemanaperginya angin, ya?" Sunny terus saja menggerutu sambil sesekali mengelap wajah tirusnya yang penuh dengan keringat.
"Nah, ada gorengan tuh! Lumayan deh, buat ganjel perut." Perempuan langsing itu
mempercepat langkah menuju warung yang dilihatnya di ujung jalan. Wanita bergaun pendek itu langsung duduk di bangku panjang dan mencomot pisang goreng yang masih hangat, tangan kirinya ikut sibuk menuang air ke gelas di hadapannya.
" Gowengannya bwewapaan, Mpok?" Sunny berteriak dengan mulut penuh pada
pemilik warung.
"Gratis, kagak usah bayar!" pemilik warung hanya menengok sekilas, lalu menjawab sambil terus menggoreng tahu isi.
Sunny yang sedang minum hampir tersedak mendengar kata gratis. "Serius, Mpok?
Mana ada yang gratis gini hari? Kencing aja bayar!"
"Ini pan hari jumat ye? Nah, gua kalo jumat gratisin dagangan, itung-itung amal dah!"
Mulut yang sudah siap melahap gigitan terakhir menganga lebar. Tangannya terhenti mendengar penjelasan pemilik warung. Dia baru mendengar, ada orang yang berani
rugi hanya untuk beramal. Wanita berambut lurus itu jadi berpikir, apa seharusnya dia juga menggratiskan tubuhnya tiap malam jumat?
Entah kenapa Sunny menjadi ingin mencoba beramal. Namun dia ragu, apakah
manusia kotor sepertinya boleh beramal.
Saat sedang berpikir, tiba-tiba datang seekor anjing kampung mendekatinya. Anjing
itu sangat kurus, bulunya rontok di mana-mana, lidahnya menjulur keluar hingga air
liurnya menetes. Sunny merasa iba melihat anjing itu, dia spontan melepas satu
sepatunya lalu menuang air ke dalamnya.
Anjing itu mengerti. Dia langsung merunduk dan menjilati sepatu Sunny. Setelah
puas minum, anjing tersebut menggonggong seolah berterima kasih lalu pergi. Sunny merasa ada yang aneh setelah kejadian itu. Dia merasa dadanya menjadi hangat. Tidak pernah dia sebahagia ini, bahkan ketika bulan lalu menjadi anak buah mami yang
paling laris sekalipun.
"Mpok, saya pa ..." Sunny menghentikan teriakannya saat hendak pamit. Dia melihat pemilik warung memakai mukena dan shalat. Perempuan paruh baya tersebut kembali teringat masa kecilnya. Dulu dia juga pernah memakai mukena dan shalat, Sunny
masih ingat setiap subuh dan menjelang maghrib berlarian bersama teman-temannya
berlomba siapa yang paling cepat sampai ke langgar.
Tanpa dia sadari airmata menetes di pipinya mengingat masa lalu. Kenapa sekarang
dia tidak pernah melakukannya, apakah sekarang masih boleh melakukan itu? Hatinya berkecamuk.
"Lah, kenapa lu jadi mewek, Neng?" pemilik warung tiba-tiba sudah berada di
sampingnya. Sunny tergesa mengelap airmatanya dan menggeleng. "Gapapa, Mpok ... Cuma ingat masa lalu." jawabnya pelan sambil menggeleng.
***
"Ayo Tari, cepat! Nanti kita terlambat, bisa dihukum Uwak!" teriak nyaring seorang
anak kecil. Dia terus berlari, sesekali menengok ke belakang meneriaki temannya
yang masih tertinggal di belakang.
"Hah, hah, hah ...." tung-gu, aku capek!" yang diteriaki justru berhenti. Tubuhnya
yang mungil membungkuk, napasnya satu-satu.
Anak kecil di depan ikut berhenti. Dia menggeleng-geleng gemas, rambut ekor
kudanya ikut bergoyang ke kanan lalu ke kiri. Akhirnya dia menghampiri Tari dan
menarik lengannya.
"Kamu mau dihukum lagi? Ayo cepat!" Ujarnya tak sabar. Dia tidak mau kena hukum lagi, hanya gara-gara Tari yang lelet, dan selalu kalah kalau berlari.
Akhirnya mereka sampai juga di langgar. Di halaman langgar sudah terlihat teman -
teman yang lain. Mereka sedang bermain ular naga, segera saja hilang lelah mereka
dan langsung mengikuti permainan. Mukena dan alquran yang dibawa disimpan
begitu saja di teras langgar.
"Ular naga panjangnya, bukan kepalang ... Berjalan-jalan selalu riang kemari, umpan yang lezat itulah yang dicari, inilah dia yang terbe ... La ... Kang!"
"Allahhu akbar Allahu akbar!" Baru saja mereka bermain, adzan maghrib sudah
berkumandang. Tari dan teman-temannya yang lain berhamburan, ada yang ke
belakang mengambil air wudhu termasuk Tari, ada pula yang langsung masuk ke
dalam langgar.
Sepuluh menit kemudian suasana sepi. Hanya terdengar alunan ayat suci dari
pengeras suara. Alam pun seakan ikut khusyuk bertasbih memuja penciptaNya. Hanya sesekali terdengar cekikik pelan anak-anak. Namun, tepat ketika imam nengucap
salam tiba-tiba di luar langgar ramai suara orang berteriak.
"Tolong! Ada kebakaran, tolong!"
Semua jamaah shalat berhamburan keluar langgar. Jamaah perempuan sebagian ada
yang tetap di langgar, menghalau anak-anak yang ingin melihat kebakaran. Tari
berhasil, dia berlari keluar dan larinya semakin kencang ketika melihat sumber asap.
"Tari, jangan ke sana, bahaya!" teriakan ibu-ibu tersebut sudah tidak terdengar lagi. Entah bagaimana, rasa takut yang datang tiba-tiba membuat larinya lebih cepat dari
biasa.
"Emak, Abah!" Tari terus berteriak. Dia takut sekali melihat rumahnya hangus
dilalap api. Satu orang tetangga sigap menangkapnya. Dia berontak, menjerit
memanggil kedua orangtuanya. Tari kecil bingung, dengan siapa kini dia hidup.
"Tari, shuut ... Sudah, Nak, sudah. Tari masih ada Mami kok, anak manis jangan
menangis lagi ya?" tetangga yang menangkapnya tadi memeluk erat. Dia membelai
kepala Tari, mencoba menenangkan tangis anak malang tersebut.
Sejak itu Tari kecil tinggal dengan mami. Janda kembang yang baru saja membuka
usaha. Tari kecil tidak tahu apa usaha mami itu, yang dia tahu saat itu pegawai mami perempuan semua, pegawainya cantik-cantik dan semuanya baik. Tari selalu
dibelikan mainan oleh pegawai-pegawai mami. Dia juga dimanja oleh semuanya. Tari kecil bahagia sekali waktu itu, sampai dia beranjak remaja dan menginjak usia tujuh belas tahun.
"Happy birthday, to you ... Happy birthday, to you ... Happy birtday happy birthday,
happy birthday to you!" riuh sorak sorai terdengar dari satu rumah di ujung gang.
Penghuninya semua bergembira, menyambut hari baru bagi seorang gadis. Hari di
mana dia kini sudah terlihat pantas untuk mereguk hidup yang lebih ceria, penuh
warna dan cinta.
Kini Tari yang dulu sudah berganti menjadi kupu-kupu cantik. Kupu-kupu yang siap dinikmati oleh para musang berbulu domba. Dia sudah dianggap mampu menarik
pundi-pundi rupiah dari lelaki berhidung belang. Apa yang dulu Tari terima dari
mami, kini harus dibayar dengan segenap jiwa terutama raganya oleh mami.
"Selamat ya, Sayang? Mami bangga memiliki kamu! Coba lihat? Rambut panjang,
halus, wangi. Dada kamu ... Wow! Lelaki manapun tidak akan sanggup memalingkan wajahnya dari kamu. Pinggul yang aduhai, tubuh tinggi semampai ... Aduh, Mami aja sampai deg-degan!" ucapan beruntun mami membuat jantung Tari juga berdetak lebih cepat. Entah kenapa dia merasa was-was mendengarnya.
"Kenapa, Mi?" Tari hanya bisa bertanya kenapa. Dia bingung melihat tatapan mami
dan semua pegawainya.
Mendengar pertanyaan polos Tari, semua tertawa geli. Bahkan mami sampai
memegang perutnya karena tertawa kencang sekali.
"Aduh Tari, kamu bikin Mami gemas! Udah, sekarang kamu Mami beri izin untuk bersenang-senang. Tuh, Om Banu udah nunggu di mobil." Mami mengalihkan
pembicaraan dan mendorong Tari menuju luar rumah. Dia mencium kedua pipi Tari
lalu berbisik, "jangan bikin Om Banu kecewa ya, Sayang? Dia udah berkorban
banyak banget untuk kamu."
Meski Tari tidak mengerti yang mami maksud, dia tetap menganggukkan kepalanya lalu bergegas menghampiri teman maminya itu. Om Banu tersenyum dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya, lalu bergegas membukakan pintu mobil.
Kupu-kupu yang baru saja keluar dari kepompongnya pun masuk dalam perangkap.
Om yang sudah Tari anggap sebagai ayah kini meminta imbalan atas semua yang
telah dia beri selama ini. Mainan, sepatu, baju, perlengkapan sekolah, semua harus
dibayar dengan madunya. Tari tidak bisa menolak, dia hanya bisa meringis dan
menangis kesakitan. Dia seperti kembali ke saat ketika melihat emak, abah, dan
rumahnya terbakar.
"Udah, Om?" Tari memohon pelan. Dia ingin segera berakhir, dan pulang ke rumah
mami.
"Sebentar lagi, Sayang ... Tunggu ya? Hmm ... Aahhh!"
"Udah ya, Om?" pinta Tari sekali lagi. Kali ini dia yakin omnya akan mengabulkan
permintaannya, karena dia lihat omnya terbaring lelah di sampingnya.
"Iya, Sayang ... Om udah selesai." jawab Om Banu akhirnya sambil menghapus
airmata Tari. Lelaki tua teman mami itu pun tertidur pulas, menghiraukan tangis yang semakin keras dari gadis yatim piatu itu. Dia tidak mengerti, apa yang harus
dilakukannya setelah ini. Apa yang akan dilakukan maminya, jika tahu perlakuan Om Banu kepadanya. Atau jangan-jangan itu yang mami maksud saat berbisik tadi?
***
"Hidup itu kadang di atas, kadang di bawah. Nikmatin aje prosesnye, kagak ada dah
tuh ye manusie nyang luput dari ujian ame dose ... Tinggal gimane kite aje, mau
bertobat ape kagak! Ngerti lu, Neng?" Pemilik warung menasihati Sunny setelah
mendengar ceritanya, lalu kembali beranjak ke dalam warung.
Sunny kembali merenungi nasihat pemilik warung. Bertobat? Apakah bisa, dosa-dosanya selama ini terampuni?
"Neng, maap maap kate ye sebelumnye, Mpok bukannye mau ikut campur urusan
Neng, tapi Mpok cuma kasih saran kali aja Neng mau ... Nih Mpok ada iqro sama
buku tata cara shalat, ambil dah tuh semua buat Neng, kali aja beneran mau tobat.
Mpok doain juga dah, semoga Neng dibukain lagi pintu hatinye ye? tapi inget Nih
Neng, tobat ntu bukan cuma pertamanye aje tapi kagak dilakonin! Abis tobat, Lu
kudu, harus, wajib ngelepas ame Lu buang semua yang jelek terus Lu lakonin dah tuh yang Allah suruh, ye?"
Lagi-lagi Sunny dibuat terkejut hari ini. Dia seperti dibimbing agar pergi ke warung
ini. Mulai dari sedikitnya pelanggan yang datang, panas yang tidak wajar, kaki yang melangkah terlalu jauh dari rute biasanya menuju rumah mami, anjing kurus yang
kehausan, hingga pemilik warung yang banyak membuka nurani terdalamnya hingga terketuk untuk bertobat. Ada apa dengan semua ini, apakah mungkin Allah
menghendaki itu dariku?
Hati Sunny terus bergejolak. Dia masih belum yakin dengan semua petunjuk itu.
Setelah minum segelas lagi, Sunny mengucap terima kasih pada pemilik warung dan memeluknya. Dia bergegas memasukkan iqro dan buku Petunjuk shalat ke dalam
tasnya dan segera pergi.
Di persimpangan jalan, Sunny melihat tukang mainan sedang beristirahat. Sunny
melihat sesuatu yang kembali mengingatkannya pada masa lalu.
"Bang, ini mainan apa namanya?" Sunny langsung bertanya pada abang mainan,
tangannya sudah memegang lingkaran besar yang terbentuk dari lingkaran-lingkaran kecil berwarna coklat. Abang penjual mainan tersenyum dan menjawab, "itu tasbih
buat dzikir, Neng, bukan mainan."
"Dzikir?" Sunny mengerutkan alis, dia seperti pernah mendengar kata itu.
"Dzikir itu artinya mengucap nama Allah, Neng. Siga kieu yeuh ... Kayak begini, Astaghfirrullah al adziim, Subhanallah, Alhamdulillah, Laa illa haa illallah, Allahuakbar!" Abang penjual mainan mencontohkan cara dzikir pada Sunny.
Sunny langsung memberi uang seharga tasbih tersebut pada abang mainan. Dia sudah yakin sekarang, walau masih ada satu hal lagi yang mengganjal hatinya. Dan Allah
menghilangkan ganjalan tersebut seketika itu juga.
"Disewakan, satu ruang kamar tidur khusus putri. Harga nego. Hubungi langsung
nomor 08123456789012 dengan Ibu Hj. Wahyuni." Sunny tersenyum dengan airmata kembali meleleh. Dia sungguh dibuat takjub sekaligus heran dengan semua kejadian yang dialaminya. Tanpa pikir panjang, Sunny langsung menelepon nomor yang tertera.
Setelah selesai menelepon, Sunny melangkah dengan ringan menuju rumah mami.
Hatinya sudah mantap. Dia akan memulai hari baru esok hari, hanya berdua
denganNya selamanya.
Begitu sampai rumah, Sunny langsung menuju kamarnya. Dia memasukkan pakaian
yang dianggapnya pantas, yang ternyata hanya ada tiga baju panjang dan mengambil mukena di lemari. Mukena yang hanya dia pakai setahun sekali, setiap hari raya idul
fitri. Setelah yakin semua siap, dia tinggal turun ke bawah untuk mandi dan sarapan
lalu tidur sampai sore. Malam dia akan berpura-pura berangkat ke tempatnya biasa
menebar pesona pada lelaki cecunguk hidung belang.
Rencana berjalan lancar beberapa jam kemudian. Rumah sudah sepi, Sunny pergi
tanpa kendala sama sekali. Dia langsung berangkat menuju rumah baru untuk
menjalani hidup barunya.
"Permisi, Ibu Wahyuni?" Sunny menyapa ibu pemilik kost. Dia kagum dengannya
begitu bertemu dengan sosok yang dia telepon tadi pagi. Penampilannya sederhana,
namun terlihat keanggunan dan pancaran aura positif yang menyelimutinya.
"Ya betul, saya Ibu Wahyuni. Ini Mbak Sunny, yang tadi pagi telepon saya?" ibu
paruh baya tersebut menjawab dengan senyum manis terkembang. Sunny semakin
kagum melihatnya. Ibu ini sepertinya sebaya dengan mami, tapi cantiknya beda.
Sunny tidak bisa menjelaskannya jika ditanya bagaimana ciri-cirinya.
"Iya Bu, benar. Oh ya, hampir saya lupa. Ini uang sewa untuk satu tahun yang sudah
saya janjikan. Dan Saya minta tolong sekali sama Ibu, jangan beritahu siapapun
tentang saya di sini."
Sunny mengeluarkan amplop coklat dari tasnya dan memberikannya pada Bu
Wahyuni. Wanita berhijab hitam tersebut tersenyum dan menerima amplop yang
terulur. "Alhamdulillah, saya terima ya uangnya? Pesan Nak Sunny Insyaa Allah akan saya jaga dengan baik. Mau masuk sekarang?"
"Terima kasih, Bu." Ucap Sunny. Dia masih terkesima melihat gerakan dan cara
bicara wanita di depannya yang begitu anggun. Beda sekali dengan perempuan-
perempuan yang dia kenal selama ini.
"Mau lihat kamarnya sekarang?" Pertanyaan Bu Wahyuni membuyarkan lamunannya. Sunny mengangguk antusias, lalu mengikuti Bu Wahyuni menuju kamar barunya.
Mata Sunny berkaca-kaca melihat kamar barunya. Ruangan yang kurang lebih hanya berukuran 3x3 meter itu sangat jauh dari mewah, jika dibandingkan dengan kamarnya di rumah mami. Cat dindingnya sudah memudar, dan hanya ada satu lemari serta
meja kayu kecil di sudut dan satu ranjang kecil untuk tidurnya.
"Dulu ini kamar anak saya, tapi sejak dia menikah saya jadi kesepian apalagi setelah
suami meninggal setahun yang lalu. Jadi kamar ini saya sewakan, daripada kosong.
Kalau anak dan cucu datang bisa tinggal di kamar satunya." Jelas Bu Wahyuni.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya suka kok kamarnya. Terima kasih, Bu." Sunny kembali
mengucap terima kasih.
Bu Wahyuni kembali tersenyum pada Sunny. Dia menyerahkan kunci kamar padanya. "Alhamdulillah kalau Nak Sunny suka. Kalau begitu, mulai sekarang Nak Sunny
yang pegang kunci ini. Ibu mau ke kamar, kalau Nak Sunny butuh apa-apa kamar
saya di sebelah kiri sana dan kalau lapar di dapur masih ada sedikit makanan.
Sekarang ini sudah jadi rumah Nak Sunny juga."
Sunny menerima kunci kamar. Setelah Bu Wahyuni pergi, dia menutup pintu kamar
dan langsung duduk di tepi ranjang. Matanya kembali melihat ke seluruh ruangan, dan tanpa terasa air mata bergulir menuruni pipi. "Ini pilihan Gua. Gua akan
menjalaninya dengan sungguh-sungguh." Ucapnya lirih.
***
Hari demi hari telah berlalu. Sunny dibantu Bu Wahyuni kembali belajar mengaji dan shalat. Menghafal surat-surat pendek dilakukannya meski masih terbata. Shalat
sunah pun dia kerjakan tiap sepertiga malam. Kini hari-harinya hanya untuk Sang
Maha Pencipta. Kini Sunny hanya ingin merayu, meninta pengampunan padaNya.
"Ya Allah, Hamba mohon sekali dengan sangat, tolong Hamba Ya Allah! Ampunilah dosa-dosa Hamba selama ini, selamatkan Hamba dari adzab neraka, matikan Hamba
dalam keadaan khusnul khotimah." doanya selalu di tiap sujudnya. Sunny menghiba, memohon pengampunanNya. Dia menangis dalam doanya, tersungkur mencium
sajadah berkali-kali.
"Ya Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha segala - galanya! Ampuni Hamba Ya Allah, jauhkan hamba dari adzab neraka ...."
Semakin mendekatiNya, Sunny semakin takut padaNya. Dia justru makin merasa
tidak pantas menerima pengampunan Allah SWT. Sunny tidak bisa berhenti
menangis, seperti anak kecil yang dimarahi orangtuanya. Rasa takut itu membuatnya enggan beranjak dari sajadah, yang dilakukannya hanya shalat, mengaji, shalat dan
mengaji hingga lupa makan dan minum.
"Ya Allah, hamba tahu ... Hamba memang tidak pantas meminta pengampunan
dariMu, Hamba ikhlas menerima apapun keputusanMu ...." Sunny berbisik lirih di
sujudnya. Dia merasakan kehangatan di kepala, seakan-akan ada yang membelai
kepalanya. Rasa hangat menjalar ke wajah lalu ke seluruh tubuh. Dia merasa sedang
diciumi oleh cahaya yang melingkupi seluruh tubuh. Sunny tersenyum dalam cumbu.
"Nak, ayo makan? Ibu sudah selesai masak nih, Nak ..." Bu Wahyuni membuka pintu kamar, nanun dia melihat Sunny sedang sujud. Entah kenapa, Bu Wahyuni merasa
hatinya tidak enak. Tapi karena Sunny masih shalat, dia kembali menutup pintu.
Matahari semakin bersinar, sudah satu jam lebih Bu Wahyuni menunggu Sunny
keluar namun yang ditunggu tidak kunjung datang. Makanan pun sudah mulai dingin, dia mengkhawatirkan Sunny karena sudah hampir seminggu tidak melihatnya keluar
kamar. Bu Wahyuni pun memutuskan untuk kembali memanggilnya.
"Sunny, ayo keluar dulu! Ibu kok tidak pernah lihat kamu makan, Nak? Nanti kalau
sakit bagaimana?" Bu wahyuni mengetuk pintu kamar Sunny, namun tidak
mendengar suara apapun. Dia kembali membuka pintu dan melihat Sunny masih
bersujud. Perasaan Bu Wahyuni kembali tidak enak, dia pun memegang bahu Sunny dan sedikit mengguncangnya, tapi wanita tersebut tidak bergerak.
"Sunny, Nak? Sunny!" Bu Wahyuni mulai panik. Tubuh wanita yang baru dikenalnya hampir dua bulan itu terguling ke samping. Bu Wahyuni meraba kening yang dingin,
lalu mencoba memeriksa udara yang keluar dari hidung. Wanita itu tidak merasakan embusan udara meski hanya sedikit lantas mencoba memegang nadinya, barulah Bu Wahyuni sadar Sunny sudah tidak bernyawa.
"Innalillahi wainna ilaihi raajiuun!" ucap Bu Wahyuni lirih. Air mata menggenangi
pipinya. Dia memeluk Sunny erat, seperti seorang ibu yang telah kehilangan anak
kandungnya. Saat itulah wanita paruh baya tersebut melihat secarik kertas di atas
meja.
Bu Wahyuni membetulkan posisi Sunny, lalu bergerak perlahan menuju meja dan
membacanya masih sambil terisak.
Bekasi, 10 Februari 2018
Untuk Ibuku, Ibu Wahyuni yang tersayang ....
"Assalamualaikum, Bu? Udah benar belum tulisan salamnya?"
"Bu, Saya sengaja nulis ini karena nggak bisa ngomong langsung. Kalau ngomong
langsung yang ada malah nangis terus, jadi ga selesai-selesai."
"Bu, saya minta maaf ya selama sebulan lebih ini udah ngerepotin Ibu? Saya selalu
banyak tanya soal agama sama Ibu."
"Saya juga mau ngucapin terima kasih banyak banget ke Ibu, karena udah jadi Ibu
pengganti yang benar-benar memperlakukan saya seperti anak kandung sendiri. Saya bahagia bisa ketemu Ibu. Melalui Ibu saya jadi kenal Allah, bahkan sudah merayunya berkali-kali. Walau tidak tahu apakah rayuan itu berhasil lolos dari adzabNya atau
tidak."
"Alhamdulillah, saya bisa berubah setelah mengenal dan menyayangiNya, Bu. Doain saya ya Bu, semoga bisa diampuni segala dosa yang sudah saya lakukan selama ini."
"Saya pamit, Bu. Terima kasih atas segalanya, tapi maafin saya belum bisa membalas semuanya. Sekarang saya cuma mau dekat denganNya. Semoga diampuni semua dosa- dosa saya. Aamiin!"
"Bu, kalau berkenan saya mau minta tolong sekali lagi, boleh? Saya ingin nanti
dimakamkan dengan nama asli saya di pemakaman umum, biar Ibu bisa datang
jenguk dan doain saya. Saya udah siapin biayanya di dalam laci meja. Salam kenal
untuk anak dan cucu Ibu, maafin saya belum sempat mengenal mereka tapi sudah
merepotkan orang yang mereka sayangi.
Salam sayang selalu, dari anakmu yang berlumur dosa ....
Mentari Suryaningsih.
No comments:
Post a Comment